Pala dari Weri dan Mimpi Besar Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 23 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pala dari Weri dan Mimpi Besar Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di Weri, Fakfak Timur, pala sedang dibicarakan bukan sekadar sebagai hasil kebun.

Dalam pertemuan antara Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak dan Tim Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas), komoditas tua yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Fakfak itu dibaca sebagai jalan menuju sesuatu yang lebih besar: kemandirian ekonomi.

Tim Patriot Unhas datang untuk memetakan potensi dan persoalan komoditas unggulan. Riset mereka tidak berhenti pada produksi, tetapi juga menelusuri kondisi petani, kelembagaan, produktivitas, kualitas, pengolahan, hingga pemasaran.

Pendekatannya sederhana: sebuah komoditas tidak cukup hanya tumbuh subur.

Produksi tanpa pasar dapat menekan harga. Kualitas tanpa pengolahan membuat nilai tambah dinikmati pihak lain. Petani tanpa kelembagaan yang kuat pun akan tetap berada di ujung paling lemah dalam rantai perdagangan.

Karena itu, pala perlu dibangun sebagai sebuah ekosistem.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T., mengatakan pala bukan sekadar tanaman perkebunan bagi masyarakat Fakfak.

“Pala bagi Fakfak bukan hanya komoditas perkebunan. Pala adalah bagian dari identitas daerah, sumber penghidupan masyarakat, sekaligus aset ekonomi yang harus kita bangun secara serius,” kata Widhi.

Melalui Program Strategis Daerah Pala Unggul, Pemerintah Kabupaten Fakfak ingin mengubah cara pandang terhadap kebun pala.

Pekebun tidak lagi hanya diposisikan sebagai penghasil bahan mentah. Mereka didorong memahami kebunnya sebagai aset dan unit usaha mulai dari produktivitas, biaya, kualitas, hingga pasar.

“Kita ingin mengubah mindset. Kebun pala harus dipandang sebagai aset dan unit usaha,” ujar Widhi.

Pemerintah pun menyiapkan pengembangan dari hulu hingga hilir. Benih unggul, pemeliharaan kebun, peningkatan kualitas, pengolahan, hingga pemasaran menjadi mata rantai yang hendak diperkuat.

Di sinilah kehadiran Tim Patriot Unhas menjadi penting.

Data dan temuan lapangan diharapkan membantu pemerintah membaca kondisi riil masyarakat pekebun, sekaligus merumuskan model pemberdayaan yang tidak berhenti sebagai program di atas kertas.

“Harapannya, keberadaan Tim Ekspedisi Patriot ini dapat membantu memperkuat kapasitas masyarakat petani dan pekebun pala,” kata Widhi.

Namun, pekerjaan itu tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendiri.

Pengembangan pala membutuhkan perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, lembaga keuangan, kelompok tani, serta masyarakat adat. Sebab persoalan pala tidak hanya berada di kebun, tetapi juga di pasar, teknologi, permodalan, dan nilai tambah.

Pertemuan di Weri, karena itu, lebih dari sekadar agenda kunjungan.

Di wilayah yang masuk dalam rencana pengembangan transmigrasi lokal Fakfak Timur itu, pemerintah dan kalangan akademisi sedang mencoba membaca kembali masa depan dari kekayaan lama yang telah tumbuh bersama masyarakat Fakfak.

Pala.

Bukan hanya untuk dipanen hari ini. Tetapi untuk membangun sistem yang membuat petani lebih kuat, produk lebih bernilai, dan manfaat ekonominya lebih banyak tinggal di Fakfak.

Sebab pada akhirnya, membangun komoditas unggulan bukan sekadar soal menanam lebih banyak pohon.

Yang jauh lebih sulit dan lebih penting adalah memastikan masa depan ikut tumbuh bersamanya.

 

Writter & Editor : Den