Hadapi Ancaman Gempa dan Tsunami, Pemkot Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Lewat Sekolah Lapang

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 25 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Hadapi Ancaman Gempa dan Tsunami, Pemkot Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Lewat Sekolah Lapang

AMBON,Kabaesulsel-Indonesia.web.id. Kota Ambon terletak di kawasan yang memiliki potensi tinggi bencana geologi. Sejarah mencatat peristiwa besar, dan pengalaman terus mengingatkan: bencana bisa datang kapan saja. Meski tidak bisa dihindari, risiko dapat diminimalkan melalui kesiapan, pengetahuan, dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.

Komitmen ini ditegaskan Walikota Ambon, Bodewin M. Wattimena, saat membuka kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami Kota Ambon Tahun 2026, yang berlangsung di Ruang Rapat Vlissingen, Balai Kota Ambon, Sabtu (24/10/2026).

-Ancaman Nyata yang Tak Boleh Diabaikan

Kota Ambon tidak hanya menghadapi risiko gempa bumi dan tsunami. Banjir, tanah longsor, serta bencana akibat cuaca ekstrem juga berulang setiap tahun. Sejarah mencatat gempa besar tahun 1950 yang disertai tsunami di kawasan Galala–Hative Kecil dan menelan banyak korban jiwa. Pengalaman kembali terulang pada tahun 2019, ketika aktivitas kegempaan tinggi di Maluku menyebabkan kerusakan bangunan di berbagai titik Kota Ambon.

"Bencana tidak mungkin kita hindari. Namun yang terpenting adalah bagaimana kesiapsiagaan kita sehingga ketika bencana datang, kita mampu menghadapinya dan mengurangi risiko yang ditimbulkan," tegas Walikota.

Sebagian besar kawasan permukiman Ambon berada di wilayah pesisir. Inilah alasan utama mengapa budaya sadar bencana harus terus diperkuat dan tidak boleh sekadar menjadi wacana.

-Landasan Hukum dan Langkah Nyata Pemkot Ambon

Pemerintah Kota Ambon telah menetapkan Peraturan Daerah Kota Ambon Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Bencana sebagai payung hukum penanganan bencana. Berbagai upaya terpadu terus dilaksanakan:

- Pemasangan rambu dan jalur evakuasi di titik-titik rawan

- Eduksi kebencanaan berkelanjutan kepada masyarakat

- Kerja sama strategis dengan BMKG dan lembaga internasional UNESCO

Bentuk nyata kolaborasi tersebut antara lain:

-Program Tsunami Ready di Desa Galala dan Hative Kecil

-Pembangunan Tugu Tsunami di Desa Hative Kecil

-Edukasi melalui Sekolah Lapang bagi masyarakat pesisir

"Saat gempa 2019 lalu, masyarakat sudah menunjukkan reaksi yang baik — bergerak cepat ke tempat yang lebih tinggi. Ini modal berharga. Namun, kebiasaan menyelamatkan diri ini harus terus diperkuat dengan pemahaman yang benar tentang karakteristik gempa dan tsunami," ungkapnya.

-Sekolah Lapang: Sasarkan Tiga Wilayah Rawan

Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami Tahun 2026 menyasar tiga wilayah utama: Kelurahan Tihu, Negeri Rumah Tiga, dan Desa Poka. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kepedulian, dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

"Satu hal yang paling kita perjuangkan: tidak ada korban jiwa. Itu masih bisa kita upayakan, asalkan masyarakat memahami dengan benar cara menyelamatkan diri saat gempa dan tsunami terjadi," ujar Walikota dengan tegas.

Beliau juga mengingatkan bahwa fasilitas mitigasi yang sudah disediakan pemerintah — rambu, jalur evakuasi, tanda peringatan — tidak akan berguna jika masyarakat tidak tahu lokasinya dan tidak memahami fungsinya.

"Infrastruktur saja tidak cukup. Kesiapsiagaan harus tumbuh menjadi kesadaran dan kebiasaan bersama. Saat bencana datang, keputusan cepat dan tepat itulah yang menyelamatkan nyawa," pesannya.

-Sinergi Semua Pihak Kunci Utama

Kegiatan ini dihadiri secara daring oleh Anggota Komisi V DPR RI, Widya Pratiwi Murad, serta Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Dr. Teguh Rahayu, S.Kom., M.M. Secara langsung hadir Kepala BBMKG Wilayah IV Makassar, Dr. Nasrol Adil.

Walikota mengapresiasi dukungan semua pihak yang terlibat. Pemkot Ambon berharap kegiatan ini tidak berhenti di seremonial, tetapi benar-benar menjadi bekal nyata bagi masyarakat untuk lebih tenang, siap, dan tangguh menghadapi potensi bencana.

"Kita tidak bisa mencegah gempa terjadi. Tapi kita bisa memastikan bahwa saat itu terjadi, kita semua tahu apa yang harus dilakukan. Itulah makna sebenarnya dari Sekolah Lapang ini — demi keselamatan kita semua," tutup Bodewin Wattimen

(M.N)