RRI Fest 2026 Langgur Menyalakan Kembali Api Budaya: Generasi Muda Kei Jadi Penentu Masa Depan Tradisi
RRI Fest 2026 Langgur Menyalakan Kembali Api Budaya: Generasi Muda Kei Jadi Penentu Masa Depan Tradisi
LANGGUR Kabarsulselindonesia.web.id — Masa depan tradisi tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering budaya ditampilkan di atas panggung, tetapi oleh seberapa kuat nilai-nilainya hidup dalam keseharian generasi penerus.
Pesan itu mengemuka dalam RRI Fest 2026 di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, yang mengangkat tema “Merawat Tradisi, Menyatukan Negeri”. Kegiatan yang digelar melalui kolaborasi RRI Langgur dan SMA Negeri 3 Maluku Tenggara tersebut menjadi ruang perjumpaan antara kebudayaan, pendidikan, media dan kreativitas anak muda.
RRI Fest 2026 yang berlangsung pada 27 Agustus 2026 tidak berhenti pada pertunjukan seni. Kegiatan ini sekaligus membuka pembicaraan mengenai tantangan mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan teknologi dan pola hidup generasi muda.27/8/26
Di tengah derasnya arus informasi digital, tradisi lokal menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Generasi muda semakin dekat dengan budaya global, sementara pemahaman terhadap nilai-nilai lokal membutuhkan ruang yang lebih kreatif agar tetap relevan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah tradisi masih dipertunjukkan, tetapi apakah nilai tradisi masih dipahami dan dipraktikkan oleh generasi muda?
Budaya Kei Tak Cukup Dipajang, Harus Dihidupkan
Pesan tersebut terlihat dalam rangkaian RRI Fest yang menghadirkan pertunjukan seni dan budaya.
Sanggar Malowan bersama sanggar tari SMA Negeri 3 Maluku Tenggara menampilkan tarian Sika-Sika dari Papua. Kehadiran kesenian dari daerah lain memberikan pesan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan, bukan sekadar penanda identitas masing-masing daerah.
Namun, substansi kegiatan justru semakin kuat ketika pembahasan bergeser dari pertunjukan menuju nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam talk show “Merawat Tradisi, Menyatukan Negeri”, budayawan dan pelestari budaya Kei, Petronela Sapsapubun, S.H., mengingatkan bahwa tradisi tidak dapat dipersempit hanya pada tarian, pakaian adat atau upacara.
Tradisi juga berada dalam cara masyarakat membangun hubungan sosial.
Salah satu nilai yang disoroti adalah Yeli, yakni semangat membantu sesama tanpa membedakan latar belakang.
Nilai kebersamaan tersebut juga tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat Kei, termasuk ketika masyarakat menghadapi kedukaan. Kehadiran dan bantuan kepada sesama menjadi bagian dari ikatan sosial yang diwariskan antargenerasi.
Tradisi seperti Pela, Dekefuar dan Koi Maduan juga menunjukkan bagaimana hubungan sosial dibangun melalui semangat saling menopang.
Artinya, kekuatan budaya tidak semata-mata terletak pada bentuk luarnya.
Kekuatan budaya berada pada nilai yang terus dijalankan.
Tantangan Terbesar: Bagaimana Membuat Tradisi Tetap Relevan?
Di sinilah pekerjaan besar pelestarian budaya berada.
Generasi muda hidup dalam lingkungan yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, teknologi digital dan arus informasi yang nyaris tanpa batas.
Karena itu, memaksa generasi muda mengenal budaya hanya dengan cara-cara lama belum tentu cukup.
Yang diperlukan adalah kemampuan menerjemahkan nilai tradisi ke dalam bahasa kehidupan generasi sekarang.
Ketua OSIS SMA Negeri 3 Maluku Tenggara, Dita Farfar, melihat bahwa nilai-nilai tradisi masih memiliki tempat kuat dalam kehidupan Generasi Z.
Gotong royong dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial dan penggalangan dana.
Musyawarah dapat diterapkan dalam organisasi siswa.
Kepedulian terhadap sesama dapat dikembangkan melalui kegiatan kerelawanan.
Bahkan media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan kampanye sosial dan konten edukasi mengenai budaya.
Dengan demikian, tradisi tidak harus kehilangan identitas hanya karena cara penyampaiannya berubah.
Sekolah Harus Menjadi Ruang Hidup Nilai Budaya
Kepala SMA Negeri 3 Maluku Tenggara, Domitila Teniut, S.Pd., menempatkan sekolah sebagai salah satu ruang penting dalam pembentukan karakter siswa.
Pendidikan karakter tidak hanya dilakukan melalui teori, tetapi diterapkan dalam berbagai kegiatan sekolah.
Apel pagi, doa bersama, proses pembelajaran dan kegiatan rutin setiap Jumat menjadi bagian dari upaya menanamkan empati, gotong royong dan musyawarah.
Nilai tersebut juga diperkuat melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, pendidikan keagamaan dan aktivitas sosial.
Pendekatan seperti ini penting karena pelestarian budaya tidak selalu harus berbentuk kegiatan adat.
Ketika nilai budaya berubah menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari, pada saat itulah budaya benar-benar hidup.
RRI Tak Hanya Menyiarkan, Tetapi Membuka Ruang Bagi Generasi Muda
Kepala Lembaga Penyiaran Publik RRI Langgur, Yakobus Resubun Esos, dalam kegiatan tersebut menegaskan peran RRI bukan semata sebagai lembaga penyiaran.
RRI juga menjadi ruang pendidikan, ekspresi seni dan budaya serta ruang publik.
RRI Langgur sendiri secara resmi menggunakan nama tersebut sejak 30 Juli 2026, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan.
Perubahan ekosistem media juga mendorong RRI memperluas jangkauan melalui RRI Digital dan berbagai platform media sosial.
Langkah tersebut menjadi relevan dengan karakter generasi muda yang semakin banyak beraktivitas di ruang digital.
Jika ingin berbicara dengan generasi muda, maka pesan kebudayaan juga harus hadir di ruang yang mereka gunakan setiap hari.
Budaya lokal tidak boleh kalah hanya karena kalah cepat dari algoritma media sosial.
Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk membuat budaya lokal lebih dikenal, dipelajari dan dibanggakan.
Kolaborasi Media dan Sekolah Perlu Menjadi Gerakan Berkelanjutan
RRI Langgur dalam beberapa bulan terakhir juga membangun hubungan dengan sejumlah lembaga pendidikan, di antaranya SMP Negeri 2 Tual, SMA Negeri 1 Tual, SMP Budi Mulia Langgur dan SMA Negeri 3 Maluku Tenggara.
Program English Corner bersama SMA Negeri 3 Maluku Tenggara menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang mempertemukan dunia pendidikan dengan lembaga penyiaran.
RRI Fest kemudian memperluas ruang kolaborasi tersebut melalui seni, budaya, pendidikan dan dialog generasi muda.
Model semacam ini penting untuk dikembangkan lebih jauh.
Sebab pelestarian budaya tidak akan kuat jika hanya dibebankan kepada pemerintah atau tokoh adat.
Sekolah, keluarga, media, komunitas dan anak muda harus menjadi bagian dari ekosistem pelestarian budaya.
Dari Langgur, Budaya Kei Menemukan Ruang Baru
RRI Fest 2026 memberikan pesan bahwa modernisasi tidak harus menjadi ancaman bagi kebudayaan lokal.
Yang diperlukan adalah kemampuan beradaptasi.
Tradisi dapat masuk ke ruang pendidikan.
Nilai adat dapat diterjemahkan menjadi pendidikan karakter.
Cerita budaya dapat diproduksi dalam bentuk konten digital.
Seni tradisional dapat diperkenalkan melalui media sosial.
Dan generasi muda dapat menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton.
Pelepasan balon menjadi penanda pembukaan kegiatan, meskipun sempat mengalami kendala ketika balon tidak berhasil terbang sebagaimana direncanakan.
Namun, substansi RRI Fest tidak ditentukan oleh seremoni tersebut.
Justru pesan yang lebih penting berada pada bagaimana kegiatan itu menghubungkan tradisi, pendidikan, media dan generasi muda.
Seruan “Merdeka!” yang mengiringi penutupan juga menjadi simbol bahwa generasi muda memiliki ruang dan tanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa.
Jangan Biarkan Tradisi Hanya Menjadi Cerita Masa Lalu
RRI Fest 2026 di Langgur pada akhirnya menyentuh persoalan yang jauh lebih besar daripada sebuah agenda seni dan budaya.
Ia berbicara tentang identitas.
Ketika sebuah generasi kehilangan hubungan dengan nilai budayanya, yang hilang bukan hanya tarian atau upacara adat, tetapi juga cara pandang, solidaritas dan karakter sosial yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat.
Karena itu, pelestarian budaya harus bergerak dari sekadar seremoni menuju praktik kehidupan.
Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal budaya, mempertanyakan, mengembangkan dan menyampaikannya dengan cara mereka sendiri.
Sebab budaya tidak akan mati hanya karena zaman berubah.
Budaya akan kehilangan masa depan ketika generasi penerus berhenti merasa memiliki.
Dari Langgur, RRI Fest 2026 membawa satu pesan kuat:
Tradisi Kei tidak cukup diwariskan sebagai cerita. Ia harus dihidupkan dalam karakter generasi muda, dibawa ke ruang digital, dan dijadikan energi untuk memperkuat persatuan Indonesia.
Editor: Bruce Elang

























Komentar via Facebook