Jangan Biarkan Anak Timur Tertinggal di Era AI

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 29 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Jangan Biarkan Anak Timur Tertinggal di Era AI

Tual,Kabarsulsel-Indonesia.web.id.

Oleh: Golkarianus Ubra, S.Pd, CPSE, Guru SMA Negeri 1 Tual

Perubahan teknologi berlangsung begitu cepat. Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dahulu terasa seperti bagian dari film fiksi ilmiah, kini telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. AI digunakan untuk mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membantu menulis, menganalisis data, membuat gambar, bahkan mendukung proses pembelajaran di sekolah.

Namun, di tengah kemajuan tersebut, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah semua anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan memanfaatkan teknologi AI? Jawabannya belum.

Di berbagai daerah di Maluku, Papua, dan wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), masih terdapat anak-anak yang harus belajar dengan keterbatasan jaringan internet, perangkat komputer, listrik, bahkan fasilitas sekolah. Sementara di wilayah lain, peserta didik sudah terbiasa menggunakan perangkat digital dan berbagai aplikasi AI dalam pembelajaran.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan teknologi. Ini adalah persoalan keadilan pendidikan.

Anak-anak di Timur Indonesia memiliki potensi yang sama untuk menjadi ilmuwan, guru, dokter, programmer, pengusaha, peneliti, maupun pemimpin masa depan. Mereka memiliki rasa ingin tahu, kreativitas, kecerdasan, dan kemampuan untuk berkembang. Yang sering kali membedakan bukan kemampuan mereka, melainkan kesempatan untuk memperoleh akses dan pengalaman belajar yang memadai.

Karena itu, jangan sampai letak geografis menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk mengenal dunia digital.

AI Bukan Milik Anak Kota

Kita perlu mengubah cara pandang bahwa AI hanya milik sekolah-sekolah yang memiliki laboratorium komputer lengkap atau berada di kota-kota besar. AI seharusnya menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan, termasuk sekolah-sekolah di kepulauan Maluku dan Papua.

Pengenalan AI kepada peserta didik tidak harus selalu dimulai dengan perangkat mahal atau pembelajaran pemrograman yang rumit. Guru dapat memperkenalkan konsep berpikir komputasional, logika, pemecahan masalah, literasi digital, etika penggunaan teknologi, serta cara memanfaatkan AI secara bijak.

Bahkan ketika fasilitas terbatas, pembelajaran dapat dirancang secara kreatif. Guru dapat menggunakan metode unplugged coding, simulasi sederhana, kerja kelompok, bahan cetak, atau berbagi perangkat secara bergantian. Yang terpenting adalah memastikan bahwa anak-anak tidak menjadi generasi yang hanya menjadi penonton ketika revolusi AI berlangsung.

Guru Adalah Jembatan Perubahan

Dalam menghadapi era AI, guru memiliki peran yang sangat strategis. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, karena informasi dapat diperoleh dengan cepat melalui teknologi. Namun, guru tetap memiliki peran penting dalam membimbing peserta didik untuk berpikir kritis, memilah informasi, membangun karakter, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Guru di Maluku dan Papua juga harus diberi kesempatan yang sama untuk meningkatkan kompetensi digital. Pelatihan AI dan coding tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar. Program peningkatan kompetensi guru harus menjangkau sekolah-sekolah di daerah kepulauan, pedalaman, dan wilayah 3T.

Pemerintah Pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas pendidikan perlu membangun kolaborasi. Kebutuhan sekolah di Timur Indonesia harus dipetakan secara nyata. Jangan hanya memberikan perangkat, tetapi memastikan perangkat tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan.

Laptop tanpa internet tidak cukup. Internet tanpa listrik yang stabil juga tidak cukup. Teknologi tanpa guru yang terlatih pun tidak akan menghasilkan perubahan maksimal.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem pendidikan digital yang utuh.

Pemerataan Bukan Sekadar Membagi Perangkat

Pemerataan pendidikan digital harus melampaui program pembagian komputer atau penyediaan jaringan internet. Kita membutuhkan kebijakan yang memperhatikan kondisi geografis dan sosial setiap daerah.

Sekolah-sekolah di wilayah kepulauan membutuhkan konektivitas yang sesuai dengan karakter wilayahnya. Sekolah di daerah terpencil membutuhkan dukungan listrik dan perangkat pembelajaran. Guru membutuhkan pelatihan yang berkelanjutan. Peserta didik membutuhkan konten digital yang relevan dengan kehidupan mereka.

Di sinilah pentingnya menghadirkan teknologi yang kontekstual.

Anak Maluku dapat belajar AI melalui persoalan lingkungan laut, perikanan, perubahan cuaca, pariwisata, budaya, dan kehidupan masyarakat kepulauan. Anak Papua dapat mengembangkan ide teknologi yang berkaitan dengan lingkungan, kesehatan masyarakat, pertanian, kehutanan, dan potensi daerahnya.

Dengan demikian, teknologi tidak membuat anak Timur meninggalkan identitasnya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk mengangkat potensi daerah ke tingkat Nasional bahkan Global.

Jangan Menunggu Semua Sempurna Kita tidak boleh menunggu sampai seluruh sekolah memiliki fasilitas yang sempurna baru memulai pendidikan AI dan coding. Perubahan harus dimulai dari apa yang tersedia.

Jika tersedia satu komputer, manfaatkan untuk pembelajaran kolaboratif. Jika internet terbatas, guru dapat mengunduh materi dan menggunakannya secara luring. Jika perangkat belum memadai, konsep coding dapat diperkenalkan melalui aktivitas tanpa komputer.

Yang paling berbahaya bukan keterbatasan fasilitas semata, tetapi hilangnya keberanian untuk memulai.

Anak-anak Timur Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Mereka harus dipersiapkan menjadi pencipta, pemecah masalah, dan inovator.

Pada akhirnya, pembangunan pendidikan bukan hanya tentang membangun gedung sekolah. Pembangunan pendidikan adalah tentang memastikan setiap anak, di mana pun ia dilahirkan, memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Era AI tidak boleh menjadi era yang memperlebar jarak antara Barat dan Timur Indonesia. Sebaliknya, era AI harus menjadi momentum untuk mempersempit kesenjangan tersebut.

Jangan biarkan anak Timur tertinggal.

Berikan mereka akses.

Berikan mereka kesempatan.

Latih gurunya.

Bangun infrastrukturnya.

Kembangkan literasi digitalnya.

Dan yang paling penting, percaya bahwa mereka juga mampu.

Sebab masa depan Indonesia tidak hanya lahir dari pusat-pusat kota. Masa depan Indonesia juga sedang tumbuh di pulau-pulau kecil Maluku, di tanah Papua, di desa-desa terpencil, dan di sekolah-sekolah yang hari ini mungkin masih berjuang dengan keterbatasan.

Jika teknologi adalah kendaraan menuju masa depan, maka jangan biarkan anak-anak Timur berdiri di pinggir jalan hanya karena mereka lahir jauh dari pusat kemajuan. Pendidikan yang adil adalah pendidikan yang memastikan semua anak mendapatkan kesempatan untuk ikut berjalan menuju masa depan.... semoga !!!

(Elang)