Kawal Harga dan Mutu, Kepala Kampung Werba Utara Turun Tangan Jaga Marwah Pala Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 08 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Kawal Harga dan Mutu, Kepala Kampung Werba Utara Turun Tangan Jaga Marwah Pala Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah denyut perdagangan pala yang tak pernah benar-benar sunyi di Fakfak, sebuah langkah sederhana namun sarat makna terjadi di Kampung Werba Utara. Kepala Kampung Septian Hindom tak sekadar menyatakan dukungan di balik meja.

Ia turun langsung ke lapangan, menyambangi sentra-sentra pembelian, berbincang dengan petani dan pengepul, lalu menempelkan sendiri pamflet Surat Edaran Bupati Fakfak tentang penetapan harga pala mentah berkualitas.

Langkah itu mungkin tampak biasa. Namun di wilayah yang menggantungkan harapan pada harum rempah warisan leluhur, tindakan tersebut menjadi penegasan: kebijakan tak boleh berhenti sebagai dokumen resmi. Ia harus hadir, dipahami, dan dijalankan di tengah masyarakat.

Surat Edaran Bupati Fakfak Nomor 500.8/249/BUP/2026 menetapkan harga pembelian pala mentah berkualitas pala tua betul, matang sempurna, dan dipetik tepat waktu. Kebijakan ini bukan semata soal angka dalam transaksi, melainkan instrumen untuk membangun disiplin mutu dan tata niaga yang sehat.

“Penetapan harga ini bukan hanya tentang jual beli. Ini tentang keberlanjutan pala Fakfak,” ujar Septian.

Menurutnya, harga yang jelas dan berpihak pada kualitas akan mendorong petani memanen pada waktu yang tepat, menjaga standar mutu, sekaligus memperkuat posisi tawar di pasar.

Di satu sisi, petani berhak mendapatkan harga layak atas kerja dan kesabaran mereka merawat pohon pala hingga matang sempurna.

Di sisi lain, pelaku usaha berhak memperoleh komoditas dengan standar mutu yang terjaga. Keseimbangan hak dan kewajiban inilah yang ingin dirawat melalui kebijakan tersebut.

Septian mengingatkan, reputasi pala Fakfak tidak dibangun dalam sehari. Ia adalah akumulasi ketekunan generasi demi generasi yang menjaga kualitas dan aroma khas rempah ini hingga dikenal luas. Mengorbankan mutu demi keuntungan sesaat, menurutnya, sama saja dengan mencederai warisan yang telah lama dijaga.

“Jangan sampai kepentingan jangka pendek merusak nama baik pala unggulan daerah. Apa yang sudah diwariskan orang tua kita harus kita rawat bersama,” katanya.

Karena itu, sosialisasi edaran bupati tidak berhenti pada pertemuan formal. Pemerintah Kampung Werba Utara aktif mengajak petani dan pelaku usaha berdialog, memastikan mereka memahami standar yang ditetapkan serta manfaat jangka panjangnya.

Di titik-titik pembelian pala tempat transaksi berlangsung cepat dan sering kali tanpa banyak tanya pamflet edaran kini terpampang jelas sebagai pengingat bersama.

Lebih jauh, Septian menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah kampung, pemerintah kabupaten, petani, dan pelaku usaha. Menurutnya, kemajuan sektor pala tak bisa dicapai bila masing-masing berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi kunci agar tata niaga berlangsung transparan, adil, dan berkelanjutan.

“Kami di Pemerintah Kampung Werba Utara siap terus bersinergi mendukung kebijakan ini. Harus ada keseimbangan antara kepentingan petani sebagai penghasil dan pelaku usaha sebagai mitra pemasaran, sehingga semua mendapatkan manfaat yang adil,” ujarnya.

Langkah proaktif ini menjadi contoh bahwa menjaga marwah pala Fakfak bukan sekadar retorika. Ia menuntut kehadiran, ketegasan, dan komitmen nyata di lapangan.

Dari Werba Utara, pesan itu mengalir: kualitas adalah kehormatan, harga adalah penghargaan, dan pala Fakfak adalah kebanggaan yang harus dijaga bersama.

Di tengah dinamika pasar yang kerap tak menentu, gerakan kecil yang konsisten bisa menjadi fondasi besar. Sebab pada akhirnya, harum pala bukan hanya tentang aroma rempah melainkan tentang martabat dan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup padanya.

 

Writter & Editor : Den