CAJ Perkuat Barisan di Kuala Lumpur: Jurnalis ASEAN Hadapi Disrupsi dengan Solidaritas

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 27 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

CAJ Perkuat Barisan di Kuala Lumpur: Jurnalis ASEAN Hadapi Disrupsi dengan Solidaritas

Kuala Lumpur, Kabarsulsel-Indonesia.web.id | Di tengah pusaran disrupsi digital dan gelombang disinformasi yang kian deras, para jurnalis Asia Tenggara memilih satu kata kunci: solidaritas. Itulah nada yang mengemuka dalam Sidang Umum ke-21 Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) yang digelar di Kuala Lumpur, Senin, 27 April 2026.

Forum dua tahunan itu bukan sekadar agenda organisasi. Ia menjadi ruang konsolidasi bagi para pewarta dari berbagai negara ASEAN untuk meneguhkan kembali peran jurnalisme di kawasan yang tengah berubah cepat secara politik, teknologi, dan sosial.

Presiden CAJ periode 2023–2026, Atal S Depari, menyebut sidang umum kali ini sebagai momentum keberlanjutan.

“Ini bukan hanya pergantian kepemimpinan. Ini adalah penegasan komitmen kita terhadap profesionalisme, solidaritas, dan tanggung jawab menjaga masa depan jurnalisme,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Acara tersebut dihadiri Deputy Minister of Communication Malaysia Teo Nie Ching, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Ahmad Munir, serta para pimpinan delegasi dari negara-negara anggota CAJ. Kehadiran unsur pemerintah Malaysia menjadi penanda bahwa isu pers dan komunikasi publik tetap berada dalam perhatian negara.

Di ruang sidang yang sarat percakapan lintas bahasa itu, satu kesadaran mengemuka: tantangan jurnalisme ASEAN kini tak lagi bersifat lokal. Disrupsi teknologi digital mengubah pola konsumsi informasi. Media sosial menghadirkan kecepatan sekaligus kerentanan. Disinformasi dan polarisasi publik menguji integritas profesi.

Dalam sidang tersebut, CAJ menetapkan Low Boon Tat dari National Union of Journalists Malaysia sebagai Presiden CAJ yang baru. Pergantian ini berlangsung dalam suasana aklamatif dan penuh apresiasi terhadap kepemimpinan sebelumnya.

Atal menyatakan keyakinannya bahwa di bawah kepemimpinan Low, CAJ akan semakin relevan dan adaptif.

“Kita menghadapi era ketika informasi diproduksi dalam hitungan detik, tetapi verifikasi membutuhkan ketekunan. Di situlah jurnalisme diuji,” ujarnya.

Low Boon Tat, dalam pernyataan singkatnya, menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi lintas negara, terutama dalam pelatihan jurnalis muda, peningkatan standar etika, serta advokasi kebebasan pers.

Baginya, jurnalisme ASEAN harus mampu berbicara dengan suara yang saling menguatkan, tanpa kehilangan konteks nasional masing-masing.

Solidaritas regional menjadi kata yang berulang kali disebut. ASEAN, menurut Atal, membutuhkan jurnalisme yang tak hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga terhubung secara regional mampu merespons isu lintas batas seperti perubahan iklim, migrasi, keamanan siber, hingga dinamika geopolitik.

Sidang Umum ke-21 ini juga menjadi ajang refleksi atas peran organisasi profesi di tengah tekanan ekonomi industri media. Banyak redaksi di kawasan menghadapi tantangan keberlanjutan finansial, sementara tuntutan publik terhadap kualitas informasi kian tinggi. CAJ diharapkan menjadi simpul yang merawat standar, sekaligus jembatan solidaritas.

Menutup masa jabatannya, Atal menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya selama memimpin. Namun ia menegaskan, pengabdian terhadap jurnalisme tak berhenti pada jabatan struktural.

“Organisasi boleh berganti pemimpin. Tetapi nilai dan tanggung jawab profesi harus tetap dijaga,” katanya.

Dari Kuala Lumpur, para jurnalis ASEAN pulang dengan satu pesan yang sama: di tengah perubahan zaman, integritas adalah jangkar. Dan solidaritas, adalah kekuatan.