Mega Kapaur Tembus 50 Besar Nasional Young Ambassador Agriculture 2026, Pala Tomandin Fakfak Menuju Panggung Indonesia

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 19 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Mega Kapaur Tembus 50 Besar Nasional Young Ambassador Agriculture 2026, Pala Tomandin Fakfak Menuju Panggung Indonesia

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Sebuah kabar menggembirakan datang dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Mega Kapaur, generasi muda daerah itu, berhasil menembus 50 besar nasional dalam ajang Young Ambassador Agriculture, Duta Brigade Pangan, dan Duta Polbangtan/PEPI Tahun 2026. Ia lolos setelah melalui proses seleksi ketat yang diikuti ratusan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

Capaian tersebut menempatkan Mega sebagai salah satu representasi anak muda Papua Barat yang bersaing di panggung nasional sektor pertanian dan perkebunan. Tahap lanjutan seleksi dijadwalkan berlangsung di Bogor pada 19–23 Mei 2026.

Pada momentum itu, ia membawa misi yang tak sekadar personal, melainkan juga kultural dan ekonomi: mengangkat hilirisasi Pala Tomandin Fakfak sebagai komoditas unggulan daerah.

Young Ambassador Agriculture merupakan program yang digagas oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui inisiatif Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS).

Program ini dirancang untuk mendorong lahirnya wirausaha muda di sektor pertanian dan perkebunan, sekaligus menjawab tantangan regenerasi petani dan transformasi pertanian menuju sistem yang modern, inovatif, serta berdaya saing tinggi.

Dalam program tersebut, peserta tidak hanya dinilai dari gagasan bisnis, tetapi juga dibekali penguatan kapasitas yang komprehensif. Pelatihan kepemimpinan, public speaking, pemasaran digital, hingga pendampingan pengembangan usaha menjadi bagian dari proses pembinaan.

Program ini juga membuka ruang jejaring nasional, memperluas akses pasar, serta mendorong inovasi bisnis berbasis komoditas lokal. Sasaran utamanya adalah generasi muda berusia 19–39 tahun yang bergerak di bidang kewirausahaan pertanian.

Mega memilih mengangkat Pala Tomandin Fakfak sebagai fokus gagasan hilirisasi. Komoditas ini bukan sekadar hasil kebun, melainkan simbol sejarah panjang perdagangan rempah di wilayah Papua Barat. Nilai ekonominya terus berkembang, sementara nilai budayanya melekat kuat dalam identitas masyarakat setempat.

Melalui pendekatan hilirisasi yang menekankan pengolahan bernilai tambah Mega berupaya menghadirkan pala bukan hanya sebagai bahan mentah, melainkan sebagai produk inovatif yang mampu menembus pasar yang lebih luas.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Sejak awal proses seleksi, dinasnya disebut memberikan pendampingan dan dukungan intensif agar perwakilan Fakfak mampu bersaing di tingkat nasional.

Menurutnya, partisipasi dalam ajang ini bukan semata soal kompetisi, melainkan momentum strategis untuk memperkenalkan potensi unggulan daerah. Ia menilai keberhasilan Mega menembus tahap lanjutan menjadi penanda bahwa generasi muda Fakfak memiliki kapasitas untuk tampil di ruang-ruang nasional dengan membawa identitas lokal yang kuat.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa arah pembangunan perkebunan ke depan bertumpu pada regenerasi petani, pemanfaatan teknologi, dan penguatan hilirisasi produk. Dalam konteks itu, Pala Tomandin Fakfak memiliki posisi strategis baik secara historis, ekonomi, maupun budaya yang layak dipromosikan melalui berbagai forum nasional bahkan internasional.

Lolosnya Mega Kapaur ke tahap seleksi lanjutan di Bogor diharapkan menjadi lebih dari sekadar prestasi individual. Ia berpotensi menjadi pintu masuk bagi penguatan promosi komoditas unggulan Fakfak, sekaligus mempertegas posisi daerah tersebut dalam peta agribisnis nasional berbasis inovasi dan kewirausahaan muda.

Di tengah tantangan regenerasi sektor pertanian, kisah ini menghadirkan secercah optimisme: bahwa dari wilayah paling timur Indonesia, lahir anak muda yang percaya pada tanahnya sendiri dan berani membawanya ke panggung nasional.
 

Writter & Editor : Den