Pala Tomandin dan Tantangan Hilirisasi: OJK Dorong Pembiayaan Berbasis Ekosistem

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 25 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pala Tomandin dan Tantangan Hilirisasi: OJK Dorong Pembiayaan Berbasis Ekosistem

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pala Tomandin Fakfak tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas kebun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya mendorong pembentukan ekosistem usaha yang menghubungkan petani, pelaku UMKM, industri pengolahan, pemerintah daerah, akademisi, hingga sektor jasa keuangan. Gagasan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang membahas penguatan usaha dan pembiayaan komoditas pala sebagai salah satu fondasi ekonomi masyarakat Fakfak.

Kepala OJK Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, Budi Rahman, mengatakan pengembangan Pala Tomandin membutuhkan dukungan yang melampaui peningkatan produksi. Pembiayaan, penguatan kapasitas usaha, pengolahan, pemasaran, hingga keberlanjutan usaha petani perlu ditempatkan dalam satu rantai nilai. 

“Petani pala dan pelaku usaha membutuhkan dukungan dalam sebuah ekosistem,” kata Budi. 

Menurut dia, ekosistem yang terbangun akan mempertemukan kebutuhan usaha dengan akses pembiayaan dan memperluas ruang tumbuh UMKM.

Dalam forum tersebut, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., memaparkan potensi dan arah pengembangan Pala Tomandin secara daring melalui Zoom. Ia menempatkan pala sebagai bagian dari agenda pembangunan daerah dalam RPJMD Kabupaten Fakfak 2025-2029, terutama untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat dan branding pala unggul sebagai program strategis daerah.

Menurut Widhi, kekuatan utama Pala Tomandin justru terletak pada basis pengelolaannya yang berada di tangan masyarakat. Pala tidak tumbuh sebagai sekadar komoditas perkebunan, tetapi menyatu dengan kehidupan ekonomi dan kearifan lokal Fakfak. 

“Pala Tomandin bukan sekadar komoditas perkebunan. Pala merupakan bagian dari fondasi kekuatan ekonomi masyarakat Fakfak, sekaligus bagian dari identitas dan warisan budaya yang telah berkembang secara turun-temurun,” ujarnya.

Pala Tomandin juga telah tercatat sebagai produk Indikasi Geografis. Karakteristik alam, lingkungan tumbuh, sejarah dan pengetahuan lokal menjadi modal komparatif yang tidak mudah dipindahkan ke daerah lain. 

Tantangannya adalah mengubah keunggulan tersebut menjadi keunggulan kompetitif melalui peningkatan produktivitas, mutu, standardisasi, kelembagaan, teknologi, pembiayaan, hilirisasi dan akses pasar.

Widhi menegaskan, hilirisasi menjadi ruang ekonomi yang masih terbuka lebar. Perdagangan pala selama ini banyak bertumpu pada biji dan fuli, sementara daging buah dan bagian lain belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, komoditas itu dapat dikembangkan menjadi minuman, makanan olahan, sirup, manisan, lemak pala, minyak atsiri, kosmetik dan berbagai produk bernilai tambah. 

“Kita harus mengubah pola pikir dari sekadar menjual bahan baku menjadi membangun nilai tambah,” katanya.

Pengembangan itu, kata Widhi, harus tetap berpijak pada kearifan lokal, termasuk nilai Meri Totora dan Sasi Kerakera yang mencerminkan hubungan masyarakat dengan tanaman pala dan lingkungan. Pemerintah Kabupaten Fakfak juga mendorong ekstensifikasi, rehabilitasi dan intensifikasi melalui Gerakan Tanam Kebun Fakfak (GERTAK Fakfak), disertai penyediaan bibit, pendampingan teknis, peningkatan mutu dan penguatan kelembagaan.

FGD bersama OJK menjadi ruang untuk mempertemukan seluruh mata rantai tersebut. Pemerintah menyiapkan regulasi, fasilitasi dan pendampingan; petani memperkuat produktivitas dan mutu; pelaku usaha bergerak pada perdagangan serta hilirisasi; sementara sektor keuangan membuka akses pembiayaan yang sesuai dengan karakter usaha perkebunan. 

“Target akhirnya bukan hanya pala Fakfak semakin banyak diproduksi, tetapi bagaimana Pala Tomandin memiliki nilai tambah yang semakin tinggi, petaninya semakin kuat, pelaku usahanya berkembang, UMKM tumbuh, dan komoditas ini mampu memperkuat ekonomi masyarakat serta daerah,” pungkas Widhi.

 

Writter & Editor : Den