Ketua Pemuda Kei Mimika: Jika Pemimpin Lebih Suka Mengancam daripada Menyelesaikan Masalah, Lebih Baik Mundur

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 11 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ketua Pemuda Kei Mimika: Jika Pemimpin Lebih Suka Mengancam daripada Menyelesaikan Masalah, Lebih Baik Mundur

Ketua Pemuda Kei Mimika: Jika Pemimpin Lebih Suka Mengancam daripada Menyelesaikan Masalah, Lebih Baik Mundur

MIMIKA, Kabarsulselindonesia.web.id Ketua Pemuda Kei Mimika, Edoardus Rahawadan, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Bupati Mimika yang dinilainya sarat emosi, arogan, dan tidak mencerminkan karakter seorang pemimpin daerah. Kritik itu muncul menyusul pernyataan Bupati di hadapan media yang menggunakan kata-kata keras serta ancaman pemberhentian terhadap tenaga kesehatan (nakes) yang dianggap bermasalah.11/06/2026

Menurut Edoardus, seorang kepala daerah seharusnya tampil sebagai penyejuk dan penyelesai persoalan, bukan justru mempertontonkan kemarahan dan ancaman di ruang publik. Ia menilai sikap tersebut lebih mencerminkan watak seorang penguasa yang reaktif daripada seorang pemimpin yang mampu mengendalikan diri.

"Pemimpin yang baik tidak membangun ketakutan, tetapi membangun kepercayaan. Jika yang ditampilkan kepada publik adalah kemarahan, ancaman, dan kata-kata kasar, maka yang runtuh bukan hanya wibawa pemerintah, tetapi juga kepercayaan masyarakat," tegas Edoardus.

Ia menilai ancaman terhadap tenaga kesehatan merupakan tindakan yang tidak tepat, sebab persoalan teknis pelayanan kesehatan seharusnya menjadi kewenangan dan tanggung jawab organisasi perangkat daerah terkait, khususnya Dinas Kesehatan.

Menurutnya, tindakan Bupati yang langsung mengambil posisi sebagai pihak yang mengancam bawahan menunjukkan lemahnya pemahaman terhadap tata kelola pemerintahan dan minimnya empati terhadap para petugas yang bertugas di lapangan, terutama di wilayah pegunungan yang memiliki tantangan geografis sangat berat.

"Kalau setiap persoalan dijawab dengan ancaman dan emosi, lalu di mana letak kepemimpinan? Jangan sampai seorang Bupati lebih sibuk mempertontonkan kemarahan daripada menghadirkan solusi. Masyarakat Mimika membutuhkan pemimpin, bukan figur yang mudah tersulut emosi di depan kamera," ujarnya.

Edoardus bahkan menegaskan, apabila seorang kepala daerah tidak mampu mengendalikan diri dan lebih memilih menebar ancaman terhadap aparat yang bekerja di lapangan, maka secara moral sudah sepatutnya mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

"Kalau yang ditampilkan kepada rakyat adalah sikap emosional dan kecenderungan mengintimidasi bawahan, maka dengan tegas saya katakan, lebih baik mundur. Jabatan pemimpin bukan panggung untuk melampiaskan amarah, melainkan amanah untuk melayani dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin," katanya.

Ia menduga, kemarahan yang diperlihatkan Bupati dipicu oleh kekecewaan atas beredarnya video yang menjadi perhatian publik. Namun menurut Edoardus, kekecewaan pribadi tidak boleh menjadi alasan bagi seorang pejabat publik untuk kehilangan kendali dan mengeluarkan pernyataan yang berpotensi melukai wibawa pemerintah sendiri.

"Seorang pemimpin diuji bukan ketika semua berjalan baik, tetapi ketika menghadapi kritik dan persoalan. Jika kritik dibalas dengan ancaman, maka yang terlihat bukan kebesaran seorang pemimpin, melainkan kegagalan mengendalikan ego kekuasaan," ujar Ketua Pemuda Kei Mimika tersebut.

Ia mengingatkan bahwa rakyat Mimika membutuhkan sosok pemimpin yang hadir dengan kebijaksanaan, bukan dengan retorika yang menakutkan. Sebab kekuasaan, kata Edoardus, tidak diukur dari seberapa keras seseorang berbicara, melainkan dari seberapa besar kemampuannya mendengar, memahami, dan menyelesaikan persoalan secara bermartabat.

"Pemimpin yang besar tidak lahir dari kata-kata kasar dan ancaman. Pemimpin besar lahir dari keteladanan, kemampuan mengendalikan diri, dan keberanian menerima kritik. Sebab jabatan adalah amanah rakyat, bukan mahkota yang membuat seseorang merasa paling benar dan kebal terhadap kritik," pungkasnya.

Editor Bruce Elang