Mimika Harus Punya Peta: Adat, Sejarah, dan Ekonomi
Mimika Harus Punya Peta: Adat, Sejarah, dan Ekonomi
Mimika Kabarsulselindonesia.web.id — Pembangunan kota-kota baru di Mimika tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Sebelum jalan dibuka, kawasan dibangun, dan pusat-pusat ekonomi ditentukan, pemerintah harus memiliki pemetaan yang jelas dan menyeluruh agar pembangunan tidak kehilangan arah serta tidak mengabaikan sejarah dan hak masyarakat adat.
Pandangan tersebut disampaikan Yohanis Wantik (Yowan), politisi anak Papua, yang menilai Mimika membutuhkan paradigma pembangunan baru. Menurutnya, pembangunan kota baru harus berdiri di atas data, sejarah, budaya, serta potensi ekonomi masyarakat.21/8/26
“Jangan membangun kota hanya berdasarkan gambar di atas meja. Mimika harus memiliki peta yang benar: peta sejarah misionaris, peta wilayah adat, peta kampung dan komunitas, serta peta potensi ekonomi masyarakat,” tegas Yowan.
Ia menilai pemetaan sejarah misionaris penting untuk membaca jejak perkembangan permukiman dan pelayanan masyarakat dari masa lalu. Sementara peta adat dibutuhkan agar pembangunan tidak menabrak wilayah hak masyarakat adat dan tidak melahirkan konflik agraria di kemudian hari.
Tidak kalah penting, lanjut Yowan, pemerintah harus menyusun peta potensi produksi dan ekonomi secara detail. Setiap wilayah perlu diketahui keunggulannya—mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan, perdagangan hingga usaha ekonomi masyarakat asli Papua.
Menurutnya, pembangunan kota baru harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: siapa yang tinggal di sana, siapa pemilik tanahnya, apa potensi ekonominya, dan bagaimana masyarakat lokal memperoleh manfaat dari pembangunan tersebut.
“Kalau pemetaan tidak jelas, pembangunan kota baru berisiko hanya menghasilkan bangunan, tetapi tidak menghasilkan kehidupan ekonomi yang kuat bagi masyarakat,” katanya.
Yowan menegaskan, Mimika tidak boleh mengulangi pola pembangunan yang hanya mengejar proyek dan infrastruktur, sementara masyarakat lokal menjadi penonton di tanah sendiri.
Karena itu, ia mendorong Pemkab Mimika melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, gereja, akademisi, pelaku usaha, serta masyarakat kampung dalam proses pemetaan dan perencanaan kawasan baru.
“Pembangunan harus punya akar. Kalau akar sejarah, adat dan ekonomi masyarakat tidak dipetakan sejak awal, maka kota baru bisa tumbuh secara fisik tetapi rapuh secara sosial,” ujarnya.
Bagi Yowan, membangun kota-kota baru di Mimika bukan sekadar persoalan memperluas wilayah perkotaan. Ini merupakan keputusan strategis yang akan menentukan wajah Mimika dalam puluhan tahun ke depan.
Mimika membutuhkan peta sebelum membangun kota—bukan membangun kota lalu mencari-cari arah.
Yohanis Wantik (Yowan)
Politisi Anak Papua
Editor: Bruce Elang

























Komentar via Facebook