Malam Badonci Penutup Satu Abad GPM Galala-Hative Kecil, Raja Galala Dan Hative Kecil: Dua Negeri Satu Jemaat, Persaudaraan Melampaui Jarak Dan Generasi

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 05 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Malam Badonci Penutup Satu Abad GPM Galala-Hative Kecil, Raja Galala Dan Hative Kecil: Dua Negeri Satu Jemaat, Persaudaraan Melampaui Jarak Dan Generasi

AMBON,Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Malam Badonci yang berlangsung di bawah JMP Desa Galala, Jumat (4/9/2026), menjadi penutup rangkaian syukur 100 tahun Jemaat GPM Galala-Hative Kecil (Gatik). Acara ini sekaligus menjadi momen puncak kebersamaan warga dua negeri yang menyatu dalam satu jemaat, dihadiri oleh basudara yang pulang dari berbagai penjuru negeri hingga mancanegara.

Raja Negeri Galala: Kebersamaan Kunci Keberhasilan Membangun Negeri Harus Bahu-Membahu

Kepala Desa sekaligus Raja Negeri Galala, Mike Joris, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan melihat antusiasme warga yang luar biasa selama rangkaian peringatan satu abad ini.

"Malam ini adalah kebersamaan yang sangat luar biasa — malam terakhir dari rangkaian pelaksanaan satu abad. Kita bisa melihat bakat anak-anak kita dalam pentas seni, dan antusiasme masyarakat sungguh luar biasa. Inilah yang membuat acara ini sukses," ujarnya.

Ia memberi pesan mendalam bahwa membangun negeri bukan tugas pimpinan semata.

"Saya berpesan: membangun sebuah negeri bukan saja dari pimpinan, bukan saja dari staf, tetapi semua masyarakat harus bahu-membahu untuk membangun negeri ini bersama-sama," tegas Raja Mike Joris.

-Raja Negeri Hative Kecil: Dua Negeri Satu Jemaat, Fenomena Unik yang Dirangkai dengan Kebersamaan

Sementara itu, Raja Negeri Hative Kecil, Josias Johan Muryani, mengungkapkan makna istimewa dari penyatuan dua negeri dalam satu jemaat sesuatu yang tidak dimiliki negeri lain.

"Ada negeri yang di dalamnya ada beberapa jemaat, tetapi kami di sini — dua negeri, satu jemaat. Kondisi ini kami bangun dalam kebersamaan. Sebelumnya kami sudah melakukan banyak penelitian literatur tentang bagaimana sampai terbentuk menjadi satu jemaat," ungkapnya.

Ia menambahkan, panggilan akrab "Gatik" kini terdengar di mana-mana, dan yang menyentuh hati adalah kedatangan basudara dari jauh negeri.

"Kalau di gereja kita sebut Galala-Hative Kecil, tapi orang bilang 'Gatik, panggil pulang'. Dan sungguh  basudara datang bukan hanya dari Maluku Lease, tetapi dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Manado, bahkan Irlandia dan Belanda! Kami sangat bangga dan terkesan. Mereka sudah jauh, sudah jadi warga negeri lain, tapi tidak lupa tempat di mana mereka berasal," kata Raja Josias dengan haru.

-Puncak Syukur Badonci, Ramah Tamah dan Persaudaraan Pela Gandong

Malam Badonci ini menjadi puncak acara sekaligus perpisahan hangat, karena keesokan harinya para basudara kembali ke tempat kerja masing-masing. Raja Josias juga menyoroti peran penting hubungan Pela Gandong.

"Kami juga melibatkan Pela Gandong  Galala dengan Hitu Lama, Hative dengan Hitu Mesing. Kami berkolaborasi dalam penyambutan tamu maupun rangkaian acara. Bahkan malam ini mereka pun hadir dan bersenang-senang bersama kami," jelasnya.

-Warisan Sejarah untuk Generasi Mendatang

"Satu abad ini sejarah yang panjang. Mungkin nanti negeri lain bisa menyusul, tapi momen ini harus diabadikan dalam foto dan cerita. Karena menuju abad kedua, mungkin kita semua sudah tiada. Momen ini harus menjadi sejarah yang dilihat anak cucu bahwa pada tanggal 2 September 2026, orang-orang tua kita merayakan satu abad dengan penuh kebersamaan," pesannya.

"Kepada seluruh basudara yang datang, terima kasih. Kehadiran kalian adalah bentuk kepedulian dan cinta terhadap negeri asal kita. Mari kita jaga persaudaraan ini untuk abad-abad berikutnya," tutup Raja Josias Johan Muryani.

(M.N)