Burung Besi Terbang" Tak Kunjung Mengudara, Publik Tagih Penjelasan Bupati Mimika soal Pesawat Rp85,8 Miliar
"Burung Besi Terbang" Tak Kunjung Mengudara, Publik Tagih Penjelasan Bupati Mimika soal Pesawat Rp85,8 Miliar
TIMIKA Kabarsulselindonesia.web.id – Di tengah sorotan atas minimnya transportasi udara menuju wilayah pedalaman Kabupaten Mimika, pertanyaan publik kini mengarah pada nasib dua armada udara milik Pemerintah Kabupaten Mimika, yakni pesawat Cessna Grand Caravan dan helikopter yang hingga kini belum juga difungsikan untuk melayani masyarakat.
Kondisi tersebut memicu tanda tanya besar, terutama setelah berbagai persoalan pelayanan di wilayah pegunungan menjadi perhatian nasional. Sejumlah kalangan menilai pemerintah daerah perlu segera memberikan penjelasan terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Tokoh masyarakat yang akrab disapa RP mendesak Bupati Mimika untuk menyampaikan klarifikasi secara transparan mengenai kendala yang menyebabkan kedua armada tersebut belum beroperasi.
"Kalau memang ada masalah, Bupati Mimika harus menjelaskan kepada masyarakat secara terbuka agar tidak membingungkan publik. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan," kata RP di Timika, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, apabila persoalan tersebut terus didiamkan dan kedua pesawat tidak segera difungsikan, maka publik akan berasumsi terdapat masalah besar yang hingga kini belum mampu diselesaikan oleh pemerintah daerah.
RP menegaskan, penjelasan mengenai kondisi armada udara tersebut sangat penting mengingat pengadaannya menggunakan uang rakyat dengan nilai yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp85,8 miliar. Sejak awal, keberadaan pesawat Cessna Grand Caravan dan helikopter itu diperuntukkan bagi pelayanan masyarakat, khususnya warga di daerah terpencil yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat.
"Pesawat-pesawat itu dibeli dengan uang rakyat. Tujuan utamanya untuk membantu pelayanan masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau. Karena itu masyarakat berhak mengetahui persoalan apa yang sebenarnya terjadi," tegasnya.
Ia pun melontarkan pertanyaan yang kini menjadi kegelisahan banyak warga Mimika.
"Masyarakat ingin tahu, persoalan apa yang menyebabkan besi-besi burung terbang itu tidak bisa terbang?" ujar RP.
Desakan transparansi ini muncul di tengah meningkatnya kebutuhan transportasi udara bagi masyarakat pedalaman Mimika yang selama ini sangat bergantung pada akses penerbangan untuk memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, maupun distribusi logistik.
Publik kini menunggu sikap dan penjelasan resmi Pemerintah Kabupaten Mimika terkait nasib dua armada udara yang telah menelan anggaran puluhan miliar rupiah tersebut. Sebab, bagi masyarakat, pesawat itu bukan sekadar aset pemerintah, melainkan simbol kehadiran negara dalam menjangkau warga yang berada di wilayah paling terpencil.
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook