Brigjen Antoninho: Bela Negara Jangan Berhenti di Seragam, Generasi Muda Harus Berani Menjaga Masa Depan Indonesia
Brigjen Antoninho: Bela Negara Jangan Berhenti di Seragam, Generasi Muda Harus Berani Menjaga Masa Depan Indonesia
BANDUNG Kabarsulselindonesia.web.id — Kesadaran bela negara tidak boleh berhenti pada upacara, seragam, slogan, atau seremoni. Bela negara harus hidup dalam perilaku, integritas, disiplin, kepedulian sosial, serta keberanian setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam menjaga persatuan dan masa depan Indonesia.
Pesan tegas itu disampaikan Brigjen TNI Antoninho Rangel da Silva, S.IP., M.Han., saat tampil sebagai motivator utama dalam Forum Kebangsaan yang digelar di Aula Muhammad Toda Kodiklatad, Bandung, Kamis (13/8/2026).
Mengusung tema “Kesadaran Bela Negara Merupakan Pondasi Dasar Menuju Indonesia Emas”, forum tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan kembali bahwa ancaman terhadap bangsa di era modern tidak selalu datang dalam bentuk perang terbuka.
Justru, ancaman dapat masuk melalui ruang digital, perubahan sosial, krisis moral, penyebaran informasi yang menyesatkan, intoleransi, individualisme, hingga melemahnya rasa memiliki terhadap bangsa dan negara.
Bela Negara Bukan Monopoli TNI
Dalam sesi motivasinya, Brigjen Antoninho menegaskan bahwa bela negara bukan semata-mata tugas TNI maupun aparat pertahanan.
Bela negara merupakan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.
Menurutnya, masyarakat tidak harus mengangkat senjata untuk menunjukkan kecintaan kepada negara. Bela negara dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana tetapi memiliki dampak besar, seperti menjaga integritas, disiplin dalam menjalankan tanggung jawab, menghormati perbedaan, peduli terhadap lingkungan sosial, serta berkontribusi secara nyata bagi pembangunan.
“Bela negara harus menjadi energi moral seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya menjadi tugas aparat pertahanan,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam forum tersebut.
Karena itu, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Mereka harus tampil sebagai bagian dari solusi dan ikut menentukan arah masa depan Indonesia.
Tantangan Bangsa Semakin Kompleks
Perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh pengetahuan, bahkan membentuk pandangan terhadap bangsa dan negara.
Di satu sisi, perkembangan tersebut membuka peluang besar. Namun di sisi lain, ruang digital juga dapat menjadi medan penyebaran disinformasi, provokasi, intoleransi dan berbagai pengaruh ideologis yang berpotensi mengganggu persatuan.
Dalam konteks inilah, kesadaran bela negara harus diperkuat.
Bela negara tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai persoalan pertahanan fisik. Nilai tersebut harus diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Integritas ketika bekerja, etika ketika menggunakan media sosial, kepedulian terhadap sesama, menghargai keberagaman, serta menolak provokasi merupakan bagian dari bela negara.
Kolaborasi Lintas Elemen Bangsa
Forum Kebangsaan tersebut merupakan bagian dari program unggulan Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Si., yang dijalankan Pusterad untuk memperkuat karakter kebangsaan dan kesadaran bela negara di tengah masyarakat.
Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang turut hadir, antara lain Danpusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno, Dankodiklatad, Pangkogabwilhan I, Abdullah Gymnastiar (AA Gym), Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., serta Guru Besar Unjani Prof. Dr. Heni Nurani Hartikayanti, SE., M.Si., Ak., CA.
Kehadiran unsur TNI, pemerintah daerah, tokoh agama, akademisi dan masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan karakter kebangsaan tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Persatuan membutuhkan kerja bersama.
526 Peserta Jadi Saksi Pesan Kebangsaan
Forum tersebut diikuti 526 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat.
Mereka terdiri atas tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan, LSM, mahasiswa hingga pelajar.
Kehadiran ratusan peserta menunjukkan bahwa isu kebangsaan masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat.
Namun, tantangannya adalah bagaimana semangat yang muncul di dalam forum tidak berhenti ketika acara berakhir.
Pesan kebangsaan harus dibawa keluar dari gedung pertemuan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Jangan Sampai Nasionalisme Hanya Menjadi Slogan
Danpusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno dalam sambutannya turut menekankan bahwa bela negara harus menjadi bagian dari karakter masyarakat, khususnya generasi muda.
Di tengah tantangan era digital, nasionalisme tidak cukup hanya ditunjukkan melalui simbol.
Generasi muda harus memiliki kemampuan menyaring informasi, memahami sejarah bangsa, menghargai keberagaman, menjaga etika dalam ruang digital dan memiliki keberanian untuk menolak berbagai bentuk provokasi yang dapat memecah persatuan.
Sebab bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki pertahanan militer tangguh, tetapi juga bangsa yang rakyatnya memiliki karakter, integritas dan rasa persatuan yang kokoh.
Menuju Indonesia Emas 2045
Forum Kebangsaan di Bandung menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi.
Indonesia juga membutuhkan manusia yang memiliki karakter kuat, disiplin, berintegritas, memiliki kepedulian sosial dan mencintai bangsanya.
Brigjen Antoninho menempatkan kesadaran bela negara sebagai energi penting untuk membangun karakter tersebut.
Pesannya jelas: jangan menunggu Indonesia menghadapi krisis baru kemudian berbicara tentang persatuan. Persatuan harus dijaga sebelum ancaman datang.
Bela negara harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, masyarakat, hingga ruang digital.
Karena mempertahankan Indonesia bukan hanya tugas mereka yang mengenakan seragam. Menjaga Indonesia adalah tanggung jawab setiap warga negara.
Dan menuju Indonesia Emas 2045, pertanyaan terbesarnya bukan sekadar seberapa maju Indonesia secara ekonomi, tetapi seberapa kuat karakter rakyatnya dalam mempertahankan persatuan, kedaulatan dan masa depan bangsa.
Editor: Bruce Elang

























Komentar via Facebook