Bayang-Bayang Dualisme KONI Mimika: Peringatan Dianu Omaleng soal Konflik, Transparansi, dan Nasib Atlet
Mimika, KabarsulselIndonesia.web.id | Riak dualisme di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mimika mulai menampakkan gejala yang tak bisa lagi dianggap sepele. Di tengah tarik-menarik kepentingan yang belum sepenuhnya terang, suara kritis datang dari pemerhati sosial dan olahraga, Dianu Omaleng. Ia mengingatkan, konflik organisasi yang dibiarkan berlarut berpotensi menggerus fondasi pembinaan olahraga di daerah.
“Masalah ini bukan sekadar perebutan struktur. Ini menyangkut arah dan masa depan olahraga Mimika,” ujar Dianu kepada wartawan, Sabtu [02/05].
Menurut dia, perbedaan klaim kepengurusan baik dari pihak lama maupun yang mengatasnamakan kepengurusan baru semestinya diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang sah. Bukan dengan saling melempar narasi di ruang publik yang justru memperkeruh suasana.
Dalam situasi yang belum sepenuhnya jelas, Dianu melihat adanya kecenderungan spekulasi berkembang liar, termasuk tudingan intervensi pihak ketiga. Ia menilai, klaim semacam itu belum memiliki dasar kuat dan berisiko memperbesar konflik.
“Kalau setiap pihak membangun opini sendiri tanpa pijakan yang jelas, konflik ini akan melebar ke mana-mana. Yang dirugikan bukan hanya organisasi, tapi juga masyarakat olahraga,” katanya.
Ia mendorong agar kedua kubu segera membuka ruang dialog yang jujur dan setara. Keterlibatan pihak netral seperti akademisi atau tokoh Masyarakat dinilai penting untuk memecah kebuntuan sekaligus menjaga objektivitas proses penyelesaian.
Namun, lebih dari sekadar rekonsiliasi, Dianu menekankan urgensi transparansi administratif. Kejelasan terkait surat keputusan (SK) kepengurusan, menurutnya, adalah titik krusial yang tak bisa ditawar. Tanpa itu, legitimasi akan terus diperdebatkan dan membuka ruang tafsir yang berbahaya.
“Kalau legalitasnya kabur, konflik ini tidak akan pernah selesai. Semua pihak akan merasa paling benar,” ujarnya.
Di tengah pusaran konflik, ada satu pihak yang nyaris tak bersuara: para atlet. Dianu mengingatkan, ketidakpastian organisasi berpotensi menghentikan program pembinaan, mengganggu persiapan, bahkan mematahkan semangat mereka yang sedang berjuang di arena kompetisi.
Ironisnya, kata dia, perhatian publik justru lebih tersedot pada konflik elit organisasi ketimbang nasib atlet yang menjadi tujuan utama keberadaan KONI.
Ia juga menyoroti peran media sosial yang kerap menjadi arena baru pertarungan narasi. Alih-alih meredakan situasi, saling serang di ruang digital justru mempercepat eskalasi konflik dan mengikis kepercayaan publik.
“Media sosial bukan ruang penyelesaian masalah. Di sana, yang menang seringkali bukan kebenaran, tapi siapa yang paling keras bersuara,” kata Dianu.
Bagi Mimika yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung atlet di Papua konflik internal KONI adalah kemunduran yang tak perlu. Dianu mengingatkan, jika tidak segera diselesaikan, dualisme ini bukan hanya soal organisasi, melainkan ancaman nyata bagi keberlanjutan prestasi olahraga daerah.
“Persatuan itu bukan slogan. Ia harus dijaga dalam praktik. Kalau tidak, kita sedang membuka jalan bagi kemunduran yang kita ciptakan sendiri,” ujarnya.
Peringatan itu menjadi relevan di tengah absennya kepastian. Hingga kini, publik masih menunggu kejelasan: siapa yang sah, siapa yang diakui, dan ke mana arah pembinaan olahraga Mimika akan dibawa. Di antara tarik-menarik kepentingan, satu hal menjadi pasti waktu terus berjalan, dan atlet tidak bisa menunggu.
Writter : Elang Key | Editor : Den

























Komentar via Facebook