KNPI Mimika Jangan Jadi Arena Bagi-Bagi Kekuasaan: Ketua APA Tegas Minta Kursi Ketua untuk OAP”

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 17 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

KNPI Mimika Jangan Jadi Arena Bagi-Bagi Kekuasaan: Ketua APA Tegas Minta Kursi Ketua untuk OAP”

“KNPI Mimika Jangan Jadi Arena Bagi-Bagi Kekuasaan: Ketua APA Tegas Minta Kursi Ketua untuk OAP”

Timika, Kabarsulselindonesia.web.id — Kabupaten Mimika Papua Tengah Suhu politik jelang pemilihan Ketua KNPI Kabupaten Mimika mulai memanas. Ketua Aliansi Pemuda Amungsa (APA), Hellois Kemong, melontarkan pernyataan keras dengan meminta agar kursi Ketua KNPI Mimika diberikan kepada Orang Asli Papua (OAP), khususnya dari suku Amungme dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat di wilayah tersebut.

Hellois menilai KNPI jangan lagi dijadikan arena kompromi elite dan praktik hutang politik yang hanya melahirkan pemimpin titipan, sementara anak-anak asli daerah kembali dipinggirkan di tanahnya sendiri.

   “Sudah terlalu sering organisasi strategis dipakai sebagai alat balas jasa politik. Jangan jadikan KNPI Mimika arena hutang politik yang akhirnya mengorbankan hak pemuda asli Papua,” tegas Hellois, Sabtu (17/05/2026).

Menurutnya, sudah saatnya OAP berdiri di garis depan memimpin organisasi kepemudaan terbesar di Mimika, bukan terus menjadi penonton di rumah sendiri.

Ia menyebut, jika proses pemilihan KNPI hanya ditentukan oleh kekuatan lobi, transaksi dukungan, dan kepentingan kelompok tertentu, maka organisasi itu akan kehilangan marwah sebagai rumah perjuangan pemuda.

   “Kalau ketua dipilih karena deal politik, maka KNPI bukan lagi wadah perjuangan pemuda, tapi berubah jadi panggung kepentingan segelintir elite,” sindirnya tajam.

Hellois juga mengingatkan bahwa Mimika bukan tanah kosong tanpa pemilik. Karena itu, menurutnya, pemuda Amungme dan Kamoro harus diberi ruang yang adil untuk memimpin dan menentukan arah organisasi yang selama ini mengatasnamakan pemuda daerah.

Ia menilai selama ini ruang-ruang strategis di Mimika kerap dikuasai pola lama yang membuat OAP hanya dijadikan pelengkap simbolik, sementara keputusan penting tetap dikendalikan kelompok berkepentingan.

  “Jangan terus bicara tentang pemuda Papua kalau pada akhirnya anak-anak asli hanya dipakai sebagai pajangan politik,” katanya.

Dalam pandangan APA, pemilihan Ketua KNPI seharusnya menjadi momentum lahirnya kader pemimpin daerah yang benar-benar memahami persoalan sosial masyarakat Papua, bukan sekadar figur kompromi hasil transaksi dukungan.

Hellois menegaskan, setiap kandidat harus diuji lewat gagasan, kapasitas, dan keberpihakan terhadap rakyat, bukan lewat kekuatan sponsor politik atau kedekatan dengan elite kekuasaan.

Ia juga menyinggung semangat Otonomi Khusus Papua yang seharusnya memberi ruang lebih besar bagi Orang Asli Papua dalam posisi-posisi strategis sosial dan politik di daerahnya sendiri.

  “Kalau Otsus hanya dipakai sebagai slogan tapi OAP tetap disingkirkan dari ruang kepemimpinan, maka publik berhak mempertanyakan keberpihakan itu,” ujarnya.

APA turut meminta seluruh elemen pemuda di Mimika, termasuk kelompok pendatang, agar menghormati prinsip keadilan sosial dan memberi kesempatan kepada pemuda asli Papua untuk tampil memimpin KNPI.

Menurut Hellois, keberpihakan terhadap OAP bukan bentuk diskriminasi, tetapi bagian dari penghormatan terhadap masyarakat adat sebagai pemilik negeri.

Kini sorotan publik mulai tertuju pada proses pemilihan KNPI Mimika: apakah organisasi kepemudaan itu benar-benar menjadi tempat kaderisasi pemimpin masa depan Papua, atau hanya kembali menjadi panggung perebutan pengaruh dan hutang politik berkedok demokrasi pemuda.

"Pemburu Korup"