PTMSI MALUKU TENGGARA GELAR PELATIHAN WASIT DAN COACH, KESIAPAN SDM JADI KUNCI TURNAMEN BUPATI CUP 2026

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 17 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

PTMSI MALUKU TENGGARA GELAR PELATIHAN WASIT DAN COACH, KESIAPAN SDM JADI KUNCI TURNAMEN BUPATI CUP 2026

PTMSI MALUKU TENGGARA GELAR PELATIHAN WASIT DAN COACH, KESIAPAN SDM JADI KUNCI TURNAMEN BUPATI CUP 2026

Kolser, Maluku Tenggara — Kabarsulselindonesia.web.id  Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kabupaten Maluku Tenggara menggelar pembukaan pelatihan wasit dan pelatih (*coach*) pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 09.30 WIT, bertempat di Balai Ohoi Kolser, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maluku Tenggara, Hasan Difinubun. Pelatihan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia olahraga menjelang pelaksanaan turnamen tenis meja yang dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026.

Acara pembukaan dihadiri Ketua PTMSI Kabupaten Maluku Tenggara, B. Fadly Rejaan, Wakil Ketua PTMSI Maluku, Naufal K. Alkatiri, Sekretaris Umum PTMSI Maluku, Rido Patisina, serta para peserta pelatihan wasit dan pelatih.

Pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menghasilkan perangkat pertandingan dan tenaga pelatih yang memahami aturan, memiliki kompetensi teknis, serta mampu menjalankan tugas secara profesional.

Kualitas wasit dan pelatih tidak boleh sekadar formalitas

Dalam penyelenggaraan pertandingan olahraga, kualitas wasit dan pelatih memiliki peran strategis. Wasit bertanggung jawab menerapkan peraturan pertandingan secara konsisten, sedangkan pelatih berperan membina kemampuan atlet, membangun disiplin, serta menanamkan nilai sportivitas.

Karena itu, pelatihan harus diarahkan pada penguasaan peraturan tenis meja, teknik memimpin pertandingan, pengambilan keputusan, pengendalian pertandingan, serta pemahaman terhadap etika olahraga.

Penyelenggara juga perlu memastikan materi pelatihan sesuai dengan peraturan tenis meja yang berlaku, termasuk ketentuan teknis dari International Table Tennis Federation (ITTF) yang relevan dengan tingkat kejuaraan.

Standar kompetensi tidak boleh berhenti pada kehadiran peserta atau penerbitan sertifikat semata. Pemahaman peserta perlu dinilai secara objektif agar mereka benar-benar siap menjalankan tanggung jawabnya di lapangan.

Turnamen 21–23 Oktober 2026 harus mengedepankan keadilan

Menjelang turnamen, panitia dan PTMSI diharapkan memastikan kesiapan teknis, mulai dari perangkat pertandingan, jadwal, sistem kompetisi, kelayakan sarana, hingga mekanisme penanganan keberatan atau protes.

Keputusan wasit harus didasarkan pada peraturan, bukan tekanan penonton, kepentingan pihak tertentu, atau kedekatan dengan atlet maupun tim. Setiap peserta juga harus memperoleh kesempatan bertanding secara adil sesuai ketentuan kompetisi.

Transparansi dan ketegasan penyelenggara merupakan bagian penting untuk menjaga kepercayaan atlet, pelatih, ofisial, dan masyarakat terhadap turnamen tenis meja di Maluku Tenggara.

Hal ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang mengatur pembinaan dan pengembangan olahraga, penyelenggaraan kejuaraan, standardisasi, sertifikasi, serta pengawasan keolahragaan.

Ketua panitia: Mari sukseskan kegiatan dengan kebersamaan

Ketua panitia pelaksanaan kegiatan *Bupati CUP*, Alice Lasol, menyampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Maluku Tenggara, Ketua PTMSI Kabupaten Maluku Tenggara, Wakil Ketua PTMSI Maluku, Sekretaris Umum PTMSI Maluku, serta seluruh peserta yang telah hadir dan mendukung kegiatan tersebut.

Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Menurut semangat yang disampaikan panitia, keberhasilan kegiatan tenis meja tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara, tetapi juga oleh kerja sama seluruh unsur olahraga, pemerintah daerah, peserta, dan masyarakat.

Pembinaan harus berkelanjutan, bukan berhenti pada turnamen

Pelatihan wasit dan pelatih ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat pembinaan tenis meja di Kabupaten Maluku Tenggara. Program pengembangan olahraga seperti *Pingpong Goes to School* juga berpotensi memperluas partisipasi pelajar dan membuka ruang bagi munculnya atlet-atlet muda berbakat.

Namun, keberlanjutan program tetap membutuhkan pembinaan terencana, ketersediaan sarana, peningkatan kapasitas pelatih, kompetisi yang teratur, serta evaluasi yang jelas.

Pemerintah daerah dan organisasi olahraga diharapkan dapat membangun kerja sama yang konsisten agar tenis meja tidak hanya ramai ketika turnamen berlangsung, tetapi berkembang menjadi olahraga yang berprestasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Mari sukseskan kegiatan tenis meja Maluku Tenggara dengan kebersamaan, disiplin, integritas, dan semangat sportivitas. Sebab, prestasi yang bermartabat hanya dapat lahir dari pembinaan yang serius, pertandingan yang adil, dan tata kelola olahraga yang bertanggung jawab.

Editor: Bruce Elang*