Literasi sebagai Warisan Pengabdian: Mengenang 31 Tahun 06 Bulan Dedikasi Ibu Magdalena Alerbitu di SMA Negeri 1 Tual
Tual,Kabarsulsel-Indonesia.web.id.
Oleh: Gerry Ubra, S.Pd., CPSE, Ada pengabdian yang selesai ketika masa tugas berakhir. Namun, ada pula pengabdian yang justru terus hidup melalui jejak yang ditinggalkan. Pengabdian semacam inilah yang layak dikenang, karena tidak hanya berbicara tentang lamanya seseorang menjalankan tugas, tetapi tentang nilai, inspirasi, dan perubahan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam konteks pendidikan, salah satu warisan paling berharga itu adalah literasi.
Selama 26 tahun mengabdikan diri Sebagai Aparatur Sipil Negara dan pendidik di SMA Negeri 1 Tual, Ibu Magdalena Alerbitu telah menorehkan perjalanan pengabdian yang tidak sekadar diukur melalui masa kerja. Dedikasinya dalam mendorong budaya literasi menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan di sekolah. Ia hadir sebagai sosok yang tidak hanya menjalankan kewajiban profesi, tetapi juga menjadi motivator dan pencetus semangat literasi bagi warga sekolah.
Literasi pada hakikatnya bukan hanya kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan manusia untuk memahami informasi, berpikir kritis, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, serta membangun kesadaran terhadap lingkungan sosial dan kehidupannya. Karena itu, ketika seorang guru menanamkan budaya literasi, sesungguhnya ia sedang menanam benih perubahan yang dampaknya dapat dirasakan jauh melampaui ruang kelas.
Di sinilah makna penting pengabdian Ibu Magdalena. Literasi yang diperjuangkannya bukan sekadar kegiatan membaca buku atau menghasilkan tulisan. Lebih jauh, literasi menjadi jalan untuk membangun keberanian berpikir, berbicara, menulis, dan mengemukakan gagasan. Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi peserta didik untuk menghadapi tantangan zaman.
Perjalanan 26 tahun tentu bukan waktu yang singkat. Di dalamnya terdapat berbagai dinamika pendidikan, perubahan kurikulum, perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik, serta tuntutan profesi guru yang semakin kompleks. Namun, di tengah perubahan tersebut, semangat untuk menjadikan pendidikan sebagai ruang pembentukan manusia tetap menjadi fondasi pengabdian.
Salah satu pelajaran penting dari perjalanan tersebut adalah bahwa budaya literasi tidak dapat dibangun secara instan. Ia membutuhkan keteladanan, konsistensi, kesabaran, dan kemauan untuk terus menggerakkan orang lain. Seorang guru yang gemar membaca, menulis, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan sesungguhnya sedang memberikan contoh nyata kepada peserta didiknya.
Karena itu, warisan terbesar seorang pendidik bukan hanya nilai yang tercatat dalam dokumen administrasi, tetapi perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik dan budaya sekolah yang berhasil dibangun. Ketika siswa mulai berani membaca, menulis, bertanya, berdiskusi, dan menghasilkan karya, di situlah pengabdian seorang guru menemukan maknanya.
Ibu Magdalena Alerbitu telah menjadi bagian dari perjalanan panjang SMA Negeri 1 Tual. Dedikasi tersebut patut ditempatkan sebagai bagian dari sejarah sekolah, terutama dalam membangun kesadaran bahwa literasi merupakan fondasi penting bagi kemajuan pendidikan. Apa yang telah dimulai tidak seharusnya berhenti pada satu generasi. Sebaliknya, semangat tersebut perlu diteruskan oleh guru-guru dan peserta didik berikutnya.
Di tengah derasnya arus teknologi digital dan kecerdasan buatan, gerakan literasi justru semakin relevan. Generasi muda tidak cukup hanya mampu mengakses informasi; mereka harus mampu memilah, memahami, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Literasi menjadi benteng agar teknologi tidak sekadar melahirkan konsumen informasi, tetapi manusia yang mampu berpikir dan berkarya.
Karena itu, mengenang 31 tahun 06 Bulan pengabdian Ibu Magdalena bukan sekadar mengenang masa lalu. Ini adalah momentum untuk melihat kembali nilai-nilai yang telah ditanamkan dan menjadikannya sebagai energi untuk melanjutkan perjalanan pendidikan. Pengabdian yang baik tidak berhenti pada perpisahan atau berakhirnya masa tugas. Ia terus hidup melalui orang-orang yang pernah disentuh oleh keteladanan dan perjuangan seorang pendidik.
Pada akhirnya, literasi adalah salah satu bentuk warisan yang tidak akan habis dimakan waktu. Buku dapat rusak, ruang kelas dapat berubah, teknologi dapat berganti, dan generasi terus berganti. Tetapi budaya membaca, berpikir, menulis, dan berkarya akan terus menemukan jalannya ketika ditanamkan dengan ketulusan.
Dua puluh enam tahun adalah perjalanan panjang. Namun, nilai dari perjalanan itu akan menjadi jauh lebih panjang apabila setiap jejak pengabdian berhasil menjadi inspirasi bagi generasi sesudahnya. Ibu Magdalena Alerbitu telah memberikan bagian dari perjalanan tersebut bagi SMA Negeri 1 Tual. Kini, tugas generasi berikutnya adalah menjaga nyala literasi itu agar tetap hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari masa depan pendidikan di Kota Tual.
Selamat mengenang 31 tahun 06 Bulan pengabdian. Semoga setiap halaman yang telah ditulis melalui karya, keteladanan, dan pelayanan menjadi warisan yang terus dibaca oleh generasi-generasi berikutnya.
(Elang)

























Komentar via Facebook