Farid Mahubessy Dorong Transformasi Digital RSUD Fakfak, Pasien Kini Bisa Daftar Tanpa Antre
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Ruang tunggu rumah sakit kerap menjadi tempat lahirnya keluhan. Bukan karena pasien tidak mendapat pelayanan medis, melainkan karena terlalu lama menunggu sebelum pelayanan itu dimulai.
Fenomena tersebut menjadi salah satu perhatian utama manajemen RSUD Kabupaten Fakfak. Hasil observasi internal menunjukkan bahwa sekitar 73 persen pasien rawat jalan masih harus menunggu lebih dari 60 menit sebelum memperoleh pelayanan. Penyebabnya bukan semata pada proses pendaftaran, melainkan pada pengelolaan alur perjalanan pasien yang belum sepenuhnya efisien.
Berangkat dari kondisi itu, RSUD Kabupaten Fakfak memperkenalkan sebuah inovasi pelayanan berbasis digital bernama SI CESA yang menjadi bagian dari budaya pelayanan SI CEPAT SANTUN. Sistem ini dirancang untuk memangkas tahapan administratif yang selama ini menjadi sumber antrean panjang dan waktu tunggu pasien.
Direktur RSUD Kabupaten Fakfak, Farid F. Mahubessy, S.Kep., M.A.R.S., mengatakan pelayanan kesehatan modern tidak lagi hanya berbicara tentang dokter, obat, atau fasilitas kesehatan. Yang tak kalah penting adalah bagaimana pengalaman pasien sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit.
“Sering kali masyarakat tidak mengeluhkan tindakan medis yang diterima, tetapi proses sebelum mendapatkan pelayanan tersebut. Karena itu kami membangun sistem yang mampu membuat pelayanan lebih cepat, lebih mudah, dan lebih nyaman,” ujarnya dalam pemaparan inovasi pelayanan rumah sakit.
Melalui SI CESA, RSUD Fakfak mengubah pendekatan pelayanan dari yang sebelumnya berorientasi pada proses administrasi menjadi pelayanan yang berpusat pada kebutuhan pasien. Sistem ini mengintegrasikan konsep Patient Flow Management, yakni pengelolaan alur perjalanan pasien secara terukur sejak kedatangan hingga memperoleh pelayanan medis.
Dalam sistem baru tersebut, pasien peserta BPJS yang telah menggunakan Mobile JKN tidak lagi diwajibkan mengantre di loket pendaftaran. Mereka cukup melakukan registrasi melalui Anjungan Pendaftaran Mandiri, melakukan verifikasi biometrik atau barcode, mencetak Surat Eligibilitas Peserta (SEP), lalu langsung menuju poli tujuan.
Perubahan yang lebih signifikan terjadi pada pasien umum, khususnya peserta Program Pengobatan Gratis dan Medical Check Up. Jika sebelumnya mereka harus melalui serangkaian tahapan administrasi yang memakan waktu, kini proses itu disederhanakan menjadi dua langkah utama: registrasi melalui aplikasi SI CESA dan verifikasi saat tiba di rumah sakit sebelum langsung menuju poli pelayanan.
Menurut Farid, penyederhanaan alur tersebut merupakan inti dari konsep Patient Flow Management. Rumah sakit berupaya menghilangkan tahapan yang tidak memberikan nilai tambah bagi pasien sehingga waktu pelayanan menjadi lebih efektif.
Untuk memastikan sistem berjalan sesuai target, RSUD Fakfak menetapkan standar waktu pada setiap tahapan pelayanan. Penyambutan pasien ditargetkan maksimal dua menit, proses skrining dua menit, registrasi lima menit, verifikasi biometrik tiga menit, pencetakan SEP dua menit, dan pengantaran ke poli lima menit.
Dengan standar tersebut, keseluruhan proses registrasi ditargetkan selesai dalam waktu tidak lebih dari 15 menit. Langkah ini diharapkan mampu mendukung pencapaian Standar Pelayanan Minimal rumah sakit dengan waktu tunggu pelayanan kurang dari satu jam.
Inovasi SI CESA juga menjadi implementasi Proyek Perubahan yang dijalankan Farid Mahubessy dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I di Makassar. Proyek tersebut dikembangkan sebagai solusi konkret atas tantangan pelayanan yang selama ini dihadapi rumah sakit daerah.
Namun lebih dari sekadar aplikasi pendaftaran, SI CESA dibangun di atas enam nilai utama yang dirangkum dalam akronim SANTUN: Sigap, Akurat, Nyaman, Terukur, Unggul, dan Nyata. Keenam nilai tersebut menjadi fondasi dalam penyusunan standar operasional pelayanan sekaligus arah budaya kerja baru di lingkungan RSUD Fakfak.
Implementasinya melibatkan berbagai unsur rumah sakit mulai dari petugas pendaftaran, customer service, agen SI CESA, petugas rekam medis, tenaga teknologi informasi, hingga jajaran manajemen pelayanan rawat jalan.
Seluruhnya bekerja melalui integrasi sistem informasi rumah sakit, perangkat biometrik, barcode scanner, jaringan internet, dan aplikasi digital yang saling terhubung.
Bagi RSUD Fakfak, transformasi pelayanan ini bukanlah garis akhir. Sistem yang diluncurkan hari ini justru diposisikan sebagai fondasi awal menuju digitalisasi pelayanan kesehatan yang lebih luas.
Farid menegaskan bahwa inovasi akan terus dikembangkan melalui evaluasi dan penyempurnaan berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar memenuhi target proyek perubahan, melainkan menghadirkan pelayanan kesehatan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Yang kami bangun bukan hanya sebuah sistem, tetapi budaya pelayanan baru. Budaya yang menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan," kata Farid.
Jika berjalan sesuai harapan, SI CESA dapat menjadi salah satu tonggak penting transformasi layanan kesehatan di Kabupaten Fakfak. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu hadir dalam bentuk gedung megah atau alat kesehatan canggih, melainkan melalui keberanian mengubah cara melayani masyarakat.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin cepat dan transparan, RSUD Fakfak mencoba menjawabnya dengan satu pesan sederhana: rumah sakit yang baik bukan hanya tempat mengobati penyakit, tetapi juga tempat yang menghargai waktu dan kenyamanan setiap pasien.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook