Pala Tomandin di Tengah Musim Kering: Rp174 Miliar Berputar, Retribusi Fakfak Tembus Rp505,68 Juta

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pala Tomandin di Tengah Musim Kering: Rp174 Miliar Berputar, Retribusi Fakfak Tembus Rp505,68 Juta

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pala Tomandin tidak berhenti berdenyut meski kebun-kebun pala masyarakat menghadapi musim kering yang panjang. Hingga September 2026, komoditas yang menjadi salah satu identitas ekonomi Fakfak itu telah menggerakkan perdagangan antarpulau senilai Rp174,09 miliar, sekaligus menyumbang Rp505,68 juta kepada pendapatan daerah melalui retribusi.

Data Januari-September 2026 mencatat volume pala yang bergerak melalui aktivitas perdagangan antarpulau mencapai 1.157,58 ton atau sekitar 1,16 juta kilogram.

Dari jumlah tersebut, pala kulit masih mendominasi dengan volume 850.189 kilogram atau 850,19 ton. Komoditas ini menyumbang sekitar 73,45 persen dari total volume. Selanjutnya pala ketok mencapai 146.987 kilogram atau 146,99 ton (12,70 persen), sedangkan fuli atau bunga pala mencapai 160.407 kilogram atau 160,41 ton (13,86 persen).

Pergerakan produksi itu tidak berlangsung dalam pola yang seragam. Februari menjadi bulan dengan volume tertinggi, yakni sekitar 262,40 ton, disusul Januari sebesar 233,25 ton dan Mei sekitar 146,71 ton.

Memasuki Juni dan Juli, volume perdagangan mengalami penurunan. Aktivitas kemudian kembali bergerak pada Agustus dan September.

Di tengah fluktuasi tersebut, penerimaan retribusi daerah justru terus bertambah. Hingga September 2026, pemerintah daerah mencatat penerimaan sebesar Rp505.681.650.

Pada September saja, retribusi mencapai Rp51.316.000, meningkat dibandingkan Agustus sebesar Rp49.356.500 dan Juli sebesar Rp44.247.250.

Nilai transaksi perdagangan memberikan gambaran yang lebih besar tentang posisi pala dalam ekonomi lokal. Sepanjang Januari hingga September 2026, nilai transaksi antarpulau mencapai Rp174.099.736.250.

Angka itu bukan sekadar nilai komoditas yang berpindah dari Fakfak ke daerah lain. Di belakangnya terdapat rantai ekonomi yang melibatkan petani pekebun, pedagang pengumpul, pelaku usaha, tenaga kerja, jasa pengangkutan hingga distribusi antardaerah.

Namun, di balik perputaran ekonomi tersebut, kebun pala Fakfak sedang menghadapi tekanan yang tidak kecil.

Musim kering yang panjang dan kondisi El Niño mulai memberi tekanan terhadap produktivitas tanaman. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada tanaman yang telah menghasilkan, tetapi juga mengancam tanaman pala remaja yang tengah memasuki fase menuju produksi.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., mengatakan capaian retribusi hingga September menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi pala masih bergerak positif. Namun, angka tersebut harus dibaca bersamaan dengan kondisi kebun masyarakat.

“Kita patut bersyukur karena sampai dengan September 2026 penerimaan retribusi dari komoditas pala telah mencapai Rp505,68 juta. Angka ini terus mengalami kenaikan dari bulan ke bulan, meskipun kenaikannya tidak terlalu tajam.”

Menurut Widhi, tantangan terbesar saat ini berada pada sisi produktivitas. Kekeringan yang berlangsung cukup panjang berpotensi memengaruhi kemampuan tanaman menghasilkan buah pada periode berikutnya.

“Di beberapa wilayah, tanaman pala mengalami kekeringan yang cukup berat. Bahkan tanaman remaja yang sebenarnya sedang dipersiapkan untuk memasuki masa produksi mengalami kondisi fatal akibat kekurangan air dan sebagian mengalami kematian,” ujarnya.

Bagi Dinas Perkebunan, persoalan tersebut tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan produksi satu musim. Tanaman pala membutuhkan waktu panjang untuk mencapai produktivitas. Karena itu, kerusakan tanaman remaja hari ini berpotensi menjadi persoalan produksi pada tahun-tahun mendatang.

Di titik inilah tantangan iklim bertemu dengan agenda keberlanjutan Pala Tomandin.

Namun, pasar memberikan sinyal yang berbeda. Ketika produktivitas menghadapi tekanan, permintaan terhadap salah satu bagian bernilai tinggi dari buah pala justru meningkat.

Widhi menyebut permintaan terhadap fuli Pala Tomandin mengalami lonjakan. Kondisi tersebut ikut mendorong harga hingga sekitar Rp325 ribu per kilogram, bahkan berada di atas standar harga yang selama ini ditetapkan Pemerintah Kabupaten Fakfak.

“Di tengah tantangan produktivitas, kita masih mendapatkan kabar baik dari sisi pasar. Permintaan terhadap fuli Pala Tomandin saat ini mengalami lonjakan dan ikut mendorong kenaikan harga hingga mencapai sekitar Rp325 ribu per kilogram,” katanya.

Kenaikan harga itu menjadi peluang sekaligus pekerjaan rumah.

Peluang, karena semakin tinggi nilai produk maka semakin besar ruang bagi petani dan pelaku usaha untuk memperoleh nilai tambah. Pekerjaan rumah, karena kenaikan harga harus berjalan beriringan dengan konsistensi mutu.

Widhi mengingatkan agar momentum pasar tersebut tidak membuat pelaku usaha mengendurkan standar kualitas.

“Jangan sampai kenaikan harga membuat kita mengabaikan mutu. Justru sekarang waktunya kita semakin disiplin menjaga kualitas Pala Tomandin Fakfak, mulai dari kebun, proses panen, pemisahan fuli dan biji, pengeringan, penyimpanan, sampai dengan pengiriman ke luar daerah.”

Pernyataan itu menempatkan mutu sebagai bagian penting dari strategi mempertahankan pasar. Sebab, harga tinggi tidak akan banyak berarti jika tidak dibarengi dengan kemampuan menjaga kualitas secara konsisten.

Karena itu, Dinas Perkebunan mendorong kolaborasi antara petani, pedagang, pelaku usaha, pemerintah, MPIG-PTF, penangkar dan pemangku kepentingan lainnya.

Agenda tersebut tidak semata mengejar peningkatan volume produksi. Yang hendak dibangun adalah rantai komoditas yang mampu menghasilkan produk berkualitas, memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu mempertahankan kepercayaan pasar.

“Kita ingin Pala Tomandin bukan hanya banyak produksinya, tetapi juga semakin baik kualitasnya, semakin tinggi nilai jualnya, semakin luas pasarnya dan pada akhirnya semakin besar manfaat ekonominya bagi petani pala dan daerah,” ujar Widhi.

Menurut dia, tantangan kekeringan dan El Niño harus dijawab melalui langkah yang bersamaan: pemeliharaan kebun, rehabilitasi tanaman terdampak, sekaligus penguatan kualitas produksi.

Sebab, masa depan Pala Tomandin tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak buah yang dapat dipanen hari ini. Ia juga ditentukan oleh seberapa kuat kebun-kebun pala dipertahankan, seberapa konsisten mutunya dijaga, dan seberapa besar nilai tambah dapat tinggal di tangan masyarakat Fakfak.

Hingga September 2026, angka-angka itu menunjukkan dua wajah Pala Tomandin. Di satu sisi, lebih dari 1.157 ton pala telah bergerak dan menciptakan transaksi Rp174,09 miliar. Di sisi lain, kebun menghadapi tekanan iklim yang dapat menggerus produktivitas pada masa mendatang.

Di antara kedua keadaan itulah pekerjaan pemerintah, petani dan seluruh mata rantai Pala Tomandin berlangsung: menjaga agar komoditas warisan Fakfak tersebut bukan hanya tetap mengalir ke pasar, tetapi juga semakin bernilai bagi orang-orang yang menanam dan merawatnya.
 

Writter & Editor : Den