Sepuluh Hari Menyelamatkan Nyawa: RSUD Fakfak Gembleng Perawat Hadapi Detik-Detik Kritis
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di ruang pelatihan yang dipenuhi manekin resusitasi dan monitor jantung, waktu seolah dipadatkan menjadi hitungan detik. Di situlah 42 perawat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak ditempa menghadapi situasi paling genting dalam dunia medis: ketika hidup dan mati ditentukan oleh kecepatan dan ketepatan tindakan.
Selama sepuluh hari, 4 hingga 13 Mei 2026, RSUD Fakfak menggelar pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS). Bukan sekadar agenda rutin, kegiatan ini menjadi penegasan komitmen rumah sakit daerah tersebut dalam memperkuat lini depan pelayanan kegawatdaruratan.
Direktur RSUD Fakfak, Farid Fauzan Mahubessy, menyebut pelatihan ini sebagai investasi jangka panjang bagi keselamatan pasien.
“Dalam kondisi gawat darurat, perawat adalah garda terdepan. Mereka yang pertama kali berhadapan dengan pasien dalam kondisi kritis. Kompetensi mereka harus selalu terbarui dan terstandar,” ujarnya, Selasa (5/5).
Baginya, mutu layanan tak hanya diukur dari kelengkapan alat medis atau megahnya bangunan rumah sakit, tetapi dari kesiapan sumber daya manusia yang bergerak cepat saat alarm code blue berbunyi.
“Tujuan akhirnya jelas: menekan angka kematian dan kecacatan akibat keterlambatan atau kesalahan penanganan,” kata Farid.
Pelatihan ini sekaligus menjawab tuntutan regulasi nasional, mulai dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Standar Pelayanan Minimal (SPM), hingga standar akreditasi rumah sakit yang menempatkan kompetensi tenaga kesehatan sebagai fondasi utama layanan kegawatdaruratan.
Ketua panitia pelatihan, Halijah Bauw, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menyamakan persepsi sekaligus menyatukan keterampilan teknis para perawat.
“Tidak boleh ada standar ganda dalam penanganan pasien trauma atau henti jantung. Semua harus bergerak dengan prosedur yang sama, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan secara profesional,” ujarnya.
Sebanyak 40 perawat berasal dari berbagai unit strategis Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), rawat inap, hingga rawat jalan. Dua peserta lainnya datang dari Puskesmas Kramongmongga.
Mereka dipilih melalui seleksi internal dengan mempertimbangkan masa kerja, rekam jejak kinerja, serta belum pernah mengikuti pelatihan serupa.
Materi yang diberikan tak setengah-setengah. Peserta dilatih melakukan penilaian awal (initial assessment), resusitasi jantung paru (RJP) berkualitas tinggi, manajemen jalan napas, interpretasi dasar elektrokardiogram (EKG), defibrilasi, hingga stabilisasi pasien trauma. Seluruh kurikulum mengacu pada standar internasional yang direkomendasikan American Heart Association.
Untuk menjaga mutu, RSUD Fakfak menggandeng Pro Emergency, lembaga pelatihan kegawatdaruratan medis yang berdiri sejak 2007 dan terakreditasi “A” oleh PPSDM Kementerian Kesehatan RI. Kolaborasi ini memastikan materi dan praktik berjalan sesuai standar nasional maupun internasional.
Ini merupakan pelaksanaan kedua pelatihan BTCLS oleh RSUD Fakfak. Konsistensi tersebut mencerminkan kesadaran bahwa tantangan pelayanan kesehatan di Papua Barat tidak bisa dihadapi dengan pendekatan biasa.
Keterbatasan akses dan distribusi tenaga medis yang belum merata menuntut rumah sakit daerah untuk memperkuat kapasitas internalnya.
Lebih dari sekadar peningkatan keterampilan individu, pelatihan ini diarahkan untuk membangun sistem. Respons time dalam kondisi darurat diupayakan lebih singkat. Prosedur penanganan code blue diseragamkan. Risiko kesalahan medis ditekan seminimal mungkin.
Di wilayah yang secara geografis menantang seperti Fakfak, setiap detik berarti. Setiap keputusan klinis harus tepat. Dan setiap perawat harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dengan kepala dingin dan tangan terampil.
Pelatihan sepuluh hari itu mungkin berakhir pada 13 Mei. Namun dampaknya diharapkan jauh melampaui tanggal tersebut terlihat pada pasien-pasien yang tertolong, pada keluarga yang pulang dengan harapan, dan pada kepercayaan publik yang kian menguat terhadap pelayanan kesehatan daerah.
RSUD Fakfak menunjukkan bahwa peningkatan kualitas bukan hanya soal pembangunan fisik, melainkan tentang membangun manusia yang menjalankan sistemnya. Di ruang-ruang gawat darurat, di antara bunyi monitor dan langkah tergesa, komitmen itu kini sedang diuji dan diperkuat.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook