Kajari Buru Turut Berjibaku dalam Renovasi Gereja Waipoti, Pesan Toleransi Mengemuka
Kajari Buru Turut Berjibaku dalam Renovasi Gereja Waipoti, Pesan Toleransi Mengemuka
BURU, Kabarsulselindonesia.web.id – Suasana penuh kebersamaan mewarnai ibadah sekaligus kegiatan awal renovasi Gedung Gereja Jemaat Waipoti, Klasis Buru Utara. Salah satu sosok yang turut hadir dalam momentum tersebut adalah Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Buru, Adri Notanubun, S.H., M.H.
Kehadiran Adri bukan hanya sebagai tamu undangan. Ia dipercaya mengambil bagian dalam proses pembangunan dengan ditunjuk sebagai Penasehat Panitia Pembangunan Gedung Gereja Jemaat Waipoti, Klasis Buru Utara.
Kepercayaan tersebut menjadi bagian menarik dari kegiatan tersebut. Sebab, keterlibatan seorang pejabat publik dalam pembangunan rumah ibadah menunjukkan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak selalu berbicara tentang jabatan dan tugas kedinasan, tetapi juga tentang kepedulian sosial serta semangat membangun kebersamaan.
Dalam kegiatan itu, proses pembongkaran bagian atap gereja menjadi tanda dimulainya tahapan renovasi. Jemaat, para pelayan gereja, panitia pembangunan dan masyarakat tampak bersama-sama mendukung pekerjaan tersebut.8/9/26
Adri Notanubun juga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menghargai kepercayaan yang diberikan masyarakat ketika seseorang diminta mengambil bagian dalam pembangunan rumah ibadah.
Menurutnya, ketika seseorang dipercaya menjadi penasehat maupun ketua panitia pembangunan rumah ibadah, kepercayaan tersebut patut diterima dengan penuh tanggung jawab.
“Saya agama apa saja, ketika ditunjuk sebagai penasehat atau ketua panitia, tetap kita terima. Karena yang namanya rumah ibadah itu rumah Bait Allah,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut tidak sekadar berbicara mengenai pembangunan fisik sebuah gedung. Lebih jauh, pesan itu mengandung makna bahwa rumah ibadah merupakan ruang penting bagi umat untuk membangun iman, persaudaraan, kasih dan kepedulian terhadap sesama.
Renovasi Gereja Jemaat Waipoti pun diharapkan tidak berhenti pada pembenahan atap dan struktur bangunan. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya jemaat untuk menghadirkan tempat ibadah yang lebih layak bagi kehidupan persekutuan umat.
Semangat pembangunan itu sejalan dengan firman Tuhan dalam Mazmur 127:1:
“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kerja manusia tetap membutuhkan penyertaan Tuhan. Gotong royong, tenaga, material dan dukungan berbagai pihak merupakan bagian dari proses, sementara doa dan iman menjadi dasar dalam setiap langkah pembangunan.
Keterlibatan Kajari Buru sebagai penasehat panitia juga memberikan pesan bahwa rumah ibadah dapat menjadi titik temu untuk memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial, tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menjaga jarak.
Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, sikap saling menghormati dan kesediaan membantu pembangunan rumah ibadah merupakan nilai yang perlu terus dirawat.
Sebab, sebuah gereja tidak hanya dibangun dengan kayu, seng, beton dan tenaga manusia. Ia dibangun dengan iman, gotong royong, pengorbanan dan ketulusan banyak orang.
Momentum di Waipoti akhirnya menjadi lebih dari sekadar pembongkaran atap. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana kepercayaan, pelayanan dan semangat kebersamaan dapat berjalan bersama dalam membangun rumah Tuhan.
Editor: Bruce Elang

























Komentar via Facebook