Dari Pasir Terhalus Dunia Hingga Festival Nasional, Maluku Tenggara Bidik Kei Jadi Raja Baru Pariwisata Timur Indonesia

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 19 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Pasir Terhalus Dunia Hingga Festival Nasional, Maluku Tenggara Bidik Kei Jadi Raja Baru Pariwisata Timur Indonesia

Dari Pasir Terhalus Dunia Hingga Festival Nasional, Maluku Tenggara Bidik Kei Jadi Raja Baru Pariwisata Timur Indonesia

LANGGUR, MALUKU TENGGARA Kabarsulselindonesia.web.id  — Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mulai menunjukkan ambisi besar: menjadikan Kepulauan Kei sebagai kekuatan baru pariwisata Indonesia Timur sekaligus mesin penggerak ekonomi rakyat.

Lewat talkshow publik “Maluku Tenggara Menyapa” yang disiarkan langsung dari Pantai Ngurbloat oleh RRI Tual, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara, Victor Emmanuel Buditovi Empar, membeberkan arah besar pembangunan pariwisata Kei yang kini tidak lagi bermain di level lokal, tetapi mulai menatap panggung nasional hingga internasional.

Dengan branding “Surga Pantai Dunia”, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara kini bergerak agresif memperkuat citra Kei sebagai destinasi unggulan Indonesia Timur.19/05/2026

“Kei bukan destinasi biasa. Kei adalah surga pantai dunia. Dan kita harus yakinkan dunia bahwa Kei aman, nyaman, dan layak menjadi tujuan wisata internasional,” tegas Victor.

Pernyataan itu bukan sekadar slogan kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, nama Kepulauan Kei memang terus melejit lewat sederet pencapaian besar, mulai dari Pantai Ngurbloat yang dikenal memiliki pasir terhalus dunia, homestay terbaik Asia, hingga Festival Pesona Meti Kei yang enam kali berturut-turut masuk agenda nasional Karisma Event Nusantara (KEN).

Bahkan menurut Victor, Maluku Tenggara kini mulai dijadikan barometer pariwisata Provinsi Maluku dan menjadi contoh pengembangan wisata berbasis masyarakat di kawasan timur Indonesia.

“Daerah lain mungkin punya pantai indah, tetapi Kei punya karakter yang tidak dimiliki daerah lain. Itu kekuatan besar yang harus dijaga dan dijual ke dunia,” katanya.

Tak ingin pariwisata hanya dinikmati investor atau kelompok tertentu, Pemerintah Daerah kini mendorong konsep pariwisata berbasis masyarakat atau community based tourism.

Victor menegaskan, tujuan utama pengembangan wisata bukan sekadar mendatangkan turis, tetapi membuka lapangan kerja, menghidupkan UMKM, dan menggerakkan ekonomi rakyat hingga ke desa-desa.

“Jangan sampai kita punya alam luar biasa, tapi masyarakat hanya jadi penonton. Pariwisata harus menghadirkan uang yang berputar untuk rakyat,” ujarnya tajam.

Ia bahkan menyindir mentalitas daerah yang lambat memanfaatkan potensi sendiri.

“Kita jangan jadi tikus mati di lumbung padi. Potensi besar ada di depan mata, tapi tidak mampu dikelola secara maksimal,” katanya.

Saat ini, sektor ekonomi kreatif mulai tumbuh cepat di Kepulauan Kei, terutama kuliner, kriya, fotografi, videografi, hingga fashion lokal.

Pemerintah Daerah pun mulai serius melindungi produk budaya dan karya masyarakat melalui program HAKI atau Hak Kekayaan Intelektual agar tidak diklaim pihak luar.

“Karya anak daerah tidak boleh dicuri atau diambil orang lain. Semua harus dilindungi,” tegas Victor.

Di sisi lain, strategi promosi wisata kini tidak lagi memakai pola lama. Pemerintah mulai masuk ke platform digital, jejaring internasional, hingga kerja sama promosi berbasis teknologi.

Salah satunya melalui kolaborasi dengan Telkomsel, di mana wisatawan yang tiba di Bandara Karel Sadsuitubun langsung menerima informasi digital tentang destinasi wisata dan produk ekonomi kreatif Kepulauan Kei.

Tak berhenti di situ, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara juga tengah mendorong kerja sama internasional Friendship City antara Langgur dan Darwin, Australia.

Jika jalur penerbangan Darwin–Kei–Labuan Bajo berhasil dibuka, maka Kepulauan Kei diprediksi akan menjadi salah satu simpul wisata strategis baru di Indonesia Timur.

Namun di tengah ambisi besar itu, Victor mengingatkan bahwa Kei tidak ingin menjadi korban wisata massal yang merusak lingkungan dan budaya lokal.

“Kita tidak mengejar wisata murahan atau mass tourism. Kei harus tumbuh lewat quality tourism dan ekowisata yang tetap menjaga alam dan budaya,” tegasnya.

Ia juga mengkritik masih lemahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kawasan wisata, mulai dari masalah parkir liar, kebersihan, hingga fasilitas umum yang belum tertata maksimal.

Karena itu, Pemerintah Daerah mulai mendorong pembangunan toilet berstandar internasional, area parkir khusus, musala di lokasi wisata, hingga peningkatan kualitas SDM pemandu wisata lokal.

“Pantai indah saja tidak cukup. Wisatawan datang juga karena keramahan masyarakat dan kualitas pelayanan,” katanya.

Kini dengan gaung Festival Pesona Meti Kei 2026 yang dipastikan kembali masuk agenda nasional, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara tampak serius mengubah Kepulauan Kei dari sekadar daerah wisata biasa menjadi ikon baru pariwisata kelas dunia di timur Indonesia.

*Singa*