Pala Unggul Fakfak Makin Kokoh, Dinas Perkebunan Bangun 10 Asaran Tradisional di Sentra Produksi

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 24 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pala Unggul Fakfak Makin Kokoh, Dinas Perkebunan Bangun 10 Asaran Tradisional di Sentra Produksi

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di kampung-kampung pesisir dan lereng perbukitan Fakfak, musim pala selalu menghadirkan harapan. Ketika buah-buah pala tua mulai dipetik dari kebun warisan keluarga, denyut ekonomi masyarakat kampung ikut bergerak.

Namun di balik melimpahnya hasil panen, selama bertahun-tahun masih tersimpan persoalan yang tak selalu terlihat: kualitas pascapanen yang belum optimal dan nilai ekonomi yang belum sepenuhnya dinikmati masyarakat pemilik kebun.

Pemerintah Kabupaten Fakfak tampaknya tidak ingin persoalan itu terus berulang.

Melalui Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, pemerintah pada Tahun Anggaran 2026 membangun 10 unit Asaran Pala Tradisional Skala Pengumpul yang tersebar di sejumlah kampung sentra produksi pala rakyat. Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat Program Pala Unggul Fakfak sekaligus membangun fondasi hilirisasi komoditas pala langsung dari kampung-kampung penghasil.

Lokasi pembangunan tersebar di sejumlah sentra pala seperti Kiat, Mandoni, Sekar, Kaburbur, Adora, Sum, Sangkiti, Kalamanuk, dan beberapa kampung potensial lainnya yang selama ini menjadi penyangga utama produksi Pala Tomandin Fakfak.

 

Langkah tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas fisik.

Di balik bangunan sederhana berbahan kayu dan seng itu tersimpan misi yang lebih besar: menjaga kualitas pala, meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat pelaku usaha Orang Asli Papua, sekaligus memastikan manfaat ekonomi komoditas unggulan daerah tetap berputar di kampung.

 

Menjawab Persoalan yang Selama Ini Terjadi di Bawah Pohon Pala

Selama bertahun-tahun, salah satu tantangan utama yang dihadapi petani pala Fakfak terjadi setelah panen selesai dilakukan.

Banyak petani masih menghadapi keterbatasan sarana pengasapan dan pengeringan. Akibatnya, sebagian hasil panen dijual dalam kondisi kadar air yang masih tinggi atau belum melalui proses pengolahan yang memadai. Kualitas biji menjadi tidak seragam, daya simpan berkurang, dan harga jual sering kali tidak mencerminkan kualitas sebenarnya.

Di sejumlah kampung, tidak sedikit hasil pala yang bahkan langsung berpindah tangan di bawah pohon kepada pembeli atau pedagang pengumpul yang datang dari luar kampung.

 

Situasi itulah yang perlahan ingin diubah Pemerintah Kabupaten Fakfak.

Melalui pembangunan asaran pala tradisional skala pengumpul, masyarakat kini memiliki fasilitas yang lebih layak untuk melakukan pengasapan dan pengeringan secara baik sebelum hasil panen dipasarkan.

Harapannya sederhana tetapi sangat penting: pala Fakfak harus dijual dalam kondisi terbaiknya.

Karena dalam perdagangan komoditas perkebunan, kualitas bukan hanya menentukan harga, tetapi juga menentukan daya saing dan masa depan sebuah daerah penghasil.

 

Membangun Nilai Tambah dari Kampung

Bagi Pemerintah Kabupaten Fakfak, keberhasilan pembangunan sektor perkebunan tidak cukup hanya diukur dari luas areal tanam atau jumlah produksi.

Yang lebih penting adalah seberapa besar nilai ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat di tingkat kampung.

Pala yang telah melalui proses pengasapan dan pengeringan yang baik memiliki kualitas lebih tinggi, daya simpan lebih lama, serta harga jual yang lebih baik. Artinya, setiap kilogram pala yang dipasarkan berpotensi memberikan pendapatan yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha lokal.

Karena itu, pembangunan asaran pala dipandang sebagai instrumen ekonomi masyarakat kampung.

Semakin banyak pala yang diolah di kampung, semakin besar pula nilai tambah yang tinggal di kampung.

Semakin baik kualitas pala yang dihasilkan, semakin kuat pula posisi tawar masyarakat dalam rantai perdagangan.

 

Memperkuat Pelaku Usaha Orang Asli Fakfak

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, menegaskan bahwa program pembangunan asaran pala tradisional tahun 2026 secara khusus diarahkan untuk memperkuat pelaku usaha dan pengumpul pala Orang Asli Fakfak yang selama ini menjadi bagian penting dari pergerakan ekonomi masyarakat kampung.

Menurut Widhi, penerima bantuan merupakan pelaku usaha yang telah aktif membeli, mengumpulkan, mengolah, dan memasarkan hasil pala masyarakat di wilayahnya masing-masing.

“Pembangunan asaran pala ini kami sasarkan kepada pengumpul atau pembeli pala yang benar-benar Orang Asli Fakfak yang selama ini mengolah hasil palanya sendiri, membeli pala keluarganya, serta mengumpulkan pala dari masyarakat di kampung tempat tinggalnya, terutama kampung-kampung yang jauh dari wilayah kota,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh penerima bantuan ditetapkan melalui proses verifikasi dan inspeksi lapangan yang ketat.

Pemerintah ingin memastikan bahwa bantuan benar-benar diterima oleh pelaku usaha yang aktif menjalankan usaha pengumpulan dan pengolahan pala serta memiliki kontribusi nyata terhadap perekonomian masyarakat kampung.

“Kami ingin bantuan ini tepat sasaran dan benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Pala Harus Memberi Manfaat Lebih Besar bagi Orang Fakfak

Bagi Dinas Perkebunan, pembangunan asaran bukan sekadar urusan pengeringan atau pengasapan hasil panen.

Program ini merupakan bagian dari upaya menjaga agar komoditas pala tetap memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat pemiliknya.

Pala yang tumbuh di tanah Fakfak, menurut Widhi, harus mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih besar bagi orang-orang yang selama ini menjaga dan merawatnya.

“Kita tidak ingin seluruh hasil pala langsung jatuh ke tangan pedagang pengepul atau pembeli liar yang menunggu di bawah pohon pala. Dengan adanya asaran ini, masyarakat mempunyai fasilitas yang memadai untuk melakukan pengasapan dan pengolahan hasil pala sebelum dipasarkan,” ujarnya.

Karena itu pula, semangat pemberdayaan Orang Asli Papua tidak hanya hadir pada penerima manfaat program.

Dalam pelaksanaan pembangunan fisiknya, pemerintah juga melibatkan kontraktor Orang Asli Mbaham Matta (OBAMA) sebagai penyedia jasa konstruksi.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memastikan manfaat pembangunan berputar di lingkungan masyarakat asli Fakfak.

 

Harapan yang Akhirnya Terwujud

Di Kampung Mandoni, Distrik Kokas, kebijakan itu disambut penuh rasa syukur.

Mama Wati Kramandondo, salah satu penerima manfaat program, mengaku selama ini kapasitas asaran yang dimiliki masih sangat terbatas dibandingkan volume pala yang dikumpulkan dari masyarakat.

Akibatnya, tidak semua hasil panen dapat ditangani secara optimal.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Fakfak dan Dinas Perkebunan. Bantuan ini sangat membantu kami sebagai pengumpul atau pembeli pala di kampung karena asaran yang kami miliki selama ini kecil dan tidak mampu menampung hasil pala yang ada di kampung,” katanya.

Baginya, pembangunan asaran baru bukan sekadar tambahan fasilitas usaha.

Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi harapan baru bagi masyarakat kampung untuk meningkatkan kualitas hasil panen dan memperoleh harga yang lebih baik.

“Dengan bantuan ini kami akan semakin giat menjaga mutu dan kualitas pala sebelum dijual ke pedagang besar di kota. Harapan kami harga pala juga semakin baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat kampung,” ujarnya.

 

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan

Bagi masyarakat Fakfak, pala bukan sekadar komoditas perkebunan.

Pala adalah sejarah, identitas, dan sumber kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Karena itu, menjaga kualitas pala sesungguhnya berarti menjaga masa depan masyarakat yang hidup dari komoditas tersebut.

Pembangunan 10 unit Asaran Pala Tradisional Skala Pengumpul Tahun 2026 menjadi penanda bahwa pembangunan perkebunan tidak lagi hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada kualitas, nilai tambah, dan keberpihakan kepada masyarakat kampung.

Dari kampung-kampung penghasil pala di pesisir Kokas hingga wilayah-wilayah terpencil lainnya, Pemerintah Kabupaten Fakfak sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bangunan pengasapan.

Yang sedang dibangun adalah rantai nilai, kemandirian ekonomi, dan masa depan Pala Tomandin Fakfak agar tetap menjadi kebanggaan daerah sekaligus sumber kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.

Di situlah makna sesungguhnya dari Program Strategis Pala Unggul Fakfak: memastikan bahwa aroma pala yang harum dari tanah Mbaham Matta tidak hanya dikenal dunia, tetapi juga menghadirkan kemakmuran yang nyata bagi masyarakat yang menjaganya sejak dahulu.
 

Writter & Editor : Den