Ironi Tanah Papua: Nakes Jalan Kaki Selamatkan Nyawa,Kemajuan Hanya Bergema di Mimbar"

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 13 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ironi Tanah Papua: Nakes Jalan Kaki Selamatkan Nyawa,Kemajuan Hanya Bergema di Mimbar

"Ironi Tanah Papua: Nakes Jalan Kaki Selamatkan Nyawa,Kemajuan Hanya Bergema di Mimbar"

Timika, Kabarsulselindonesia.web.id – Putra asli Kampung Aroanop sekaligus pilot pertama dari Suku Amungme, Capt. Nalio Jangkup, melontarkan sindiran keras terhadap berbagai klaim kemajuan yang selama ini digaungkan pemerintah. Baginya, kisah tenaga kesehatan (nakes) yang masih harus berjalan kaki menembus hutan belantara demi melayani masyarakat pedalaman merupakan bukti bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh rakyat di daerah terpencil.

Menurut Capt. Nalio, kemajuan tidak bisa hanya diukur dari megahnya bangunan dan gemerlap pembangunan di kota, sementara dokter dan perawat di pedalaman masih dipaksa bertaruh dengan medan ekstrem demi menyelamatkan nyawa manusia.14/06/2026

  "Kalau dokter dan perawat masih harus mengukur pelayanan dengan langkah kaki di tengah hutan, lalu apa yang sebenarnya dibanggakan dari kemajuan itu?" tegas Capt. Nalio Jangkup.»

Ia menilai, peristiwa tersebut bukan sekadar kisah heroik, melainkan potret kegagalan menghadirkan pelayanan kesehatan yang merata bagi seluruh rakyat.

  "Jangan jadikan penderitaan tenaga kesehatan sebagai cerita romantis. Mereka bukan pendaki gunung yang sedang mencari tantangan. Mereka adalah pelayan masyarakat yang seharusnya didukung dengan sarana dan akses yang layak," katanya.»

Capt. Nalio menegaskan, kemajuan tidak lahir dari pidato-pidato dan slogan yang terus diperdengarkan, melainkan dari kemampuan negara menghadirkan pelayanan kesehatan hingga ke kampung-kampung terpencil.

  "Kemajuan jangan hanya jadi slogan. Jangan bicara Papua maju kalau dokter dan perawat masih berjuang melawan keterisolasian dari generasi ke generasi. Kemajuan sejati adalah ketika rakyat di pedalaman mendapatkan hak yang sama dengan masyarakat di kota," ujarnya.»

Pria asal Aroanop itu mengungkapkan bahwa persoalan tersebut memiliki kedekatan emosional dengan dirinya. Keponakannya, dr. Sephia Jangkup, tercatat sebagai dokter perempuan pertama dari Suku Amungme.

Baginya, keberhasilan anak-anak Amungme menjadi dokter dan pilot seharusnya diikuti dengan keseriusan negara dalam menyediakan fasilitas dan akses pelayanan yang memadai.

  "Anak-anak Amungme sudah mampu menjadi pilot dan dokter. Tetapi jangan biarkan mereka kembali menghadapi keterbatasan yang sama seperti generasi sebelumnya. Negara harus hadir dengan solusi, bukan membiarkan mereka berjuang sendirian," katanya.»

Capt. Nalio menegaskan bahwa peristiwa nakes berjalan kaki menembus hutan merupakan alarm keras yang menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah dalam mewujudkan pemerataan pelayanan kesehatan di Tanah Papua.

 "Jangan sampai rakyat pedalaman terus menjadi penonton dari cerita kemajuan yang hanya indah dalam pidato. Negara harus membuktikan kehadirannya dengan tindakan nyata, karena nyawa manusia tidak boleh dikorbankan oleh keterisolasian," pungkasnya.»

Editor : Bruce Elang