Golkar Fakfak Menatap 2029: Samaun Dahlan Minta Kader Bangun Partai dari Distrik, Bukan Sekadar dari Panggung Politik

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 15 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Golkar Fakfak Menatap 2029: Samaun Dahlan Minta Kader Bangun Partai dari Distrik, Bukan Sekadar dari Panggung Politik

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Musyawarah Daerah V Partai Golkar Kabupaten Fakfak tidak sekadar menjadi forum pergantian kepengurusan. Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua Barat, Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP, menjadikannya sebagai ruang untuk mengukur kembali kekuatan organisasi sekaligus menyiapkan partai menghadapi pertarungan politik menuju Pemilu 2029.

Di hadapan jajaran pengurus, kader, senior dan sesepuh Golkar, pimpinan partai politik, penyelenggara pemilu, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, organisasi kemasyarakatan serta para peserta MUSDA V, Samaun menyampaikan tiga pekerjaan rumah utama: kaderisasi, konsolidasi organisasi, dan penguatan kelembagaan.

Menurut dia, partai yang sehat tidak boleh menggantungkan masa depannya pada segelintir figur.

“Kita tidak boleh bergantung hanya kepada beberapa orang, apalagi hanya bertumpu pada satu orang,” kata Samaun dalam sambutannya.

Bagi Samaun, kaderisasi bukan sekadar proses menambah anggota. Ia merupakan mekanisme untuk membentuk kapasitas, karakter, disiplin, kepemimpinan, sekaligus pemahaman kader terhadap aturan organisasi.

Karena itu, ia meminta ruang yang lebih besar diberikan kepada kader muda, perempuan, serta kader potensial yang tumbuh dari distrik, kampung, organisasi kemasyarakatan, kelompok profesi dan berbagai bidang pengabdian masyarakat.

Regenerasi, kata dia, tidak boleh baru bergerak ketika masa jabatan pengurus hampir berakhir. Kader senior harus membimbing kader baru, sementara kader yang memiliki kapasitas harus diberi kesempatan mengambil tanggung jawab.

“Dengan pola seperti itu, organisasi memiliki cadangan kepemimpinan yang cukup dan tidak mengalami kekosongan ketika terjadi pergantian kepengurusan,” ujarnya.

Jangan Besar di Administrasi, Kecil di Lapangan

Samaun kemudian menyoroti konsolidasi organisasi. Ia mengingatkan bahwa kekuatan Golkar tidak cukup diukur dari keberadaan kepengurusan di tingkat kabupaten.

Struktur partai, menurut dia, harus benar-benar hidup hingga tingkat distrik dan wilayah yang menjadi basis kerja politik.

Karena itu, setelah MUSDA V, ia mendorong dilakukan konsolidasi menyeluruh. Data kepengurusan harus diperbarui, struktur yang belum lengkap segera dibenahi, sementara kepengurusan yang tidak lagi aktif perlu dievaluasi sesuai mekanisme organisasi.

Pesannya sederhana: jangan sampai Golkar terlihat lengkap di atas kertas, tetapi kosong aktivitas di lapangan.

Komunikasi antara DPD kabupaten, pimpinan distrik, organisasi sayap, badan dan lembaga partai harus berjalan rutin. Rapat tidak boleh hanya muncul menjelang agenda besar. Sekretariat harus aktif, program kaderisasi harus memiliki jadwal, dan koordinasi dengan struktur di bawah harus berlangsung secara periodik.

“Jangan sampai organisasi terlihat lengkap secara administratif tetapi tidak memiliki aktivitas yang terencana,” tegasnya.

Empat Kursi Menjadi Tiga: Bukan Alasan untuk Pesimistis

Samaun juga membuka catatan elektoral Golkar Fakfak secara terang-terangan.

Pada periode DPRD 2019–2024, Golkar memperoleh empat dari 20 kursi DPRD Kabupaten Fakfak. Pada Pemilu 2024, jumlah itu turun menjadi tiga kursi. Ketiga kursi tersebut tersebar masing-masing satu kursi di Dapil Fakfak 1, Fakfak 2 dan Fakfak 3.

Secara proporsional, keterwakilan Golkar turun dari 20 persen menjadi 15 persen.

Namun Samaun tidak membaca penurunan tersebut sebagai alasan untuk berkecil hati.

Sebaliknya, angka itu ia tempatkan sebagai bahan evaluasi.

Golkar, menurut dia, masih memiliki fondasi politik yang kuat di Fakfak. Partai ini bahkan bersama Gerindra menjadi dua partai dengan jumlah kursi terbanyak di DPRD Fakfak hasil Pemilu 2024.

“Data seperti ini tidak perlu kita baca dengan pesimisme. Kita harus membacanya sebagai bahan evaluasi organisasi dan menjadi spirit serta motivasi dalam memperjuangkan eksistensi Golkar,” katanya.

Di titik inilah MUSDA V memperoleh makna yang lebih besar. Pergantian kepengurusan bukan sekadar memilih siapa yang duduk di kursi pimpinan. Forum tersebut harus menjawab mengapa empat kursi berubah menjadi tiga dan apa yang harus dilakukan agar penurunan tidak berulang pada 2029.

Politik 2029 Tidak Bisa Mengandalkan Masa Lalu

Samaun mengingatkan bahwa perjalanan menuju Pemilu 2029 berlangsung dalam lanskap politik yang berubah cepat.

Figur politik dapat berubah. Komposisi masyarakat bergerak. Generasi pemilih berganti. Cara masyarakat memperoleh dan mengelola informasi juga berubah.

Karena itu, kemenangan masa lalu tidak otomatis menjadi tiket kemenangan masa depan.

Golkar harus mampu membaca perubahan tersebut melalui kerja organisasi yang nyata, komunikasi internal yang sehat dan kemampuan kader memahami persoalan masyarakat di wilayah masing-masing.

“Pengalaman masa lalu tidak otomatis menjamin hasil pada masa yang akan datang,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi peringatan agar Golkar tidak terjebak dalam romantisme sejarah sebagai partai yang pernah dominan. Partai harus terus bekerja untuk mempertahankan relevansinya.

Kelembagaan Harus Bekerja, Bukan Sekadar Terdaftar

Samaun kemudian mendorong penguatan kelembagaan partai dengan tata kelola yang lebih modern.

Administrasi kepengurusan, dokumentasi kegiatan, pengaderan, basis data anggota, sistem komunikasi, pengelolaan program dan keuangan, pengambilan keputusan, pelaporan hingga evaluasi kinerja pengurus harus dilakukan secara tertib.

Setiap bidang harus memahami tugasnya. Program kerja harus realistis, memiliki target, pembagian tanggung jawab, jadwal pelaksanaan dan evaluasi berkala.

Dengan demikian, hasil MUSDA tidak berhenti sebagai keputusan forum, tetapi berubah menjadi pekerjaan organisasi yang dapat diukur.

Samaun juga mengingatkan bahwa karakter sosial, budaya dan geografis Fakfak membutuhkan pendekatan organisasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Kader Golkar harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat, memahami persoalan daerah, menjaga nilai kebersamaan dan membangun hubungan dengan seluruh kelompok masyarakat.

MUSDA Jangan Menjadi Titik Perpecahan

Satu pesan lain disampaikan Samaun: perbedaan pandangan dalam MUSDA merupakan sesuatu yang wajar.

Namun setelah keputusan diambil melalui mekanisme organisasi, seluruh kader harus kembali berada dalam satu barisan.

MUSDA, kata dia, harus menjadi ruang memperkuat organisasi, bukan meninggalkan luka dan perpecahan.

Ia mengajak seluruh peserta menyelesaikan seluruh agenda MUSDA dengan menjunjung tinggi musyawarah, kedewasaan organisasi, disiplin dan kebersamaan.

Pada akhirnya, tantangan Golkar Fakfak bukan hanya siapa yang memimpin setelah MUSDA V. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kepengurusan baru mengubah organisasi dari sekadar struktur administratif menjadi mesin politik yang bekerja setiap hari.

Jika tiga agenda yang ditekankan Samaun (kaderisasi, konsolidasi dan penguatan kelembagaan) benar-benar dijalankan, maka MUSDA V tidak berhenti sebagai pergantian kepengurusan.

Ia dapat menjadi titik balik bagi Golkar Fakfak untuk memulihkan kekuatan politiknya, memperluas basis kader dan menatap Pemilu 2029 dengan organisasi yang lebih siap.

Samaun menutup sambutannya dengan harapan agar MUSDA V melahirkan kepengurusan yang solid, program kerja terukur, kaderisasi berkelanjutan dan kelembagaan yang tertib serta efektif.

Sebab bagi Golkar Fakfak, 2029 tidak akan dimenangkan oleh slogan. Ia akan ditentukan oleh seberapa serius partai bekerja sejak hari ini.

 

Writter & Editor : Den