Krisis Air Bersih Melanda Fakfak, Bupati Samaun Kerahkan Seluruh OPD Turun Antar Air ke Warga
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Air bersih menjadi barang yang semakin sulit diperoleh warga Kabupaten Fakfak setelah kemarau berlangsung lebih dari tiga bulan. Di tengah kekeringan itu, kabut asap akibat kebakaran hutan juga menyelimuti sejumlah wilayah. Pemerintah Kabupaten Fakfak merespons keadaan tersebut dengan mengerahkan seluruh organisasi perangkat daerah untuk turun langsung mendistribusikan air kepada masyarakat.
Gerakan itu dipimpin Bupati Fakfak Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP., dalam apel penanggulangan krisis air bersih di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Fakfak, Selasa, 6 Oktober 2026. Ia meminta setiap pimpinan OPD menyiapkan sedikitnya satu kendaraan yang dilengkapi profil tank, selang, dan mesin pompa air atau alkon.
Armada pemerintah itu disiapkan untuk melayani kebutuhan warga di lima distrik kawasan pusat kota, yakni Distrik Fakfak, Pariwari, Fakfak Tengah, Fakfak Barat, dan Wartutin. Sebanyak 26 kendaraan terpantau bersiaga sebelum bergerak menuju sumber air di Kampung Ubadari dan kawasan Air Besar.
Dari sumber air tersebut, pasokan kemudian dibawa untuk didistribusikan kepada warga, terutama di wilayah Distrik Pariwari yang membutuhkan pasokan air bersih. Pola penanganan ini membuat perangkat pemerintah tidak berhenti pada rapat dan koordinasi, tetapi bergerak langsung ke lapangan.
Bupati Samaun bahkan menggunakan kendaraan operasional jenis Hilux yang biasa melayani kebutuhan rumah negara. Kendaraan tersebut dipasangi profil tank dan alkon. Samaun ikut dalam perjalanan menuju sumber air di Kampung Ubadari.
Di halaman kantor pemerintah daerah, Samaun memeriksa kesiapan setiap OPD beserta kendaraan yang mereka bawa. Ia memberikan apresiasi khusus kepada Plt. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Fakfak, Erwin Dwiputra. Meski memiliki keterbatasan anggaran, dinas tersebut mampu menyiapkan empat kendaraan lengkap dengan profil tank untuk mendukung operasi distribusi air.
Gerakan tersebut memperlihatkan satu hal penting: ketika kebutuhan dasar warga berada dalam keadaan genting, birokrasi dituntut hadir bukan sekadar melalui kebijakan, tetapi melalui tindakan yang dapat dirasakan langsung masyarakat.
Bagi warga Fakfak yang selama berbulan-bulan menghadapi kekeringan, air yang tiba di depan rumah bukan sekadar bantuan. Ia adalah kebutuhan paling mendasar yang menentukan bagaimana sebuah pemerintahan hadir ketika warganya sedang menghadapi krisis.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook