Danrem 182/JO dan Patriot Unpad Menata Masa Depan Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Danrem 182/JO dan Patriot Unpad Menata Masa Depan Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Fakfak memiliki kekayaan alam. Tetapi kekayaan tidak selalu identik dengan kesejahteraan.

Di antara bentang alam, kampung-kampung dan potensi ekonomi yang tersebar di wilayah ini, masih ada satu pekerjaan besar: mengubah sumber daya menjadi kekuatan masyarakat.

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Padjadjaran (Unpad) datang membawa gagasan itu.

Di Makorem 182/JO, Rabu, 9 September 2026, gagasan tersebut menemukan ruang dialog bersama Danrem 182/JO Kolonel Inf Irwan Budiana, S.E., M.M., M.Han. Pertemuan ini bukan sekadar agenda kunjungan. Ia menjadi titik temu antara pengetahuan perguruan tinggi, kekuatan kewilayahan dan kebutuhan pembangunan masyarakat.

Tim TEP Unpad menawarkan lima bidang yang hendak dirajut menjadi satu ekosistem kesejahteraan: air, energi, pangan, sumber daya manusia dan digital.

Lima kata itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya terdapat persoalan besar yang menentukan masa depan sebuah daerah.

Air, misalnya, bukan hanya soal ketersediaan. Ia menyangkut bagaimana sumber air dipetakan, dimanfaatkan dan dijaga agar tetap tersedia bagi masyarakat.

Energi bukan semata soal penerangan. Ia adalah bahan bakar bagi aktivitas ekonomi.

Pangan bukan hanya perkara produksi. Ia menyentuh ketahanan dan kemandirian masyarakat.

SDM bukan sekadar jumlah penduduk terdidik. Ia menyangkut kemampuan manusia mengelola potensi yang ada di sekelilingnya.

Sedangkan digitalisasi bukan sekadar koneksi internet. Teknologi harus menjadi jalan baru menuju pendidikan, pelayanan publik, pemasaran dan pasar yang lebih luas.

Di situlah gagasan Ekspedisi Patriot Unpad menjadi menarik: lima sektor tersebut tidak diperlakukan sebagai program yang berdiri sendiri, melainkan sebagai mata rantai.

Jika air tersedia, pangan dapat tumbuh.

Jika energi memadai, kegiatan ekonomi dapat bergerak.

Jika manusia memiliki keterampilan, potensi dapat diolah.

Jika teknologi tersedia, produk lokal dapat menembus pasar yang lebih luas.

Dan jika seluruhnya terkoneksi, kesejahteraan tidak lagi menjadi sekadar slogan pembangunan.

Danrem Membuka Ruang Kolaborasi

Danrem 182/JO Kolonel Inf Irwan Budiana bersama jajaran Korem menyambut pemaparan Tim TEP Unpad mengenai program ekspedisi yang diarahkan untuk membangun ekosistem kesejahteraan masyarakat berbasis potensi lokal.

Hadir dalam pertemuan tersebut Letkol Inf Eko Handono, Letkol Inf Ahmad Nasudin, Mayor Cku Netto, Kapten Alin Anwar dan Kapten Frengky.

Dari TEP Unpad hadir Edi, Achmad Buchori, Heksa, Prof Edward selaku dewan pembina profesor, Ashal dan Faizal dari tim ahli kewirausahaan.

Pertemuan kemudian berkembang menjadi diskusi mengenai potensi wilayah, kebutuhan masyarakat dan dukungan terhadap pelaksanaan program di Kabupaten Fakfak.

Bagi Danrem Irwan Budiana, kehadiran tim akademisi tersebut membuka peluang untuk memperkuat sinergi di tingkat kewilayahan.

Perguruan tinggi membawa riset dan pengetahuan. Pemerintah membawa kebijakan. Masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal. Sementara TNI memiliki jaringan kewilayahan yang dekat dengan masyarakat.

Keempatnya dapat menjadi kekuatan jika diletakkan dalam satu meja.

Fakfak membutuhkan model pembangunan yang tidak hanya datang dengan proyek, tetapi pulang meninggalkan kemampuan.

Itulah tantangan sekaligus peluang yang kini terbuka melalui Ekspedisi Patriot Unpad.

Mengubah Potensi Menjadi Daya Hidup

Selama ini potensi daerah kerap berhenti pada angka, peta dan daftar komoditas.

Pala disebut unggulan. Laut disebut kaya. Tanah disebut subur. Energi disebut melimpah.

Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: berapa banyak potensi itu benar-benar berubah menjadi nilai tambah bagi masyarakat?

Ekspedisi Patriot Unpad mencoba masuk ke ruang pertanyaan tersebut.

Pendekatannya adalah integrasi.

Potensi air dipetakan. Potensi energi diidentifikasi. Sektor pangan diperkuat. Kapasitas manusia ditingkatkan. Teknologi digunakan untuk membuka akses baru.

Dengan pendekatan itu, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima program, tetapi sebagai pelaku utama ekosistem yang hendak dibangun.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah ekspedisi bukan seberapa banyak tempat yang dikunjungi.

Bukan pula seberapa tebal laporan yang dihasilkan.

Ukuran keberhasilannya adalah apakah setelah tim pergi, masyarakat memiliki sesuatu yang tetap hidup.

Pengetahuan yang bertambah. Keterampilan yang meningkat. Produk yang memiliki pasar. Sumber air yang lebih terkelola. Energi yang lebih tersedia. Pangan yang lebih kuat. Dan teknologi yang benar-benar digunakan.

Pertemuan di Makorem 182/JO pada Rabu siang itu pun menjadi salah satu pintu masuk menuju gagasan tersebut.

Danrem 182/JO dan Tim Ekspedisi Patriot Unpad memperlihatkan satu hal: membangun Fakfak tidak cukup dengan melihat apa yang dimiliki daerah ini.

Yang lebih penting adalah menghubungkan seluruh potensi itu agar bekerja untuk masyarakat.

Dari air hingga digital.

Dari kampung hingga pasar.

Dari pengetahuan hingga kesejahteraan.

Sebab potensi terbesar Fakfak bukan hanya apa yang tersimpan di tanah, laut dan hutannya. Potensi terbesarnya adalah manusia yang mampu mengubah semuanya menjadi masa depan.
 

Writter & Editor : Den