132 Tahun Misi Katolik di Papua, Bupati Fakfak Sebut Gereja Hadir Membangun Peradaban dan Persaudaraan
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Laut tenang mengelilingi Pulau Bonyom, Distrik Fakfak Tengah, Sabtu, 23 Mei 2026. Di pulau kecil yang menyimpan jejak awal pekabaran Injil Katolik di Tanah Papua itu, ribuan umat, tokoh adat, rohaniwan, dan pejabat daerah berkumpul dalam satu perayaan besar: syukuran 132 tahun Misi Katolik di Papua.
Momentum itu bukan sekadar seremoni keagamaan. Ia menjadi penanda perjalanan panjang pelayanan gereja yang telah melintasi zaman dari masa awal misi, era kolonial, hingga Papua modern hari ini.
Di tempat inilah sejarah itu kembali dikenang: ketika benih iman pertama kali ditanam pada 22 Mei 1894, lalu tumbuh bersama denyut kehidupan masyarakat Papua.
Perayaan tahun ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan satu tahun tahbisan episkopal Uskup Timika, Bernardus Bofitwos Baru.
Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran Gereja Katolik di Papua telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan manusia Papua bukan hanya melalui pewartaan iman, tetapi juga lewat pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang menyentuh masyarakat hingga pelosok.
“Atas nama Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat Kabupaten Fakfak, saya menyampaikan selamat dan proficiat atas perayaan iman yang penuh makna ini,” kata Samaun.
Menurut dia, 132 tahun perjalanan misi Katolik merupakan bukti bahwa Papua dibangun bukan hanya dengan infrastruktur, melainkan juga dengan nilai kasih, pengorbanan, dan persaudaraan lintas perbedaan.
Ia menyebut, gereja telah ikut membentuk fondasi kemanusiaan di Papua melalui sekolah-sekolah, pelayanan kesehatan, hingga pembinaan sosial yang melahirkan generasi Papua terdidik dan berdaya.
“Momentum ini bukan sekadar perayaan gerejawi, tetapi bagian dari sejarah peradaban Papua,” ujarnya.
Samaun juga memberi perhatian khusus pada pelayanan pastoral Mgr. Bernardus Bofitwos Baru selama setahun terakhir sebagai Uskup Timika.
Ia menilai sang uskup menunjukkan kepemimpinan yang teduh dan dekat dengan umat kecil, sekaligus aktif merawat perdamaian dan persatuan di tengah dinamika sosial Papua.
Bagi Pemerintah Kabupaten Fakfak, kata Samaun, nilai-nilai yang dibawa gereja sejalan dengan filosofi hidup masyarakat Fakfak: Satu Tungku Tiga Batu, sebuah simbol harmoni antarumat beragama yang telah lama hidup di daerah itu.
“Perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Justru dari keberagaman itu kita belajar hidup saling menopang dalam damai dan persaudaraan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Fakfak ingin terus menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang sosial.
Dalam kesempatan itu, Samaun turut menyampaikan salam hormat dari Wakil Bupati Fakfak, Donatus Nimbitkendik, yang belum dapat hadir karena tengah menjalankan tugas dinas di Jakarta serta dalam kondisi kesehatan yang belum memungkinkan.
Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua kemudian ditutup dengan doa dan syukur bersama. Di Pulau Bonyom, tempat sejarah itu bermula, gema lonceng gereja dan nyanyian umat seolah mengingatkan satu hal: bahwa Papua tidak hanya dibangun oleh kekuasaan dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kasih yang diwariskan lintas generasi.
Writter : Rilis | Editor : Den

























Komentar via Facebook