Bidan Diminta Tak Sekadar Menolong Persalinan, Bupati Fakfak Dorong Layanan yang Menjangkau Kampung Terpencil

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Bidan Diminta Tak Sekadar Menolong Persalinan, Bupati Fakfak Dorong Layanan yang Menjangkau Kampung Terpencil

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pelayanan kebidanan di Kabupaten Fakfak menghadapi persoalan yang tidak sederhana: wilayah yang luas, penduduk yang tersebar, dan kampung-kampung yang berjauhan.

Di tengah kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Fakfak meminta para bidan tidak berhenti pada rutinitas pelayanan, tetapi terus memperkuat kompetensi, profesionalisme, dan inovasi.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP., saat membuka Musyawarah Cabang (Muscab) III Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Fakfak di Aula RRI Fakfak, Senin, 31 Agustus 2026.

Muscab bukan sekadar agenda organisasi untuk memilih kepengurusan baru. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, membaca persoalan pelayanan di lapangan, sekaligus menyusun strategi menghadapi kebutuhan kesehatan ibu dan anak yang terus berkembang.

Bupati meminta kepengurusan IBI yang memperoleh mandat nantinya mampu menjaga soliditas organisasi dan membangun komunikasi yang lebih kuat dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya.

Menurut dia, tantangan geografis Fakfak menuntut cara kerja yang tidak biasa. Pelayanan kesehatan, termasuk kebidanan, tidak boleh terkonsentrasi di pusat kota sementara masyarakat di kampung-kampung dan wilayah terpencil harus menempuh jarak panjang untuk memperoleh layanan.

Karena itu, inovasi diperlukan agar pelayanan kebidanan dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat.

“Mari kita satukan langkah, satukan komitmen, dan satukan kekuatan untuk menghadirkan pelayanan kebidanan yang berkualitas, aman, berkesinambungan, profesional, humanis,” kata Samaun.

Bagi pemerintah daerah, peningkatan mutu pelayanan tidak hanya bergantung pada ketersediaan tenaga kesehatan. Kompetensi bidan juga harus terus diperbarui. Edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.

Bidan didorong aktif mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin, persalinan yang aman, pemenuhan gizi ibu dan anak, pemberian air susu ibu, imunisasi, kesehatan reproduksi, serta pengenalan dini terhadap berbagai risiko yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.

Keselamatan ibu dan bayi, kata Bupati, harus menjadi prioritas dalam setiap pelayanan. Standar profesi, etika, mutu pelayanan, dan penghormatan terhadap hak pasien tidak boleh ditawar.

Pemerintah Kabupaten Fakfak juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan kompetensi tenaga kesehatan, penerapan standar profesi, pemanfaatan teknologi dan data kesehatan, serta penguatan layanan kesehatan ibu dan anak.

Di titik inilah Muscab III IBI diharapkan menghasilkan lebih dari sekadar pergantian pengurus. Organisasi profesi tersebut ditantang menerjemahkan kebutuhan masyarakat ke dalam kerja nyata di lapangan.

Pemerintah Kabupaten Fakfak menyampaikan apresiasi kepada para bidan yang selama ini bekerja melayani masyarakat. Pengabdian mereka menjadi salah satu mata rantai penting dalam menjaga kesehatan ibu dan anak, terutama di wilayah yang akses pelayanannya tidak selalu mudah.

Muscab itu pun menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen bersama: pelayanan kebidanan tidak boleh hanya berkualitas di atas kertas. Ia harus terasa oleh masyarakat termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.

Sinergi pemerintah daerah, IBI, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci. Sebab bagi seorang ibu yang membutuhkan pertolongan, jarak bukan sekadar angka di peta. Jarak bisa menentukan seberapa cepat sebuah pelayanan datang dan dalam kondisi tertentu, seberapa besar peluang seorang ibu dan bayinya untuk diselamatkan.
 

Writter & Editor : Den