Dari Fakfak, GPI Papua Luncurkan Kurikulum Katekisasi Perdana, Bupati Samaun Dukung Pembangunan Iman

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 25 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Fakfak, GPI Papua Luncurkan Kurikulum Katekisasi Perdana, Bupati Samaun Dukung Pembangunan Iman

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Suara sirene menggema dari Gedung Gereja Bakal Jemaat GPI Papua Galilea Kampung Torea, Senin, 25 Mei 2026. Di hadapan tokoh gereja, tokoh adat, pemerintah daerah, dan warga jemaat, momen itu menandai sesuatu yang lebih dari sekadar peluncuran sebuah buku. Ia menjadi penanda babak baru perjalanan pelayanan Gereja Protestan Indonesia di Papua.

Dengan didampingi para pimpinan gereja, Samaun Dahlan secara resmi meluncurkan Kurikulum Katekisasi GPI Papua kurikulum pertama yang disusun secara terintegrasi setelah lebih dari empat dekade perjalanan gereja.

Peluncuran itu berlangsung bersamaan dengan penyerahan hibah keagamaan Pemerintah Kabupaten Fakfak untuk mendukung pembangunan fisik tujuh jemaat di wilayah Fakfak dan sekitarnya.

Suasana acara berlangsung khidmat, namun penuh harapan. Gereja dan pemerintah tampak berdiri dalam satu semangat yang sama: membangun manusia Papua tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.

Wakil Ketua I MPK Sinode GPI Papua, Rudi Falirat, dalam sambutannya menyebut peluncuran kurikulum tersebut sebagai “pekerjaan rumah” gereja yang akhirnya berhasil diselesaikan setelah tertunda puluhan tahun.

“Sebelum kami bertiga tiba di kota ini, kami baru saja membuka pelayanan GPI Papua di wilayah Biak. Tepat hari ini pelayanan itu genap berusia satu tahun,” ujar Falirat membuka sambutannya.

Ia menjelaskan, di tengah berbagai agenda pelayanan, GPI Papua kini juga tengah melakukan pemeriksaan keuangan internal di seluruh klasis sebagai bagian dari persiapan Sidang Sinode mendatang. Langkah itu disebut sebagai upaya membangun tata kelola gereja yang lebih bertanggung jawab dan transparan.

Namun perhatian utama hari itu tertuju pada lahirnya Kurikulum Katekisasi Integratif Berbasis Alkitab sebuah kurikulum yang dirancang bukan hanya untuk mengajarkan doktrin gereja, tetapi juga membentuk karakter warga gereja yang peka terhadap realitas sosial dan memiliki kesadaran kebangsaan.

“Pembentukan spiritualitas manusia adalah bagian penting dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Karena itu gereja harus hadir membangun kualitas iman umat secara terarah dan berkelanjutan,” kata Falirat.

Kurikulum tersebut disusun oleh tim Sekolah Tinggi Teologi GPI Papua bersama para penulis dan editor yang ditugaskan Badan Majelis Pekerja Sinode. Ketua tim penyusun, Ruben Rewasan, menjelaskan bahwa kurikulum ini merupakan pembaruan dari buku katekisasi terakhir yang diterbitkan pada tahun 2000.

Artinya, selama lebih dari 25 tahun, GPI Papua belum memiliki kurikulum katekisasi baru yang disusun secara sistematis dan menyeluruh.

Di tangan para akademisi dan tenaga pengajar teologi, kurikulum itu kemudian dirancang dengan pendekatan hermeneutik yang bertanggung jawab, menjadikan Alkitab sebagai dasar utama, namun tetap berpijak pada konteks sosial dan budaya Papua.

Kurikulum ini memadukan nilai-nilai iman dengan realitas kebangsaan, cinta tanah air, serta kearifan lokal Papua. Di dalamnya terdapat materi pembelajaran selama 44 hingga 52 minggu dalam satu tahun pelayanan gereja.

Tujuannya jelas: membentuk warga gereja yang matang secara iman sebelum mengikuti sidi dan pengakuan percaya di hadapan jemaat.

Peluncuran kurikulum itu juga menjadi simbol perjalanan panjang GPI Papua yang kini memasuki usia ke-41 tahun pelayanan. Di tengah tantangan sosial, perubahan zaman, dan kompleksitas kehidupan masyarakat Papua, gereja dinilai perlu menghadirkan pola pembinaan iman yang relevan dengan konteks lokal.

Di sisi lain, dukungan Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui hibah keagamaan memperlihatkan adanya sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan dalam memperkuat fondasi sosial masyarakat.

Bagi Pemerintah Kabupaten Fakfak, pembangunan rumah ibadah dan penguatan pendidikan iman bukan sekadar urusan gereja, melainkan bagian dari pembangunan manusia seutuhnya.

Karena itu, peluncuran kurikulum ini dipandang bukan hanya sebagai agenda internal gereja, tetapi juga momentum sosial yang penting bagi masa depan Papua.

Di akhir acara, tepuk tangan panjang mengiringi penekanan tombol sirene oleh Bupati Fakfak. Simbol sederhana itu menjadi penanda bahwa setelah penantian panjang selama puluhan tahun, GPI Papua akhirnya memiliki arah baru dalam pembinaan iman umatnya.

Dari Fakfak, sebuah langkah besar dimulai langkah yang hendak menanamkan iman, membangun karakter, dan menjaga Papua tetap bertumbuh di atas nilai persaudaraan, kebangsaan, dan kasih.

 

Writter & Editor : Den