Musim Panen Timur Berakhir, Kualitas Pala Fakfak Jadi Taruhan Menuju Panen Barat
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Musim panen pala timur di Fakfak memasuki penghujungnya. Di sejumlah kebun, buah-buah terakhir dipetik dari ranting-ranting yang selama beberapa bulan menjadi tumpuan penghidupan masyarakat.
Namun, berakhirnya musim panen bukanlah akhir dari aktivitas para pekebun. Justru pada masa inilah persiapan menuju musim panen pala barat mulai dilakukan.
Menandai berakhirnya musim panen pala timur pada Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan menggelar panen bersama sisa hasil pala di Kelompok Pangwadar, Distrik Kokas.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi simbol penutupan musim panen, tetapi juga momentum untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi pala Fakfak yang telah lama dikenal sebagai komoditas unggulan daerah.
Di tengah berkurangnya produksi akibat berakhirnya musim panen, sejumlah pohon pala masih menyisakan buah yang siap dipetik.
Pada saat yang sama, sebagian tanaman telah memasuki fase pembungaan dan pembentukan buah baru sebagai persiapan menghadapi musim panen pala barat yang diperkirakan berlangsung mulai Oktober mendatang.
Bagi masyarakat pekebun, masa transisi ini memiliki arti penting. Selain menjadi waktu untuk merawat tanaman, periode tersebut juga menentukan kualitas hasil panen pada musim berikutnya.
Pekebun pala asal Kokas, Radani Iha, mengatakan hasil panen tahun ini masih memberikan harapan bagi masyarakat meskipun produksi mulai menurun di penghujung musim. Menurutnya, kualitas pala sangat ditentukan oleh perawatan kebun dan ketepatan waktu panen.
“Buah pala yang dipanen pada saat matang petik akan menghasilkan biji dan fuli yang lebih baik, memiliki aroma yang kuat, serta nilai jual yang lebih tinggi,” ujarnya.
Radani mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kebersihan kebun dan merawat tanaman yang sedang memasuki fase pertumbuhan buah. Menurut dia, keberhasilan panen mendatang sangat ditentukan oleh perlakuan terhadap tanaman pada masa sekarang.
“Pala Fakfak adalah sumber penghidupan masyarakat. Karena itu harus dijaga bersama, mulai dari pohonnya hingga hasil pascapanennya,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan pekebun lainnya, Mace Blak. Ia menilai fase pembungaan dan pembuahan merupakan periode yang sangat menentukan keberhasilan panen pala barat.
Menurut Mace, masyarakat perlu menghindari praktik panen muda maupun aktivitas yang berpotensi mengganggu pertumbuhan buah.
Sebab, gangguan pada tanaman yang sedang berbuah dapat menyebabkan buah mudah gugur, pertumbuhannya tidak sempurna, bahkan menurunkan produktivitas pohon pada musim berikutnya.
“Kalau tanaman yang sedang berbuah tidak dijaga, dampaknya bukan hanya pada hasil panen tahun ini, tetapi juga pada produksi di masa mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T, menegaskan bahwa menjaga mutu dan kualitas Pala Tomandin Fakfak merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat pekebun.
Menurutnya, pala Fakfak memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari daerah lain, baik dari segi aroma, cita rasa, maupun kualitas. Keunggulan tersebut, kata dia, hanya dapat dipertahankan melalui pola budidaya yang baik dan disiplin dalam menerapkan waktu panen yang tepat.
Widhi menjelaskan bahwa pada masa pembungaan dan pembuahan seperti sekarang, tanaman pala membutuhkan kondisi yang stabil agar proses pertumbuhan berlangsung optimal. Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan panen terlalu dini ataupun tindakan yang dapat merusak ranting produktif serta bunga yang sedang berkembang.
“Panen muda tidak hanya menurunkan kualitas biji pala, tetapi juga dapat mempengaruhi produktivitas tanaman dalam jangka panjang. Buah yang dipetik sebelum mencapai tingkat kematangan yang ideal umumnya menghasilkan biji dengan mutu rendah dan aroma yang tidak maksimal,” katanya.
Ia berharap seluruh masyarakat pekebun dapat menjaga kebun pala dengan baik hingga memasuki musim panen barat beberapa bulan mendatang.
Dengan demikian, kualitas Pala Tomandin Fakfak tetap terjaga dan mampu mempertahankan reputasinya sebagai salah satu komoditas rempah unggulan Indonesia.
Di tengah berakhirnya musim panen timur, harapan baru kini tumbuh di antara bunga-bunga pala yang mulai bermekaran. Bagi masyarakat Fakfak, setiap musim bukan sekadar siklus pertanian, melainkan bagian dari warisan ekonomi dan budaya yang telah menghidupi generasi demi generasi. Menjaga kualitas pala hari ini berarti menjaga masa depan Fakfak pada musim-musim yang akan datang.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook