FESTIVAL PESONA METI KEI BUKAN SEKADAR SEREMONI: EFISIENSI ANGGARAN JADI TANTANGAN, PELESTARIAN BUDAYA TETAP PRIORITAS
Victor E. Budhi Toffi, M.Par.: Festival Pesona Meti Kei Harus Terus Berjalan, Partisipasi Masyarakat Tetap Penting, Budaya Kei Harus Terus Diangkat ke Tingkat Regional, Nasional, dan Internasional
LANGGUR, Kabarsulselindonesia.web.id — Penyelenggaraan Festival Pesona Meti Kei (FPMK) bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan semudah membalikkan telapak tangan. Di balik kemeriahan festival yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Kepulauan Kei, terdapat tantangan dalam perencanaan, pengelolaan anggaran, pelibatan masyarakat, serta upaya menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Menjelang pelaksanaan Festival Pesona Meti Kei, berbagai tanggapan dan kritik berkembang di tengah masyarakat, termasuk melalui media sosial dan grup WhatsApp. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana pemerintah daerah membuka ruang partisipasi masyarakat agar festival tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi warga dan pelaku pariwisata lokal.
Menanggapi dinamika tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara, **Victor E. Budhi Toffi, M.Par.**, memandang kritik sebagai bagian dari kepedulian terhadap pembangunan daerah. Baginya, perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyudutkan, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai ruang berdiskusi, bertukar gagasan, dan mencari solusi demi kemajuan pariwisata Maluku Tenggara.20/10/26
Efisiensi Anggaran Menjadi Tantangan, Bukan Penghalang Pelestarian Budaya
Dalam penyelenggaraan kegiatan pariwisata berskala daerah, kemampuan anggaran merupakan salah satu faktor yang perlu diperhitungkan secara cermat. Kebijakan efisiensi menuntut pemerintah daerah untuk menetapkan prioritas, menyesuaikan skala kegiatan, serta memastikan setiap penggunaan anggaran memberikan manfaat yang sepadan bagi masyarakat.
Menurut penjelasan terkait penyelenggaraan festival, keterbatasan pelibatan masyarakat dalam sejumlah kegiatan tidak serta-merta dapat diartikan sebagai ketidakpedulian pemerintah terhadap warga. Pelibatan yang lebih luas memerlukan perencanaan, koordinasi, serta dukungan pembiayaan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah.
Namun, efisiensi anggaran juga perlu diikuti dengan kreativitas dan keterbukaan. Pemerintah dapat memperkuat kolaborasi bersama komunitas budaya, tokoh adat, pemerintah ohoi, kelompok pemuda, pelaku UMKM, seniman, serta masyarakat pesisir.
Dengan pola kerja sama tersebut, semangat Festival Pesona Meti Kei tetap dapat dipertahankan tanpa harus selalu bergantung pada besarnya anggaran. Partisipasi masyarakat dapat dikembangkan melalui kegiatan budaya, promosi produk lokal, pertunjukan seni, serta berbagai bentuk kontribusi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pihak.
Kiprah Victor E. Budhi Toffi dalam Mengangkat Pariwisata dan Budaya Kei
Kiprah Victor E. Budhi Toffi dalam dunia pariwisata Maluku Tenggara menjadi bagian penting dari pembahasan mengenai keberlanjutan Festival Pesona Meti Kei. Melalui perannya sebagai Kepala Dinas Pariwisata, perhatian terhadap pengembangan destinasi, promosi potensi daerah, dan penguatan identitas budaya merupakan agenda yang perlu terus didorong secara berkesinambungan.
Festival Pesona Meti Kei bukan sekadar kegiatan untuk menghadirkan keramaian dalam satu periode tertentu. Festival ini memiliki nilai strategis sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan alam, tradisi, kearifan lokal, serta kehidupan masyarakat Kepulauan Kei kepada khalayak yang lebih luas.
Budaya Kei menyimpan kekayaan yang dapat menjadi daya tarik pariwisata, mulai dari tradisi masyarakat, nilai adat, kesenian, kuliner lokal, hingga hubungan masyarakat dengan laut dan lingkungan sekitarnya. Kekayaan tersebut perlu dikemas secara tepat agar tidak kehilangan makna aslinya ketika diperkenalkan kepada wisatawan.
Dalam konteks ini, keberlanjutan FPMK menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar kebudayaan tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi juga memperoleh ruang promosi pada tingkat regional, nasional, bahkan internasional.
Meski demikian, capaian promosi dan dampak setiap kegiatan tetap perlu dievaluasi berdasarkan data, dokumentasi, jangkauan publikasi, keterlibatan pelaku lokal, serta manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Bagi pengembangan pariwisata daerah, keberhasilan tidak cukup diukur dari kemeriahan acara atau jumlah tamu yang hadir. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah festival mampu memperkuat identitas budaya, membuka peluang usaha, meningkatkan daya tarik destinasi, dan membangun kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya sendiri.
Kritik Merupakan Bentuk Kepedulian terhadap Pembangunan Daerah
Victor E. Budhi Toffi memandang kritik sebagai bagian dari dinamika pembangunan yang perlu disikapi secara terbuka dan proporsional. Kritik yang disampaikan masyarakat dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperbaiki dalam penyelenggaraan kegiatan pariwisata.
“Bagi saya, kritik itu hadir sebagai bagian dari kepedulian untuk membangun daerah. Ada ruang yang bisa digunakan untuk berdiskusi tentang daerah ini,” demikian inti pandangan yang disampaikan dalam konteks pembahasan Festival Pesona Meti Kei.
Pandangan tersebut menempatkan dialog sebagai salah satu jalan untuk mempertemukan kebijakan pemerintah dengan harapan masyarakat. Perbedaan pendapat tidak harus berujung pada pertentangan apabila masing-masing pihak bersedia mendengarkan, menjelaskan, dan mencari jalan keluar bersama.
Masyarakat tentu memiliki hak untuk mempertanyakan pelaksanaan program, termasuk kesempatan bagi warga untuk terlibat, ruang bagi seniman lokal, serta peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada saat yang sama, pemerintah daerah perlu menjelaskan konsep kegiatan, skala prioritas, mekanisme pelibatan masyarakat, serta pertimbangan anggaran secara terbuka. Komunikasi yang baik dapat mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat kepercayaan publik.
Dengan demikian, kritik tidak semestinya langsung dipandang sebagai serangan terhadap pemerintah. Sebaliknya, kritik yang berbasis fakta dapat menjadi masukan berharga untuk memperbaiki kualitas kebijakan dan penyelenggaraan festival pada masa mendatang.
Festival Pesona Meti Kei Harus Memberikan Ruang bagi Masyarakat
Festival yang mengangkat identitas suatu daerah akan memiliki makna lebih kuat apabila masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menjaga dan memperkenalkan kebudayaannya.
Pelibatan masyarakat dapat dilakukan melalui pertunjukan seni dan budaya, promosi kuliner khas Kei, pameran produk UMKM, kegiatan komunitas, serta kerja sama dengan tokoh adat dan pemerintah ohoi. Peluang tersebut perlu dirancang secara terbuka dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.
Keterlibatan generasi muda juga penting agar tradisi leluhur tidak berhenti sebagai tontonan dalam festival tahunan. Anak-anak muda perlu memperoleh ruang untuk mempelajari, mendokumentasikan, mempromosikan, dan mengembangkan kebudayaan Kei dengan cara yang relevan bagi perkembangan zaman.
Selain menjaga tradisi, pelibatan masyarakat dapat membuka peluang ekonomi. Kehadiran wisatawan berpotensi memberikan manfaat bagi pelaku kuliner, pengrajin, penyedia jasa, pelaku transportasi, serta usaha kecil lainnya apabila kegiatan direncanakan dengan baik.
Karena itu, evaluasi terhadap FPMK sebaiknya tidak hanya berfokus pada kekurangan penyelenggaraan, tetapi juga diarahkan pada langkah konkret untuk memperluas partisipasi dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Landasan Hukum: Pariwisata Harus Berpihak pada Budaya dan Masyarakat
Penyelenggaraan Festival Pesona Meti Kei perlu ditempatkan dalam kerangka kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang mengatur sektor pariwisata.
Pertama, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.** Pasal 5 memuat prinsip penyelenggaraan kepariwisataan, antara lain menjunjung tinggi nilai agama dan budaya, melestarikan alam dan lingkungan hidup, serta memberdayakan masyarakat setempat.
Pasal 19 juga mengatur hak setiap orang untuk memperoleh kesempatan memenuhi kebutuhan wisata, melakukan usaha pariwisata, serta berperan dalam proses pembangunan kepariwisataan. Ketentuan ini memperkuat pentingnya ruang partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata daerah.
Kedua, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025.** Instruksi tersebut memberikan konteks kebijakan efisiensi belanja pemerintah pada tahun anggaran yang dimaksud. Penerapannya terhadap kegiatan pada tahun anggaran berikutnya harus mengacu pada kebijakan dan ketentuan yang berlaku untuk tahun terkait.
Dua aspek tersebut mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata membutuhkan keseimbangan antara pengelolaan anggaran yang bertanggung jawab, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Efisiensi bukan alasan untuk menutup ruang partisipasi. Sebaliknya, aspirasi masyarakat juga perlu diterjemahkan melalui perencanaan yang realistis, mekanisme yang sah, dan penggunaan anggaran yang akuntabel.
Promosi Regional, Nasional, dan Internasional Harus Berkelanjutan
Potensi pariwisata Kepulauan Kei tidak semestinya hanya diperkenalkan ketika Festival Pesona Meti Kei berlangsung. Promosi daerah perlu menjadi kerja berkelanjutan melalui berbagai momentum, baik pada tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Festival dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi wisata, budaya, produk kreatif, dan kearifan lokal kepada masyarakat luar. Akan tetapi, promosi tersebut perlu didukung informasi pariwisata yang memadai, kesiapan destinasi, aksesibilitas, kebersihan lingkungan, pelayanan kepada wisatawan, serta keterlibatan pelaku usaha lokal.
Pemerintah daerah juga dapat memperluas kerja sama dengan komunitas budaya, pelaku industri pariwisata, media, lembaga pendidikan, dan mitra lainnya. Pemanfaatan media digital dapat membantu memperkenalkan potensi Kei secara lebih luas dengan biaya yang relatif terukur.
Di sisi lain, promosi budaya harus tetap menghormati nilai adat dan makna tradisi yang diwariskan para leluhur. Kebudayaan tidak boleh kehilangan jati dirinya hanya demi kepentingan pertunjukan atau komersialisasi.
Dengan strategi yang berkesinambungan, Festival Pesona Meti Kei dapat menjadi bagian dari upaya membangun citra Maluku Tenggara sebagai daerah yang kaya budaya, memiliki potensi wisata, serta terbuka terhadap kolaborasi.
Menjaga Festival, Merawat Identitas Kei
Festival Pesona Meti Kei bukan semata-mata agenda tahunan Dinas Pariwisata. Festival ini berkaitan dengan identitas masyarakat Kepulauan Kei, kekayaan tradisi leluhur, serta kesempatan untuk memperkenalkan Maluku Tenggara kepada dunia yang lebih luas.
Karena itu, keberlanjutan festival memerlukan dukungan dan tanggung jawab bersama. Pemerintah berkewajiban merencanakan kegiatan secara transparan dan akuntabel. Masyarakat berhak menyampaikan aspirasi dan memperoleh kesempatan yang wajar untuk berpartisipasi. Sementara itu, seluruh pemangku kepentingan perlu menjaga agar kepentingan pelestarian budaya tetap menjadi landasan utama.
Kiprah Victor E. Budhi Toffi dan jajaran Dinas Pariwisata dalam mendorong pengembangan sektor pariwisata perlu terus diikuti dengan evaluasi, dialog publik, dan penguatan kolaborasi. Kritik yang disampaikan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses tersebut, sepanjang dibangun berdasarkan fakta dan diarahkan pada perbaikan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Festival Pesona Meti Kei bukan hanya seberapa meriah acara diselenggarakan, melainkan sejauh mana festival itu mampu merawat budaya, memperluas partisipasi masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, serta mengangkat nama Maluku Tenggara pada tingkat regional, nasional, dan internasional.
Pesona Meti Kei bukan sekadar seremoni. Efisiensi anggaran harus berjalan bersama keterbukaan, partisipasi masyarakat, dan komitmen pelestarian budaya. Sebab, budaya Kei bukan hanya milik pemerintah atau penyelenggara festival, melainkan warisan bersama yang harus dijaga dan diteruskan dari generasi ke generasi.**
Editor: Bruce Elang




























Komentar via Facebook