AIN NI AIN: Ketika Dua Pemimpin Muslim Melantunkan Lagu Rohani Kristen, Pesan Toleransi Menggema dari Tanah Kei

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 25 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

AIN NI AIN: Ketika Dua Pemimpin Muslim Melantunkan Lagu Rohani Kristen, Pesan Toleransi Menggema dari Tanah Kei

Tual Kabarsulselindonesia.web.id Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, toleransi tidak selalu harus disampaikan melalui pidato panjang atau slogan yang berulang. Terkadang, pesan tentang persaudaraan justru hadir melalui tindakan sederhana yang menyentuh hati dan mengingatkan kita bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk saling menghormati.

Hal inilah yang menjadi pesan menarik dari Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, dan Wali Kota Tual, Akhmad Yani Renuat. Keduanya merupakan pemimpin Muslim yang dalam berbagai kesempatan diketahui melantunkan lagu-lagu rohani Kristen, di antaranya *Hidup Ini Adalah Kesempatan*, *Jejak-Mu Tuhan*, dan *Mujizat Itu Nyata*. Maranatha 25/10/26

Fenomena tersebut menghadirkan ruang refleksi yang lebih luas tentang arti toleransi, kedewasaan dalam kehidupan beragama, dan tanggung jawab pemimpin dalam merawat kerukunan masyarakat.

Toleransi Bukan Sekadar Slogan

Toleransi bukan berarti seseorang harus meninggalkan keyakinannya sendiri untuk menghargai keyakinan orang lain. Sebaliknya, toleransi menunjukkan kemampuan seseorang untuk tetap teguh pada imannya, sekaligus memberikan ruang penghormatan kepada orang lain dalam menjalankan kepercayaannya.

Ketika seorang pemimpin Muslim melantunkan lagu rohani Kristen, tindakan itu tidak serta-merta berarti perpindahan keyakinan. Dalam konteks sosial, hal tersebut dapat menjadi simbol penghargaan, kebersamaan, dan keterbukaan terhadap ekspresi keagamaan masyarakat yang hidup berdampingan.

Namun, makna toleransi tidak cukup dinilai dari sebuah penampilan di atas panggung. Nilai itu perlu tercermin pula dalam kebijakan, pelayanan publik, sikap adil terhadap seluruh warga, serta komitmen menjaga keamanan dan kebebasan beragama.

Di situlah keteladanan seorang pemimpin memperoleh makna yang sesungguhnya.

Ain Ni Ain, Warisan Persaudaraan Orang Kei

Bagi masyarakat Kepulauan Kei, falsafah *Ain Ni Ain* bukan sekadar ungkapan yang indah didengar. Falsafah ini mengandung pesan tentang persaudaraan, kebersamaan, dan ikatan sosial yang mengajarkan masyarakat untuk memandang sesama sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Dalam semangat Ain Ni Ain, perbedaan agama tidak seharusnya menghapus hubungan kekeluargaan. Identitas keagamaan tetap dihormati, tetapi ikatan kemanusiaan tidak boleh dikorbankan oleh prasangka, kebencian, maupun kepentingan yang memecah belah.

Nilai inilah yang penting terus diwariskan kepada generasi muda Kei. Mereka perlu memahami bahwa menjaga persaudaraan bukan hanya tugas tokoh agama, pemerintah, atau tokoh adat, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Jangan sampai generasi penerus mewarisi pertengkaran, sementara para leluhur telah mewariskan nilai hidup bersama.

Pemimpin Harus Menjadi Teladan Kerukunan

Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun dan Wali Kota Tual Akhmad Yani Renuat memiliki ruang untuk memperkuat pesan persaudaraan tersebut melalui tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Keteladanan tidak berhenti pada keberanian menghargai lagu atau tradisi keagamaan yang berbeda. Lebih dari itu, masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul semua golongan, membangun komunikasi lintas agama, dan memastikan setiap warga memperoleh penghormatan serta pelayanan yang setara.

Di wilayah yang memiliki keberagaman agama dan tradisi seperti Maluku Tenggara dan Kota Tual, sikap saling menghormati merupakan modal sosial yang sangat berharga. Kerukunan yang terpelihara akan membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan pembangunan tanpa kehilangan jati diri dan ikatan persaudaraan.

Karena itu, pesan toleransi yang terlihat dalam ruang publik perlu diteruskan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda Keyakinan, Tetap Basudara

Prinsip *“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”* mengingatkan setiap orang agar menghormati batas keyakinan masing-masing tanpa menjadikannya alasan untuk bermusuhan.

Kita tidak harus memiliki agama yang sama untuk membangun kerja sama. Kita tidak harus menyanyikan lagu yang sama untuk memahami kesedihan dan kebahagiaan sesama. Dan kita tidak harus memiliki pandangan yang seragam untuk menjaga kedamaian di tanah kelahiran.

Kepada generasi muda Kei, pesan yang perlu direnungkan sederhana: jangan biarkan perbedaan menjadi alat untuk mengadu domba masyarakat. Rawatlah persaudaraan, hormati rumah ibadah, jaga komunikasi, dan selesaikan persoalan melalui dialog yang bermartabat.

Sebab, kekuatan masyarakat tidak terletak pada keseragaman, tetapi pada kemampuan untuk hidup berdampingan dengan penuh penghormatan.

Ain Ni Ain, Jangan Hanya Diucapkan, tetapi Dihidupi

Pada akhirnya, kisah dua pemimpin Muslim yang melantunkan lagu rohani Kristen dapat menjadi momentum untuk merenungkan kembali arti toleransi di tanah Kei. Pesan terpentingnya bukan terletak pada siapa yang menyanyikan sebuah lagu, melainkan pada bagaimana masyarakat menerjemahkan penghormatan menjadi tindakan nyata.

Ain Ni Ain harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: ketika tetangga yang berbeda agama membutuhkan pertolongan, ketika masyarakat menghadapi persoalan bersama, ketika perbedaan pendapat muncul, dan ketika persaudaraan diuji oleh kepentingan tertentu.

Di tanah Kei, kita boleh berbeda dalam keyakinan, tradisi, dan cara mengekspresikan iman. Namun, perbedaan itu tidak boleh menghapus kewajiban untuk saling menghormati dan menjaga kedamaian.

*Ain Ni Ain: berbeda dalam iman, tetap satu dalam persaudaraan.*

Ditulis di Maranata, 25 Oktober 2026.*

Editor: Bruce Elang