Arca Setengah Ton Menyusuri Jejak Iman di Papua: Napak Tilas 132 Tahun Misi Katolik Dimulai dari Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 21 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Arca Setengah Ton Menyusuri Jejak Iman di Papua: Napak Tilas 132 Tahun Misi Katolik Dimulai dari Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id |  Senja belum sepenuhnya turun ketika lonceng Gereja Santo Yosep Fakfak berdentang pelan, Kamis, 21 Mei 2026. Di halaman gereja itu, ratusan umat Katolik berdiri khidmat mengiringi pengantaran Arca Bunda Maria menuju Gereja Stasi Santo Petrus Torea.

Di tangan umat, Rosario terus berputar. Doa-doa dilantunkan lirih, menyatu dengan langkah panjang perjalanan iman yang telah menembus lebih dari satu abad sejarah Tanah Papua.

Prosesi religius itu menjadi pembuka rangkaian napak tilas 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang tahun ini dipusatkan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat wilayah yang sejak lama dikenang sebagai salah satu pintu awal masuknya pewartaan Injil di bumi Cenderawasih.

Sebelum diberangkatkan menuju Torea, Arca Bunda Maria lebih dahulu disemayamkan beberapa hari di Paroki Santo Yosep Fakfak. Umat datang silih berganti mengikuti doa Rosario dan ibadat bersama. Di dalam gereja, cahaya lilin memantul pada wajah-wajah yang tenggelam dalam doa; di luar, suasana persaudaraan terasa mengalir tanpa sekat.

Dari pusat Kota Fakfak, arca kemudian diarak menuju wilayah Paroki Santo Paulus Wagom. Sepanjang perjalanan, umat berjalan dalam barisan panjang sambil melantunkan doa. Prosesi itu bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga penanda ingatan kolektif tentang jejak panjang misi Katolik di Papua.

Pada Jumat pagi, 22 Mei 2026, tepat pukul 09.00 WIT, perjalanan akan dilanjutkan dari Torea menuju Kampung Sekru—kampung yang dikenal sebagai salah satu titik bersejarah dalam awal penyebaran iman Katolik di Papua.

Di kampung pesisir itu, panitia menyiapkan prosesi adat, doa Rosario bersama, dan ibadat umat sebagai penghormatan terhadap sejarah para misionaris yang pernah menapakkan kaki pertama mereka di wilayah tersebut. Dari Sekru, semangat pewartaan iman kemudian berkembang ke berbagai wilayah Papua, terutama kawasan Fakfak dan sekitarnya.

Rangkaian kegiatan selanjutnya akan diisi dengan rally Rosario atau estafet doa Rosario yang melibatkan umat dari berbagai paroki di Kabupaten Fakfak. Estafet doa itu menjadi simbol kesinambungan iman yang diwariskan lintas generasi sejak masa para misionaris pertama datang ke Papua lebih dari seabad silam.

Ketua Panitia HUT ke-132 Misi Katolik di Tanah Papua, Fredikus Warpopor, mengatakan salah satu agenda utama tahun ini adalah perjalanan napak tilas yang dirangkaikan dengan pengantaran Arca Bunda Maria menuju Pulau Bonyum untuk ditahtakan.

“Perjalanan napak tilas itu juga akan bersamaan dengan mengantar Arca Bunda Maria yang akan ditahtakan di Pulau Bonyum. Arca itu terbuat dari batu utuh dengan berat kurang lebih 500 kilogram atau setengah ton,” ujarnya.

Menurut Fredikus, arca tersebut memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Katolik Papua. Ia dipandang sebagai simbol perlindungan, pengharapan, dan persatuan umat dalam perjalanan panjang sejarah Gereja Katolik di Tanah Papua.

Arca berbobot setengah ton itu nantinya akan diarak melalui jalur darat secara estafet oleh umat dari lima paroki di Kabupaten Fakfak hingga tiba di Kampung Raduria. Dari sana, arca akan diseberangkan menggunakan perahu menuju Pulau Bonyum salah satu titik utama dalam rangkaian perayaan napak tilas tahun ini.

“Seluruh umat akan terlibat dan sudah dibagi tugasnya. Ada lima paroki di Fakfak dan nantinya arca akan dibawa secara estafet sampai di Kampung Raduria,” kata Fredikus.

Panitia juga menyiapkan armada transportasi laut untuk mendukung mobilisasi ribuan umat Katolik yang diperkirakan hadir dari berbagai wilayah Papua Barat selama perayaan berlangsung.

Bagi masyarakat Fakfak, peringatan 132 tahun misi Katolik bukan semata agenda seremonial gereja. Ia adalah peristiwa spiritual sekaligus momentum merawat ingatan sejarah tentang bagaimana iman, budaya, dan persaudaraan tumbuh bersama di tanah yang sejak lama dikenal sebagai “Serambi Katolik” di Papua.

Di tengah arus zaman yang terus berubah, prosesi pengantaran Arca Bunda Maria itu seperti mengingatkan kembali bahwa sejarah tidak hanya hidup di dalam arsip, melainkan juga di dalam langkah umat yang terus berjalan, berdoa, dan menjaga warisan iman dari generasi ke generasi.

 

Writter : Rilis Komsos | Editor : Den