Kotak Suara Tak Dibuka, Persaudaraan yang Menang: Musda Kerukunan Masyarakat Kei Fakfak Cetak Sejarah
Dua kandidat sepakat tidak menghitung hasil pemungutan suara. Musyawarah adat melahirkan model kepemimpinan kolektif demi menjaga persaudaraan dan menghindari perpecahan.
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Ketegangan yang sempat membayangi Musyawarah Daerah (Musda) Kerukunan Masyarakat Kei Kabupaten Fakfak akhirnya berujung pada sebuah kesepakatan yang mengejutkan sekaligus menyejukkan.
Di tengah proses demokrasi yang telah memasuki tahapan pemungutan suara, dua kandidat ketua memilih mengesampingkan kemenangan pribadi demi menjaga keutuhan keluarga besar masyarakat Kei.
Musda kemudian menetapkan Iptu Slamet Efruan, S.Sos. sebagai Ketua Internal Kerukunan Masyarakat Kei Kabupaten Fakfak dan Muhammad Taweatubun, S.K.M., M.M. sebagai Ketua Eksternal untuk masa bakti 2026–2031.
Keputusan itu bukan lahir dari penghitungan suara, melainkan dari musyawarah yang dimediasi para sesepuh adat. Kotak suara yang telah disiapkan bahkan disepakati untuk tidak dibuka. Bagi masyarakat Kei, persaudaraan dinilai jauh lebih berharga daripada sekadar mengetahui siapa yang memperoleh suara terbanyak.
Langkah tersebut menjadi simbol hidupnya falsafah Ain Ni Ain sebuah nilai luhur masyarakat Kei yang memandang seluruh warga sebagai satu keluarga besar yang tidak boleh tercerai-berai oleh kepentingan sesaat.
"Kami tidak ingin ada yang pulang dengan gembira karena menang, sementara yang lain pulang dengan kecewa. Kami ingin semua pulang dengan hati yang damai," ujar sesepuh masyarakat Kei, Yanto Hukubun, saat menyampaikan keputusan di hadapan peserta pleno.
Menurut Yanto, setelah proses pemungutan suara selesai dilakukan, para tokoh adat menginisiasi dialog kekeluargaan dengan kedua kandidat. Pertemuan berlangsung di halaman gereja, tepat di depan patung Bunda Maria.
Di tempat itulah, kata dia, kedua calon menyatakan kesediaannya untuk mengesampingkan hasil pemungutan suara dan memilih memimpin organisasi secara bersama.
"Mereka berdua berjanji di depan Bunda Maria. Itu bukan sekadar ucapan, tetapi pengakuan yang lahir dari hati yang paling dalam," katanya.
Suasana sidang yang sebelumnya diwarnai dinamika organisasi berubah menjadi haru. Tepuk tangan panjang mengiringi pengumuman bahwa tidak akan ada pihak yang dinyatakan kalah maupun menang.
Model kepemimpinan kolektif itu selanjutnya akan dirumuskan lebih rinci dalam Rapat Kerja Kerukunan Masyarakat Kei. Forum tersebut akan membahas pembagian tugas, kewenangan, struktur kepengurusan, serta penyusunan program kerja lima tahun ke depan.
Yanto meminta seluruh pihak menghormati kesepakatan tersebut dan tidak lagi membawa dinamika Musda ke dalam pembentukan kepengurusan.
"Di rapat kerja nanti kita tidak lagi membicarakan siapa menjadi apa. Yang kita bicarakan adalah siapa bekerja untuk apa," ujarnya.
Muhammad Taweatubun menerima keputusan itu sebagai jalan terbaik bagi organisasi. Menurut dia, Musda bukan sekadar memilih ketua, melainkan momentum memperkuat solidaritas masyarakat Kei di Fakfak.
Ia mengajak seluruh elemen organisasi meninggalkan perbedaan pilihan yang sempat muncul selama proses Musda dan kembali memusatkan perhatian pada pembangunan organisasi.
Sementara itu, Iptu Slamet Efruan menyebut keputusan yang lahir melalui musyawarah merupakan jawaban atas doa seluruh masyarakat Kei. Ia mengakui dinamika dalam organisasi adalah sesuatu yang wajar, namun tidak boleh berkembang menjadi perpecahan.
"Organisasi pasti memiliki dinamika. Tetapi jangan sampai dinamika itu merugikan kita semua. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita kembali bersatu dan bekerja untuk masyarakat Kei," katanya.
Slamet menegaskan dirinya bersama Muhammad Taweatubun akan menjalankan amanah kepemimpinan secara kolektif dengan tetap meminta arahan para sesepuh adat sebagai pijakan dalam setiap kebijakan organisasi.
Menurut dia, kepengurusan yang akan dibentuk nantinya harus menjadi ruang bersama bagi seluruh elemen masyarakat Kei tanpa membedakan kelompok maupun pilihan yang muncul selama Musda.
"Kami ingin bekerja untuk suku. Persoalan-persoalan yang kemarin terjadi kita tinggalkan. Sekarang saatnya menyatukan kekuatan agar masyarakat Kei di Kabupaten Fakfak semakin diperhitungkan," ujarnya.
Kesepakatan damai tersebut menjadi penutup Musda yang sempat berlangsung dalam suasana kompetitif. Alih-alih meninggalkan luka politik internal, forum itu justru melahirkan model kepemimpinan yang mengedepankan rekonsiliasi, gotong royong, dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat.
Bagi masyarakat Kei, keputusan itu bukan sekadar kompromi politik organisasi. Ia menjadi penegasan bahwa dalam semangat Ain Ni Ain, persaudaraan tetap ditempatkan di atas segala kepentingan, sehingga tidak ada kemenangan yang lebih mulia selain menjaga keluarga tetap utuh.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook