Beta Kei” Bukan Sekadar Slogan, Thaher Hanubun Tegaskan: Siapa Datang ke Kei Harus Hormati Adat dan Persaudaraan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Beta Kei” Bukan Sekadar Slogan, Thaher Hanubun Tegaskan: Siapa Datang ke Kei Harus Hormati Adat dan Persaudaraan

“Beta Kei” Bukan Sekadar Slogan, Thaher Hanubun Tegaskan: Siapa Datang ke Kei Harus Hormati Adat dan Persaudaraan

MALUKU TENGGARA Kabarsulselindonesia.web.id — Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun kembali menyuarakan semangat “Beta Kei” sebagai pesan kuat tentang persaudaraan, penghormatan terhadap adat, serta kecintaan terhadap tanah dan masyarakat Kei.

Pesan itu disampaikan Thaher saat membuka Kampanye dan Pergerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat (Germas), Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta pemeriksaan kesehatan oleh dokter spesialis anak dan dokter spesialis THT di Ohoi Dunwahan, Kecamatan Kei Kecil, Selasa (1/9/2026).

Di hadapan masyarakat, tenaga kesehatan, jajaran pemerintah daerah, serta para tamu undangan, Thaher menegaskan bahwa menjadi bagian dari masyarakat Kei tidak semata-mata ditentukan oleh asal-usul atau tempat kelahiran. Menurutnya, siapa pun yang datang, tinggal, bekerja, dan mengabdi di Kepulauan Kei harus mampu menghormati adat, budaya, serta kehidupan masyarakat setempat.

   “Siapapun dia, dari manapun dia, ketika datang di Kei, itu dia orang Kei,” tegas Thaher.

“Tanah Ini Punya Tuan”

Thaher menyampaikan bahwa keterbukaan masyarakat Kei terhadap pendatang merupakan bagian dari karakter dan nilai sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia menggambarkan masyarakat Kei sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap tamu dan orang yang datang untuk tinggal maupun bekerja.

   “Orang yang datang tinggal dan bertamu di sini itu diperagungkan luar biasa oleh orang Kei. Tidak pernah membedakan,” ujarnya.

Namun, keterbukaan tersebut, kata Thaher, bukan berarti seseorang yang datang ke Kei dapat mengabaikan tata krama dan nilai adat yang hidup di tengah masyarakat.

  “Tanah ini dia bertuan. Daerah ini dia bertuan. Kalau kita mengaku diri kita orang Kei tapi tidak mengerti tata cara, orang Kei itu punya tata cara,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa keterbukaan dan penghormatan harus berjalan beriringan. Siapa pun yang hidup di tanah Kei diharapkan mampu menempatkan diri, menghargai masyarakat lokal, serta menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis.

Thaher: Malra dan Tual Jangan Dipisahkan oleh Sekat

Thaher juga menyinggung hubungan masyarakat Maluku Tenggara dan Kota Tual. Ia meminta agar batas administratif tidak dijadikan alasan untuk membangun jarak sosial di antara masyarakat Kei.

Menurutnya, masyarakat di Maluku Tenggara dan Kota Tual memiliki akar budaya yang sama sebagai bagian dari masyarakat Kei.

 “Maluku Tenggara dan Tual adalah sama-sama orang Kei,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat tidak berhenti pada batas wilayah pemerintahan. Banyak warga Maluku Tenggara yang tinggal dan beraktivitas di Kota Tual. Demikian pula sebaliknya, hubungan sosial dan ekonomi masyarakat kedua wilayah berlangsung setiap hari.

Karena itu, Thaher menilai tidak tepat jika masyarakat dibenturkan hanya karena perbedaan wilayah administratif.

 “Kita tidak bisa membedakan,” ujarnya.

Jangan Ada Sekat di Tanah Kei

Bupati mengajak seluruh masyarakat Kei untuk menjaga persaudaraan dan tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan latar belakang.

Ia menyebut sejumlah kelompok dan wilayah masyarakat Kei sebagai bagian dari satu ikatan sosial dan budaya yang harus terus dirawat.

  “Kita harus saling menjaga dan saling mencintai satu dengan yang lain,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi peringatan agar identitas “Beta Kei” tidak berhenti sebagai ungkapan atau slogan. Menurut semangat yang disampaikan Thaher, identitas itu harus terlihat melalui perilaku sehari-hari: menghormati adat, menghargai sesama, menjaga ketertiban, serta ikut bertanggung jawab terhadap masa depan tanah Kei.

Beta Kei Harus Dibuktikan dengan Sikap

Dalam konteks pembangunan daerah, Thaher menempatkan semangat “Beta Kei” sebagai pesan persatuan.

Mereka yang datang dari luar Kei untuk bekerja, bertugas, maupun mengabdi diharapkan tidak memosisikan diri sebagai orang asing. Sebaliknya, mereka harus mampu menghormati masyarakat dan ikut menjaga keamanan, ketertiban serta keharmonisan sosial.

Begitu pula masyarakat asli Kei, menurut pesan Bupati, memiliki tanggung jawab untuk menjaga karakter Kei sebagai tanah yang terbuka dan menghormati siapa pun yang datang dengan niat baik.

Dengan demikian, “Beta Kei” bukan sekadar soal siapa yang lahir di tanah Kei, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperlakukan tanah, adat, dan sesama manusia di dalamnya.

Pesan Thaher menjadi relevan di tengah kehidupan masyarakat Kei yang terus berkembang dan semakin terbuka. Perbedaan asal-usul, pekerjaan, wilayah administratif, maupun latar belakang sosial tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan.

Sebab, bagi Thaher, tanah Kei harus tetap menjadi rumah bersama—tempat orang datang untuk hidup, bekerja, mengabdi, sekaligus belajar menghormati adat dan masyarakat yang menjadi tuannya.

 “Kita harus saling menjaga dan saling mencintai satu dengan yang lain.”

Editor: Bruce Elang