Bupati Fakfak: 132 Tahun Misi Katolik Menjadi Jejak Peradaban dan Persaudaraan di Papua
Bupati Fakfak Samaun Dahlan Bersama Sekda Papua Barat Ali Baham Temongmere
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Bupati Fakfak Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP menegaskan bahwa perjalanan 132 tahun misi Katolik di Tanah Papua bukan hanya catatan sejarah gereja, melainkan bagian penting dari pembangunan peradaban dan kemanusiaan di Papua.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri puncak Perayaan Syukuran 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang berlangsung di Pulau Bonyom, Distrik Fakfak Tengah, Sabtu, 23 Mei 2026.
Di hadapan ribuan umat dan tamu undangan, Samaun menyebut gereja telah memainkan peran besar dalam membangun masyarakat Papua, terutama melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pembentukan nilai-nilai sosial yang menjaga persaudaraan antarmasyarakat.
“Ini bukan sekadar perayaan iman. Sejarah misi Katolik telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban Papua,” kata Samaun.
Menurut dia, kehadiran para misionaris sejak akhir abad ke-19 telah membawa perubahan besar bagi masyarakat Papua. Gereja, kata dia, tidak hanya hadir untuk pelayanan rohani, tetapi juga membuka akses pendidikan dan pelayanan sosial bagi masyarakat di wilayah-wilayah terpencil.
Momentum syukuran tersebut juga dirangkaikan dengan satu tahun tahbisan episkopal Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru. Samaun menilai, selama setahun memimpin Keuskupan Timika, Bernardus menunjukkan perhatian kuat terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian di Papua.
Ia menyebut gereja tetap menjadi salah satu kekuatan moral yang berperan menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Papua saat ini.
Dalam kesempatan itu, Samaun turut menyoroti filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang selama ini melekat sebagai identitas masyarakat Fakfak. Filosofi tersebut menggambarkan kehidupan harmonis antarumat beragama yang hidup berdampingan dalam semangat saling menghormati.
“Perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Fakfak mengajarkan bahwa keberagaman justru menjadi kekuatan untuk hidup bersama,” ujarnya.
Menurut Samaun, nilai toleransi yang tumbuh di Fakfak harus terus dijaga sebagai warisan sosial yang lahir dari sejarah panjang masyarakat Papua. Ia menilai semangat persaudaraan lintas agama menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas dan kedamaian daerah.
Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua dihadiri sejumlah tokoh pemerintah, pemimpin gereja, anggota DPR Papua Barat, unsur MRP, tokoh adat, dan tokoh agama dari berbagai wilayah di Papua Barat.
Bagi masyarakat Fakfak, perayaan tersebut bukan hanya seremoni keagamaan, tetapi juga pengingat bahwa Papua dibangun di atas nilai keterbukaan, pelayanan, dan persaudaraan yang telah diwariskan lintas generasi.
Writter : Rilis | Editor : Den

























Komentar via Facebook