GELOMBANG KRITIK MENERPA YUSTINIANUS TEBAI, PEMUDA MIMIKA DESAK EVALUASI KEPEMIMPINAN

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 03 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

GELOMBANG KRITIK MENERPA YUSTINIANUS TEBAI, PEMUDA MIMIKA DESAK EVALUASI KEPEMIMPINAN

GELOMBANG KRITIK MENERPA YUSTINIANUS TEBAI, PEMUDA MIMIKA DESAK EVALUASI KEPEMIMPINAN

TIMIKA Kabarsulselindonesia.web.id — Gelombang kritik terhadap kepemimpinan Yustinianus Tebai di lingkungan kepemudaan Provinsi Papua Tengah semakin menguat. Sejumlah elemen pemuda di Kabupaten Mimika bahkan mendesak agar kepemimpinannya dievaluasi, menyusul munculnya tudingan bahwa pola kepemimpinannya justru memicu perpecahan di antara organisasi kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan.

Kritik tersebut mencuat dari keresahan sejumlah pemuda Mimika yang menilai konsolidasi kepemudaan di daerah selama ini dibangun melalui kerja bersama antarlembaga, mulai dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), kelompok Cipayung, hingga berbagai organisasi kemasyarakatan.

Menurut mereka, persatuan pemuda semestinya menjadi fondasi utama dalam membangun Papua Tengah, bukan justru menjadi ruang yang memperlebar perbedaan dan konflik internal.03/10/2026

Salah satu perwakilan pemuda asal Kabupaten Mimika, Dianu Omaleng, melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Yustinianus Tebai.

  “Setiap wadah persatuan yang dipimpin oleh pemuda di Mimika justru dinilai mengalami perpecahan akibat tindakan satu orang. Kalau berbicara tentang persatuan pemuda, maka harus dibuktikan melalui sikap dan kerja nyata, bukan hanya melalui ceramah atau pernyataan,” tegas Dianu.»

Ia menilai seorang pemimpin pemuda seharusnya mampu menjadi jembatan bagi berbagai kelompok, terutama ketika terdapat perbedaan pandangan di antara OKP maupun organisasi masyarakat.

Menurutnya, legitimasi kepemimpinan tidak cukup dibangun melalui klaim sebagai tokoh pemersatu. Kepemimpinan harus terlihat dari kemampuan merawat komunikasi, membuka ruang dialog, serta menjaga agar organisasi kepemudaan tidak terjebak dalam konflik kepentingan.

“Jangan sampai berbicara seolah-olah telah mempersatukan pemuda di delapan kabupaten se-Provinsi Papua Tengah, sementara di tingkat daerah justru muncul keresahan dan perpecahan. Ini yang harus dievaluasi,” ujarnya.

DESAK MUNDUR JIKA TAK MAMPU JAGA PERSATUAN

Kritik tersebut kemudian berkembang menjadi desakan agar Yustinianus Tebai mempertimbangkan pengunduran dirinya apabila dinilai tidak lagi mampu menjalankan fungsi sebagai pemersatu pemuda.

“Kalau memang tidak mampu menjadi pemersatu, lebih baik mundur. Pemuda Papua Tengah membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul, bukan memperlebar jarak antarkelompok,” tegasnya.

Para pemuda juga mengingatkan bahwa dinamika organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tidak boleh berubah menjadi konflik yang merusak hubungan antarpemuda dan menghambat agenda pembangunan daerah.

Bagi mereka, Papua Tengah membutuhkan organisasi kepemudaan yang kuat, kritis, independen, dan mampu menjadi mitra pemerintah sekaligus pengawas kebijakan publik.

Karena itu, setiap pemimpin pemuda dituntut menunjukkan keteladanan, keterbukaan dan kemampuan mengelola perbedaan.

MENUNGGU KLARIFIKASI YUSTINIANUS TEBAI

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh tanggapan atau klarifikasi resmi dari Yustinianus Tebai terkait berbagai kritik dan desakan mundur yang disampaikan sejumlah pemuda Mimika tersebut.

Klarifikasi dari pihak Tebai penting untuk memberikan perspektif yang berimbang sekaligus menjelaskan duduk persoalan sebenarnya di balik munculnya kritik tersebut.

Sebab, persoalan kepemudaan di Papua Tengah bukan semata soal siapa yang memimpin, melainkan bagaimana kepemimpinan tersebut mampu menjaga persatuan, mengelola perbedaan, dan memastikan organisasi kepemudaan tetap menjadi kekuatan sosial yang konstruktif.

Editor: Bruce Elang