Pangkur Sagu di Kayauni, Menjaga Pangan dari Dusun

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 23 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pangkur Sagu di Kayauni, Menjaga Pangan dari Dusun

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah dorongan pemerintah memperkuat ketahanan pangan, masyarakat Distrik Kayauni masih menjaga satu sumber pangan yang telah lama menghidupi mereka: sagu.

Komitmen itu terlihat dalam kegiatan pangkur sagu bersama Kelompok Henggi Sagu yang dipimpin Yosepus Iba. Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., turut menyaksikan sekaligus terlibat langsung dalam proses pengolahan sagu, mulai dari pangkur hingga pembuatan sagu tumang secara tradisional.

Kelompok Henggi mengelola dusun sagu seluas kurang lebih tiga hektare. Bagi masyarakat setempat, kawasan itu bukan sekadar tempat mengambil pangan. Dusun sagu juga menjadi ruang hidup bersama bagi warga Warpa, Hormokokma, Kwagas, Mananmur, dan Patukar.

“Tempat ini mempunyai nilai dan fungsi bersama bagi masyarakat. Karena itu, keberadaan dusun sagu ini perlu kita jaga, dipertahankan dan terus dikembangkan,” kata Widhi.

Menurut dia, sagu di Kayauni memiliki karakteristik tersendiri. Salah satunya terlihat dari pohonnya yang memiliki kerapatan duri relatif lebih kecil dan jarang dibandingkan sagu di sejumlah wilayah lain.

Karakter lokal tersebut, kata Widhi, penting dikenali dan dipertahankan. Pengembangan sagu tidak semata mengejar peningkatan produksi, tetapi juga harus menjaga kekhasan tanaman serta lingkungan tempat sagu tumbuh.

Widhi menegaskan, pengelolaan sagu membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Mengingat kawasan dan tanaman sagu berkaitan dengan urusan kehutanan, Dinas Perkebunan akan mendorong kolaborasi dengan perangkat daerah yang membidangi sektor tersebut.

Kolaborasi itu diharapkan dapat memperkuat perlindungan dusun sagu, menjaga keberlanjutan tanaman, meningkatkan pemanfaatan dan produksi, hingga membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah.

Di Kayauni, pangkur sagu akhirnya bukan hanya soal mengolah batang menjadi bahan makanan. Ia adalah cara masyarakat menjaga sumber pangan, mempertahankan ruang hidup bersama, sekaligus merawat pengetahuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari dusun-dusun sagu seperti inilah, gagasan ketahanan pangan lokal menemukan bentuknya yang paling nyata: pangan yang tumbuh di tanah sendiri, diolah oleh masyarakat sendiri, dan tetap dijaga untuk masa depan.
 

Writter & Editor : Den