Dari Rempah ke Ragam Produk Bernilai Tinggi: Pala Tomandin Fakfak Memikat Perhatian di PENAS XVII 2026
Gorontalo, KabarsulselIndonesia.web.id | Aroma pala dari ujung barat Pulau Papua itu menyelinap di antara riuh ribuan peserta Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo. Bukan lagi sekadar rempah yang selama berabad-abad menghubungkan Nusantara dengan dunia, Pala Tomandin Fakfak kini tampil dalam wajah baru: beragam produk hilir bernilai ekonomi tinggi yang mencerminkan kemajuan inovasi masyarakat dan pelaku usaha lokal di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Dalam ajang nasional yang berlangsung pada 20–27 Juni 2026 dan dibuka oleh Gibran Rakabuming Raka, Kabupaten Fakfak hadir membawa pesan yang kuat tentang transformasi komoditas unggulan daerah. Di stan pameran, pengunjung disuguhi beragam produk turunan Pala Tomandin Fakfak yang telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis dan dikenal sebagai salah satu komoditas strategis penggerak ekonomi masyarakat Papua Barat.
Deretan produk yang dipamerkan tidak hanya menunjukkan kreativitas, tetapi juga keberhasilan proses hilirisasi yang terus didorong pemerintah daerah. Mulai dari kecap pala, lemak pala (Myristica Butter), selai pala, sirup pala, balsam pala, manisan pala, hingga berbagai produk pangan dan kesehatan berbasis pala lainnya, seluruhnya menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung.
Di balik produk-produk tersebut tersimpan satu pesan penting: pala tidak lagi dipandang hanya sebagai bahan mentah yang dijual ke pasar, melainkan telah berkembang menjadi komoditas bernilai tambah yang mampu menciptakan peluang usaha, lapangan kerja, dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Salah satu perwakilan petani dan pekebun pala Fakfak yang mengikuti kegiatan tersebut, Konstantinus Uswanas, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten Fakfak atas dukungan yang diberikan sehingga dirinya dapat mewakili petani pala Fakfak dalam forum nasional tersebut.
Menurutnya, PENAS bukan hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga ruang belajar dan memperluas jejaring yang sangat penting bagi pengembangan usaha perkebunan rakyat.
> "Kami membawa berbagai produk turunan pala sebagai bentuk promosi komoditas unggulan Fakfak kepada masyarakat Indonesia. Kegiatan ini membuka peluang pasar, kemitraan, dan kerja sama yang lebih luas bagi petani serta pelaku usaha lokal," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T, menjelaskan bahwa keikutsertaan perwakilan petani pala dalam PENAS XVII merupakan bagian dari strategi penguatan kapasitas sumber daya manusia perkebunan sekaligus memperkenalkan potensi unggulan daerah di tingkat nasional.
Menurut Widhi, peserta yang ditugaskan merupakan petani pala aktif yang memiliki pengalaman panjang di sektor perkebunan dan juga tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Pala Tomandin Fakfak (MPIG-PTF), lembaga yang berperan menjaga mutu, reputasi, dan keaslian Pala Tomandin Fakfak sebagai produk khas daerah.
"Kami berharap keikutsertaan beliau dapat menjadi representasi yang baik bagi petani pala Fakfak dalam forum nasional ini. Pengalaman yang dimiliki, ditambah keterlibatan aktif dalam MPIG-PTF, menjadi modal penting untuk memperkenalkan keunggulan Pala Tomandin Fakfak kepada khalayak yang lebih luas," kata Widhi.
Lebih jauh, Widhi menegaskan bahwa berbagai produk yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi masyarakat, kelompok tani, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah melalui Program Strategis Pala Unggul Fakfak. Program tersebut dirancang untuk mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing produk lokal.
Bagi Pemerintah Kabupaten Fakfak, hilirisasi bukan sekadar jargon pembangunan. Ia merupakan jalan menuju kemandirian ekonomi daerah yang bertumpu pada kekuatan sumber daya lokal. Ketika pala diolah menjadi beragam produk bernilai tinggi, manfaat ekonominya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga mengalir ke pelaku UMKM, kelompok perempuan, industri rumah tangga, hingga sektor perdagangan.
"Melalui PENAS XVII ini kami ingin menunjukkan bahwa Pala Tomandin Fakfak memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, bukan hanya sebagai bahan baku, tetapi sebagai produk hilir yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu bersaing di berbagai pasar. Inilah wujud nyata pengembangan komoditas unggulan daerah yang memberikan manfaat langsung bagi petani, UMKM, dan masyarakat Fakfak," ujar Widhi.
Keikutsertaan Kabupaten Fakfak dalam PENAS XVII 2026 menjadi lebih dari sekadar kehadiran pada sebuah pameran nasional. Momentum ini menjadi panggung untuk menunjukkan bagaimana rempah legendaris dari tanah Papua Barat terus bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru yang modern, inovatif, dan berdaya saing.
Dari kebun-kebun pala yang tumbuh subur di lereng dan pesisir Fakfak, lahirlah berbagai produk yang kini mulai menembus pasar yang lebih luas. Sebuah bukti bahwa ketika kearifan lokal dipadukan dengan inovasi dan komitmen pembangunan, komoditas daerah dapat menjelma menjadi simbol kemajuan sekaligus kebanggaan masyarakat.
Pala Tomandin Fakfak tidak lagi sekadar rempah warisan sejarah. Ia kini menjadi wajah masa depan ekonomi Fakfak yang terus tumbuh, mengharumkan nama daerah, dan menggaungkan potensi Papua Barat ke panggung nasional.
Writter & Editor : Den

























Komentar via Facebook