Uskup Bernardus Singgung Oligarki dan Kerusakan Alam dalam Misa 132 Tahun Papua

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 23 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Uskup Bernardus Singgung Oligarki dan Kerusakan Alam dalam Misa 132 Tahun Papua

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua di Pulau Bonyom, Kabupaten Fakfak, Sabtu, 23 Mei 2026, berubah menjadi panggung seruan moral tentang masa depan Papua. Di hadapan ribuan umat dan sejumlah pejabat daerah, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru secara terbuka menyinggung ancaman oligarki, eksploitasi alam, dan krisis kemanusiaan yang menurutnya tengah membayangi Tanah Papua.

Dalam khotbahnya, Uskup Bernardus mengingatkan bahwa Gereja tidak boleh diam ketika manusia dan alam ciptaan mengalami ketidakadilan.

Ia menegaskan, panggilan iman bukan hanya urusan ibadah di altar, melainkan keberanian menjaga martabat manusia dan keutuhan tanah Papua.

“Jangan ikut arus penipuan dunia dan ideologi kekuasaan yang membabat habis hutan di Tanah Papua. Jangan takut mengatakan kebenaran. Takutlah hanya kepada Tuhan,” kata Bernardus disambut tepuk tangan panjang umat.

Ucapan itu menjadi bagian paling kuat dalam misa syukur yang juga dirangkaikan dengan satu tahun tahbisan episkopal dirinya sebagai Uskup Timika.

Perayaan berlangsung di Pulau Bonyom, lokasi bersejarah yang diyakini menjadi titik awal berkembangnya misi Katolik di Papua sejak kedatangan Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville pada 22 Mei 1894.

Di tengah suasana religius dan penuh nuansa sejarah, Bernardus justru membawa umat pada refleksi yang lebih tajam mengenai kondisi Papua hari ini.

Ia menyinggung kerusakan hutan, eksploitasi sumber daya alam, hingga praktik kekuasaan yang menurutnya sering mengorbankan masyarakat asli Papua.

Tanpa menyebut pihak tertentu, ia mengingatkan adanya kekuatan ekonomi dan oligarki yang terus bergerak menguasai tanah Papua atas nama pembangunan.

“Kita dipanggil menjaga keutuhan ciptaan, menjaga manusia Papua, menjaga tanah ini agar tidak hancur oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan,” ujarnya.

Menurut Bernardus, seluruh umat Katolik, termasuk pejabat pemerintah, aparat hukum, anggota legislatif, dan tokoh masyarakat, memiliki tanggung jawab moral untuk membela keadilan.

Ia menyebut semua orang yang telah menerima baptisan sejatinya adalah “misionaris” dalam kehidupan sehari-hari.

“Misionaris hari ini bukan hanya pastor atau biarawan. Pejabat, hakim, polisi, anggota DPR, tokoh adat semua dipanggil menjaga kehidupan dan kemanusiaan,” katanya.

Khotbah Bernardus beberapa kali membuat suasana misa hening. Ribuan umat yang memadati area perayaan terlihat menyimak dengan serius. Sejumlah umat bahkan tampak merekam setiap bagian khotbah menggunakan telepon genggam mereka.

Selain menyinggung persoalan sosial, Bernardus juga mengajak umat meneladani keberanian Rasul Petrus dan Rasul Paulus.

Ia menggambarkan Petrus sebagai pribadi yang pernah jatuh namun bangkit dan menyerahkan hidupnya demi iman. Sedangkan Paulus disebutnya sebagai simbol militansi dan pengorbanan tanpa pamrih.

“Gereja Papua harus memiliki keberanian seperti Petrus dan Paulus berani mengatakan yang benar meski menghadapi tekanan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman Papua yang terdiri dari ratusan suku dan bahasa.

“Perbedaan bukan alasan konflik. Perbedaan adalah kekayaan yang harus dijaga dengan cinta dan persaudaraan,” kata Bernardus.

Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua tahun ini terasa berbeda karena tidak hanya menghadirkan nuansa syukur atas perjalanan Gereja, tetapi juga menjadi ruang kritik sosial yang kuat terhadap situasi Papua hari ini.

Di akhir misa, suasana Pulau Bonyom berubah haru ketika seluruh umat berdiri menyanyikan lagu Hai Tanahku Papua. Lagu itu menggema di tengah angin laut Fakfak, seolah menjadi penegasan bahwa tanah Papua bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan rumah yang harus dijaga bersama.

 

Writter : Rilis | Editor : Den