Hardiknas dan Peringatan Sunyi Benny K. Harman: Negeri Ini Kekurangan Integritas, Bukan Kepintaran
Jakarta, KabarsulselIndonesia.web.id | Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini kembali diwarnai refleksi kritis. Di tengah seremoni yang saban tahun dipenuhi pidato optimisme, Benny K. Harman justru melontarkan peringatan yang terasa lebih tajam: Indonesia tidak sedang kekurangan orang pintar yang langka adalah integritas.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika momentum. Ia seperti menohok wajah sistem pendidikan yang selama ini lebih sibuk mencetak angka ketimbang membentuk watak.
“Ijazah hari ini sering kali hanya menjadi simbol administratif. Tanpa karakter, ia kehilangan makna,” kata Benny, dengan nada yang mencerminkan kegelisahan panjang atas arah pendidikan nasional.
Di ruang-ruang kelas, nilai kerap menjadi tujuan akhir. Rangking dan gelar dijadikan tolok ukur keberhasilan, sementara kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian moral justru terpinggirkan. Dalam pandangan Benny, orientasi yang timpang ini perlahan menggerus esensi pendidikan itu sendiri.
Ia mengingatkan kembali warisan pemikiran para pendiri bangsa. Salah satunya Mohammad Hatta, yang sejak awal menegaskan bahwa pendidikan bukan semata proses transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter. Di titik ini, Benny melihat Indonesia seperti kehilangan arah terjebak dalam formalitas, namun abai pada substansi.
Krisis integritas, menurut dia, bukanlah persoalan abstrak. Dampaknya nyata dan merambat ke berbagai sendi kehidupan: dari praktik korupsi yang tak kunjung surut, penegakan hukum yang kerap tumpul ke atas, hingga lunturnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Semua itu, dalam benang merahnya, berakar dari kegagalan membangun karakter sejak bangku pendidikan.
“Kalau pendidikan gagal melahirkan manusia berintegritas, maka cita-cita besar bangsa hanya akan menjadi slogan,” ujarnya.
Peringatan ini terasa relevan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Ketika teknologi melesat dan akses informasi terbuka lebar, kecerdasan intelektual menjadi semakin mudah dicapai. Namun integritas yang menuntut konsistensi antara kata dan perbuatan justru menjadi komoditas yang kian langka.
Benny menegaskan, pendidikan karakter tidak boleh berhenti sebagai jargon tahunan setiap peringatan Hardiknas. Ia harus hadir dalam kebijakan yang konsisten, dalam kurikulum yang berimbang, serta dalam praktik keseharian di sekolah dan keluarga. Pendidikan, dengan demikian, tidak lagi sekadar ruang mengejar nilai, melainkan tempat menempa manusia seutuhnya.
Pada akhirnya, peringatan Hardiknas tahun ini menyisakan satu pertanyaan mendasar: apakah bangsa ini siap menggeser orientasi dari sekadar mencetak orang pintar, menjadi melahirkan manusia yang benar?
Sebab seperti diingatkan Benny, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cerdas generasinya, tetapi juga oleh seberapa kuat mereka memegang nilai. Integritas, dalam hal ini, bukan pelengkap melainkan fondasi.
Writter : Elang | Editor : Den

























Komentar via Facebook