Konsultan Hukum Valent Kei Soroti Sikap Rafael, Sebut Tidak Konsisten dan Pertanyakan Integritas Kepemimpinan
Konsultan Hukum Valent Kei Soroti Sikap Rafael, Sebut Tidak Konsisten dan Pertanyakan Integritas Kepemimpinan
Timika Kabarsulselindonesia.web.id – Konsultan Hukum sekaligus Advokat Valentinus Ulahayanan, SH., MH, yang akrab disapa Valent Kei, melontarkan kritik keras terhadap sikap Rafael yang dinilainya berubah drastis pasca-Pilkada Mimika.
Menurut Valent, perubahan sikap tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai konsistensi dan integritas Rafael dalam menyikapi kepemimpinan Bupati Mimika, Johannes Rettob.
"Saya hanya ingin mengatakan, hanya orang yang tidak menggunakan akal sehat yang akan begitu saja percaya dengan sikap politik yang berubah-ubah seperti bunglon," tegas Valent.05/07/2026
Ia mengaku masih mengingat dengan jelas bagaimana Rafael saat masa kampanye Pilkada tampil berapi-api memberikan dukungan kepada Johannes Rettob.
Menurut Valent, ketika melakukan perjalanan menuju Kokonao, Rafael secara terbuka menyampaikan bahwa Johannes Rettob merupakan representasi masyarakat asli Mimika, khususnya suku Kamoro, bahkan menyebut Johannes Rettob sebagai satu-satunya figur yang layak memimpin Kabupaten Mimika.
"Dia sendiri yang berorasi bahwa Johannes Rettob adalah anak asli Mimika, representasi suku Kamoro, dan tidak ada calon lain selain Johannes Rettob. Pernyataan itu masih melekat dalam ingatan saya," ujarnya.
Namun, kata Valent, setelah Johannes Rettob resmi terpilih dan dilantik sebagai Bupati Mimika, sikap Rafael justru berubah total dengan melontarkan kritik secara terbuka melalui berbagai video di media sosial.
Menurutnya, kritik terhadap kepala daerah merupakan hak setiap warga negara. Namun, sebagai figur publik dan tokoh yang sebelumnya memberikan dukungan penuh, Rafael dinilai seharusnya mengedepankan etika komunikasi.
"Kalau memang ada kebijakan Bupati yang dianggap keliru, semestinya disampaikan secara langsung melalui dialog empat mata, bukan terus-menerus dipertontonkan ke ruang publik sehingga menjadi konsumsi masyarakat," katanya.
Valent menilai perubahan sikap tersebut menunjukkan inkonsistensi yang patut dipertanyakan.
"Bagi saya, sikap seperti ini memperlihatkan bahwa yang bersangkutan tidak memiliki pendirian yang kuat. Hari ini mendukung, besok menyerang. Pola seperti ini menimbulkan kesan bahwa orientasinya bukan lagi kepentingan publik, melainkan kepentingan pribadi," ujarnya.
Ia mengaku sebelumnya menaruh harapan besar kepada Rafael untuk memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat Kamoro dengan bekal pendidikan, keberanian, dan kapasitas yang dimilikinya.
"Saya pernah berharap Rafael menjadi salah satu tokoh yang konsisten memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Kamoro. Namun harapan itu perlahan hilang ketika saya melihat sikapnya yang berubah-ubah dan tidak menjaga integritas," kata Valent.
Lebih lanjut, Valent mengaku khawatir apabila pola kepemimpinan seperti itu dibawa ke dalam organisasi kepemudaan.
Menurutnya, jika Rafael memimpin KNPI, dikhawatirkan organisasi justru dijadikan alat untuk membangun konfrontasi terhadap kebijakan pemerintah daerah apabila terdapat kepentingan yang tidak sejalan.
"Saya khawatir KNPI nantinya bukan menjadi mitra kritis yang konstruktif, tetapi justru dipakai sebagai instrumen untuk terus menyerang kebijakan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat ketika kepentingan pribadi tidak terpenuhi," tegasnya.
Mengakhiri pernyataannya, Valent mengajak masyarakat, khususnya kalangan pemuda, agar lebih cermat menilai rekam jejak dan konsistensi setiap figur sebelum memberikan kepercayaan memimpin organisasi.
"Kita harus belajar memilih pemimpin yang memiliki integritas, konsisten dalam sikap, serta mampu menjaga etika dalam menyampaikan kritik. Jangan sampai penyesalan datang ketika semuanya sudah terlambat," pungkas Valent.
Editor: Bruce Elang

























Komentar via Facebook