Arwanop Bukan Musuh Bupati!" Nawi Jangkup Kecewa dengan Respons Johannes Rettob soal Nakes Jalan Kaki 12 Jam
"Arwanop Bukan Musuh Bupati!" Nawi Jangkup Kecewa dengan Respons Johannes Rettob soal Nakes Jalan Kaki 12 Jam
Timika Kabarsulselindonesia.web.id – Tokoh pemuda Kampung Arwanop, Nawi Jangkup, menyampaikan kekecewaannya terhadap respons Bupati Mimika Johannes Rettob terkait viralnya tenaga kesehatan (nakes) yang harus berjalan kaki selama 12 jam dari Arwanop menuju Timika.
Menurut Nawi, reaksi Bupati Mimika saat mendengar nama Arwanop justru menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Ia menilai respons yang lebih menonjolkan ancaman sanksi dibanding mencari solusi menunjukkan sikap yang tidak tepat dari seorang pemimpin.13/06/2026
"Saya heran, begitu mendengar nama Arwanop, Pak Bupati langsung terkejut dan tanggapannya justru ancaman pecat. Ada apa dengan Arwanop? Kami melihat seolah-olah ada perlakuan khusus terhadap nama Arwanop," ujar Nawi.
Ia mengingatkan bahwa sejumlah putra terbaik Arwanop turut berkontribusi dalam perjalanan politik Johannes Rettob hingga menduduki kursi Bupati Mimika saat ini.
"Bapak perlu ingat, kalau bukan karena almarhum Dr. Elkinus Omaleng yang mengajak menjadi wakil bupati waktu itu, dan kalau bukan karena putra Arwanop yang menjadi Ketua KPU Mimika, maka mungkin hari ini Bapak tidak duduk sebagai Bupati Mimika," katanya.
Nakes Jalan Kaki Karena Kehabisan Obat dan Tidak Ada Penerbangan
Nawi menegaskan bahwa informasi mengenai perjalanan kaki selama 12 jam bukanlah cerita yang dibuat-buat. Berdasarkan laporan yang diterimanya dari masyarakat, para tenaga kesehatan tersebut mengalami keterbatasan logistik dan tidak memperoleh fasilitas transportasi udara untuk kembali ke Timika.
"Saya dapat laporan mereka kehabisan obat, kehabisan makanan, dan tidak ada penerbangan untuk menjemput mereka. Bahkan ada dua orang perawat yang sakit malaria di Arwanop," ungkapnya.
Ia juga membantah pernyataan yang menyebut wilayah pegunungan tidak terdapat kasus malaria.
"Siapa bilang daerah pegunungan tidak ada malaria? Arwanop, Jila, Alama, Hoya sampai Wasiya sejak dulu ada riwayat malaria. Pernyataan bahwa daerah pedalaman tidak ada malaria menurut saya tidak benar," tegasnya.
Pertanyakan Keberadaan Pesawat dan Helikopter Pemda Mimika
Dalam keterangannya, Nawi juga mempertanyakan keberadaan pesawat dan helikopter milik Pemerintah Kabupaten Mimika yang dinilai belum maksimal dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan dasar di wilayah pedalaman.
"Pesawat dan helikopter Pemda ada di mana? Masyarakat umum saja harus antre berbulan-bulan untuk mendapatkan tiket. Bagaimana guru dan tenaga kesehatan mau bersaing dengan masyarakat umum? Kalau tidak ada perawat, masyarakat bisa kehilangan pelayanan kesehatan," katanya.
Menurutnya, pemerintah seharusnya menghadirkan solusi dengan menyediakan subsidi penerbangan khusus bagi tenaga kesehatan dan guru yang bertugas di wilayah pedalaman dan pesisir.
"Anggarkan penerbangan khusus untuk nakes dan guru. Itu baru solusi. Jangan sedikit-sedikit ancam pecat. Rakyat hari ini sudah hidup dalam banyak ketakutan, jangan ditambah lagi dengan ancaman dari pemimpinnya sendiri," ujarnya.
Soroti Persoalan Sampah dan Keamanan
Selain sektor kesehatan, Nawi juga mengkritik kebijakan pemerintah terkait persoalan sampah dan keamanan di Kabupaten Mimika.
Menurutnya, ancaman denda Rp25 juta bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan tidak akan efektif apabila sistem pengelolaan sampah dan kebersihan kota belum berjalan optimal.
"Pemerintah harus benahi dulu sistemnya. Tunjukkan dulu Timika bersih, baru berbicara soal sanksi. Jangan masyarakat terus yang diancam," katanya.
Ia juga menilai persoalan keamanan seperti konflik sosial dan aksi kriminalitas masih menjadi pekerjaan rumah yang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Arwanop Aman dan Butuh Perhatian Serius
Menutup pernyataannya, Nawi Jangkup menegaskan bahwa Kampung Arwanop merupakan wilayah yang aman dan membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan transportasi.
"Jangan sampai pernyataan seorang bupati menimbulkan persepsi bahwa Arwanop tidak aman. Arwanop aman, Wasiya aman, Hoya aman, Jila aman. Guru harus jalan, pelayanan kesehatan harus jalan, ekonomi masyarakat juga harus jalan. Pemerintah harus hadir dengan solusi, bukan sekadar pernyataan yang menimbulkan kegaduhan," pungkasnya.
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook