Tanpa Memahami Adat dan Budaya Lokal, Bupati Mau Bawa Mimika ke Arah Kolonialisme Digital? Jaminan Apa untuk Masa Depan Anak Cucu Suku Amungme dan Kamoro?
Tanpa Memahami Adat dan Budaya Lokal, Bupati Mau Bawa Mimika ke Arah Kolonialisme Digital? Jaminan Apa untuk Masa Depan Anak Cucu Suku Amungme dan Kamoro?
TIMIKA Kabarsulselindonesia.web.id – Tokoh pemuda Mimika, Yohanis Wantik, melontarkan kritik keras terhadap wacana pembangunan dan transformasi digital yang tengah digagas di Kabupaten Mimika. Menurutnya, pembangunan tidak boleh dijalankan dengan mengabaikan akar budaya, adat istiadat, serta hak-hak masyarakat asli sebagai pemilik tanah dan pewaris masa depan daerah ini.10/06/2026
Yohanis menegaskan, apabila pembangunan dilakukan tanpa pemahaman yang utuh terhadap nilai-nilai adat dan kearifan lokal, maka yang terjadi bukanlah kemajuan yang berpihak kepada rakyat, melainkan bentuk baru dari kolonialisme digital yang secara perlahan dapat meminggirkan masyarakat adat dari ruang hidupnya sendiri.
"Jangan sampai teknologi dan investasi hanya menjadi alat baru yang menguntungkan segelintir pihak, sementara anak cucu Amungme dan Kamoro hanya menjadi penonton di negeri sendiri," tegas Yohanis.
Ia mempertanyakan komitmen Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menjamin masa depan generasi penerus Orang Asli Papua, khususnya masyarakat Amungme dan Kamoro, di tengah arus digitalisasi yang semakin masif.
"Apakah anak-anak Amungme dan Kamoro akan menjadi pelaku utama dalam era digital, atau justru hanya menjadi konsumen dan penonton di atas tanah warisan leluhur mereka sendiri? Siapa yang menjamin hak mereka atas pendidikan, lapangan pekerjaan, dan penguasaan teknologi di masa depan?" ujarnya.
Menurutnya, Wantik bahwa pembangunan yang berkeadilan harus bertumpu pada penghormatan terhadap adat, pelibatan masyarakat lokal dalam setiap pengambilan keputusan, serta keberpihakan nyata kepada Orang Asli Papua. Tanpa itu, modernisasi dikhawatirkan hanya akan melahirkan ketimpangan baru yang lebih berbahaya dibanding kolonialisme dalam bentuk lama.
Yohanis mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh mengorbankan identitas masyarakat adat yang telah menjadi fondasi kehidupan di tanah Papua selama turun-temurun.
"Kemajuan tidak boleh menghapus identitas. Digitalisasi tidak boleh menjadi jalan sunyi menuju penjajahan gaya baru. Jangan sampai atas nama modernisasi, masyarakat adat kehilangan masa depan di atas tanahnya sendiri," pungkasnya.
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook