Kepala Kampung Tibatibananam Gerakkan Tiga Kampung Jaga Mutu Pala Tomandin

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Kepala Kampung Tibatibananam Gerakkan Tiga Kampung Jaga Mutu Pala Tomandin

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Menjaga mutu pala Fakfak tidak cukup berhenti pada kebijakan pemerintah daerah. Di tingkat kampung, langkah konkret mulai digerakkan. Kepala Kampung Tibatibananam, H. Mansur Ugar, menginisiasi dan memfasilitasi sosialisasi Edaran Bupati Fakfak tentang mutu dan kualitas pala yang melibatkan masyarakat dari tiga kampung di Distrik Teluk Patipi.

Sosialisasi yang berlangsung di Balai Kampung Tibatibananam itu diikuti masyarakat dari Kampung Mawar, Tibatibananam, dan Offie. Forum tersebut membahas pentingnya menjaga kualitas pala sejak tanaman berada di kebun hingga komoditas diperdagangkan.

Bagi pemerintah daerah, inisiatif itu menjadi penting karena persoalan mutu pala tidak semata-mata ditentukan di tempat pengeringan atau pada saat perdagangan. Kualitas sudah ditentukan sejak buah dipelihara, dipanen, ditangani setelah panen, dikeringkan, hingga disimpan.

Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan memberikan apresiasi kepada H. Mansur Ugar karena telah mempertemukan masyarakat dari tiga kampung untuk membicarakan persoalan tersebut secara langsung.

Mansur mengatakan sosialisasi diperlukan karena masih ditemukan praktik pemanenan pala yang belum mencapai tingkat kematangan optimal. Buah dipetik lebih cepat dan langsung dijual karena kebutuhan ekonomi.

“Jangan sampai pala belum tua betul sudah dipetik. Kita harus menjaga pala kita supaya ketika dipanen benar-benar menghasilkan kualitas yang baik dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Mansur.

Menurut dia, kebutuhan ekonomi jangka pendek tidak semestinya mengorbankan kualitas komoditas yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Tingkat kematangan buah, kata dia, menentukan kualitas pala yang dihasilkan.

Mansur juga berharap mata rantai perdagangan pala di kampung memberi ruang lebih besar kepada pengumpul lokal yang merupakan Orang Asli Fakfak (OAF). Kehadiran pengumpul setempat dinilai dapat memperkuat perputaran ekonomi di kampung sekaligus mengurangi dorongan masyarakat memanen buah sebelum waktunya karena adanya pembeli yang datang dari luar.

“Kalau ada pengumpul di kampung, ekonomi masyarakat juga bisa berputar di kampung. Yang paling penting, jangan karena ingin cepat mendapatkan uang, pala yang belum matang dipetik,” ujarnya.

Persoalan lain yang disoroti Mansur ialah perubahan kondisi cuaca. Musim panas dan keterbatasan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pala, terutama tanaman muda yang baru ditanam.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam menjaga tanaman pala.

“Di tengah kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, pala harus kita jaga bersama. Jangan hanya berharap kepada pemerintah, tetapi masyarakat juga harus menjaga tanaman yang sudah ada agar tetap tumbuh dan tidak mati,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah memberi perhatian terhadap kebutuhan bibit, sarana pendukung budidaya, serta fasilitas pengeringan. Menurut dia, fasilitas pascapanen menjadi bagian penting untuk mempertahankan kualitas pala setelah dipanen.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., menyambut baik inisiatif tersebut. Menurut Widhi, keterlibatan pemerintah kampung menjadi salah satu kunci agar kebijakan mengenai mutu pala tidak berhenti sebagai edaran, tetapi benar-benar diterapkan oleh pekebun.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kepala Kampung Tibatibananam. Ini menunjukkan bahwa pemerintah kampung memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan dan masa depan komoditas pala masyarakat,” kata Widhi.

Widhi mengatakan pemerintah kampung memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan masyarakat. Dari tingkat kampung, kebiasaan pemanenan, penanganan pascapanen, hingga perdagangan pala dapat dikawal secara lebih langsung.

Ia menegaskan Edaran Bupati Fakfak tentang mutu dan kualitas pala bukan sekadar ketentuan administratif. Kebijakan tersebut merupakan upaya membangun kesadaran bahwa kualitas pala harus dijaga sejak dari kebun.

“Pemerintah hadir memberikan kebijakan, pembinaan, sosialisasi, dan dukungan. Tetapi yang paling menentukan adalah masyarakat dan pekebun sendiri. Pala itu milik masyarakat, tumbuh di kebun masyarakat, sehingga masyarakatlah yang pertama harus menjaga kualitasnya,” ujar Widhi.

Menurut dia, mutu pala dipengaruhi oleh rangkaian proses yang saling berkaitan, mulai dari pemeliharaan tanaman, tingkat kematangan buah, waktu panen, cara pemetikan, penanganan pascapanen, pengeringan, hingga penyimpanan.

Karena itu, ia mengajak pekebun tidak tergoda memanen buah yang belum matang hanya demi memperoleh pendapatan lebih cepat. Kebiasaan tersebut, jika berlangsung terus, berpotensi menurunkan mutu dan nilai ekonomi pala Fakfak.

“Kita ingin menjaga marwah pala Fakfak. Pala bukan hanya tanaman perkebunan, tetapi tanaman yang mempunyai nilai ekonomi, nilai sejarah, sekaligus menjadi investasi masyarakat Fakfak untuk masa depan. Karena itu, mari kita jaga dari kebun kita masing-masing,” kata Widhi.

Sosialisasi di tiga kampung tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan bersama antara pemerintah daerah, pemerintah kampung, pekebun, pengumpul, dan pelaku usaha pala. Tantangannya bukan sekadar memahami aturan, melainkan menjadikannya kebiasaan dalam aktivitas sehari-hari.

Mulai dari merawat tanaman, melindungi tanaman muda dari cuaca ekstrem, memanen buah pada tingkat kematangan yang tepat, hingga mengeringkan dan menyimpan pala secara baik.

Inisiatif dari Tibatibananam menunjukkan bahwa menjaga masa depan pala Fakfak tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia dapat bermula dari balai kampung, dari kesadaran pekebun, dan dari keputusan sederhana untuk tidak memetik buah yang belum waktunya.

Sebab, menjaga mutu pala bukan hanya menjaga hasil panen hari ini. Di baliknya ada nilai ekonomi, sejarah, dan masa depan komoditas yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Fakfak.
 

Writter & Editor : Den