Menyusuri Jejak Peradaban di Ujung Papua: Saat Pangdam Kasuari Terpesona oleh Kokas, Patimburak, dan Ugar
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Matahari belum sepenuhnya turun ketika perahu yang membawa Panglima Kodam XVIII/Kasuari, Mayor Jenderal TNI Christian K. Tehuteru, membelah perairan tenang Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak. Di hadapannya, gugusan pulau-pulau kecil tampak mengapung di atas laut biru yang nyaris tanpa batas. Tebing-tebing karang berdiri kokoh mengawal pesisir, sementara kampung-kampung tua menyimpan cerita panjang tentang peradaban yang telah hidup jauh sebelum republik ini lahir.
Kunjungan kerja yang dijalani Pangdam Kasuari pada akhir Mei 2026 itu pada mulanya merupakan agenda kedinasan biasa. Namun, semakin jauh perjalanan menembus wilayah pesisir Fakfak, semakin terasa bahwa kunjungan tersebut berubah menjadi sebuah penjelajahan terhadap sejarah, budaya, dan wajah asli Papua yang masih terjaga.
Didampingi Ketua Persit KCK PD XVIII/Kasuari Ny. Mevy Christian Tehuteru, Danrem 182/Jazira Onim Kolonel Inf Irwan Budiana, Dandim 1803/Fakfak Letkol Inf Wahlin Rahman, serta Ketua TP PKK Fakfak Ny. Nurwidayati Samaun Dahlan, Pangdam memulai perjalanan dari Karas. Di sana, rombongan menikmati panorama Toran Beach, Air Kiti-Kiti, hingga menyaksikan matahari tenggelam dari Tubir Seram—sebuah titik pandang yang memperlihatkan keagungan bentang alam Teluk Berau.
Namun, pesona sesungguhnya menanti di Kokas.
Distrik yang berdiri sebagai salah satu kawasan tertua di Fakfak itu menyimpan lapisan sejarah yang tak mudah ditemukan di tempat lain. Di sela agenda peninjauan Koramil Kokas untuk memastikan kesiapan satuan teritorial, Pangdam menyempatkan diri menyusuri jejak-jejak masa lalu yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Langkahnya kemudian berhenti di Goa Jepang.
Lorong-lorong batu yang gelap dan lembap itu pernah menjadi bagian dari sistem pertahanan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Di tempat itu, sejarah terasa begitu dekat. Dinding-dinding tua yang dahulu menjadi saksi ketegangan perang kini berdiri dalam kesunyian, seolah menyimpan cerita yang belum seluruhnya selesai dituturkan.
Dari Kokas, perjalanan berlanjut menuju Kampung Patimburak.
Di sana berdiri Masjid Tua Patimburak, bangunan bersejarah yang telah lama menjadi simbol toleransi di Tanah Papua. Masjid yang menghadap laut itu bukan hanya tempat ibadah, melainkan penanda bahwa keberagaman telah hidup dan tumbuh di Fakfak jauh sebelum istilah moderasi beragama menjadi bagian dari wacana nasional.
Di halaman masjid tua itu, Pangdam menyerahkan bantuan sembako kepada warga. Tidak ada seremoni yang berlebihan. Hanya sapaan hangat, senyum masyarakat, dan percakapan sederhana yang memperlihatkan kedekatan antara aparat negara dan warga kampung.
Perjalanan kemudian membawa rombongan menuju Tapurarang.
Di kawasan ini, sejarah berbicara dalam bahasa yang lebih tua lagi. Pada dinding-dinding tebing batu yang menghadap laut, terpampang lukisan cap tangan manusia berwarna merah yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun. Jejak purbakala itu menjadi bukti bahwa kawasan pesisir Fakfak pernah menjadi ruang hidup manusia sejak masa yang sangat lampau.
Bagi siapa pun yang menyaksikannya, Tapurarang bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah museum alam terbuka yang menyimpan identitas dan memori kolektif tentang perjalanan manusia di pesisir Papua.
Menjelang sore, rombongan tiba di Kampung Ugar.
Suasana kampung berubah meriah. Warga menyambut tamu mereka dengan tarian Sawat, tarian tradisional yang sarat makna persaudaraan dan penghormatan. Anak-anak berlarian di pesisir, para orang tua berdiri berjajar menyambut kedatangan rombongan, sementara laut di depan kampung memantulkan cahaya keemasan senja.
Di kampung itulah Pangdam kembali menyerahkan bantuan sosial kepada masyarakat.
Namun lebih dari sekadar bantuan, yang terlihat adalah upaya membangun kedekatan. TNI hadir bukan hanya sebagai institusi pertahanan, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan berbagai tantangan geografis di wilayah pesisir.
Saat berdialog dengan warga, Mayjen TNI Christian K. Tehuteru mengaku terkesan dengan sambutan yang diterimanya sejak pertama menginjakkan kaki di Fakfak.
"Sejak pertama kali tiba hingga berada di tempat ini, saya merasakan semangat kebersamaan, keramahan, dan persatuan yang sangat kuat dari seluruh masyarakat. Hal tersebut memberikan kesan yang sangat mendalam bagi saya dan rombongan," katanya.
Bagi Pangdam, kekuatan terbesar yang dimiliki masyarakat Fakfak bukan hanya keindahan alamnya, melainkan kemampuan mereka menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.
Ia melihat adat istiadat masih hidup, tradisi tetap dihormati, dan nilai-nilai kebersamaan masih menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Hal itulah yang menurutnya menjadi modal sosial penting dalam menjaga stabilitas dan mempercepat pembangunan daerah.
Perjalanan menuju Ugar juga membuka pandangannya terhadap besarnya potensi wisata yang dimiliki Fakfak. Gugusan pulau kecil, pantai yang masih alami, laut yang jernih, serta kekayaan sejarah yang tersebar di berbagai titik merupakan aset yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
"Potensi yang dimiliki wilayah ini luar biasa. Jika dikelola secara baik dan berkelanjutan, saya yakin dapat memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Ketertarikan itu bahkan mendorong keinginannya untuk mendokumentasikan keindahan Fakfak melalui foto dan video agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.
Namun di balik kekagumannya terhadap alam, Pangdam mengingatkan bahwa masa depan Papua tidak hanya ditentukan oleh keindahan lanskapnya. Pendidikan, menurut dia, harus menjadi prioritas yang sama pentingnya.
Anak-anak di kampung-kampung pesisir, katanya, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan bersaing dengan generasi muda di kota-kota besar Indonesia.
Menjelang matahari tenggelam di ufuk Pulau Ugar, kunjungan kerja itu seakan menemukan maknanya sendiri.
Di antara jejak perang dunia, masjid tua yang menjadi simbol toleransi, lukisan purbakala di tebing batu, serta tarian tradisional yang menyambut senja, Pangdam Kasuari melihat sebuah wajah Papua yang sesungguhnya: kaya sejarah, teguh menjaga budaya, dan menyimpan harapan besar untuk masa depan.
Fakfak, dalam perjalanan itu, bukan sekadar daerah yang dikunjungi. Ia menjadi kisah tentang bagaimana alam, sejarah, dan manusia dapat berpadu membentuk identitas yang tetap hidup di ujung timur Indonesia.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook