Bupati Samaun Dahlan: Santri Harus Percaya Diri, Berilmu, dan Siap Menentukan Masa Depan Indonesia

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 22 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Bupati Samaun Dahlan: Santri Harus Percaya Diri, Berilmu, dan Siap Menentukan Masa Depan Indonesia

Fakfak, Kabarsulselindonesia.web.id | Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau megahnya pembangunan fisik. Ia juga bertumpu pada kualitas manusia, kekuatan karakter, dan nilai-nilai moral yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Di titik itulah santri memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Fakfak Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP., dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 melalui kegiatan Doa Kebangsaan atau Istighosah Kubro di Kabupaten Fakfak. Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, momentum ini menjadi pengingat bahwa santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman.

Bupati Samaun mengajak para santri dan santriwati di Fakfak untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperluas wawasan, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi pembentukan karakter.

Baginya, santri harus tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan memiliki kepercayaan diri untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah maupun nasional.

Santri Bukan Generasi Pinggiran

Dalam pandangan Bupati Samaun, Hari Santri Nasional tidak semestinya berhenti pada upacara, seremoni, atau rangkaian kegiatan tahunan. Peringatan ini harus menjadi ruang untuk menengok kembali sejarah perjuangan ulama, kiai, dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Warisan perjuangan tersebut, menurut dia, perlu diteruskan melalui cara yang sesuai dengan tantangan zaman. Jika dahulu para santri mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, kini pengabdian itu dapat diwujudkan melalui pendidikan, penguatan karakter, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Karena itu, ia mengingatkan para santri agar tidak memandang latar belakang pendidikan pesantren sebagai sesuatu yang membatasi masa depan mereka. Sebaliknya, identitas sebagai santri harus menjadi sumber kebanggaan sekaligus dorongan untuk terus berkembang.

“Jangan pernah merasa rendah diri karena menjadi santri. Sebaliknya, banggalah menjadi santri karena memiliki peran penting dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat,” demikian pesan Samaun kepada para santri.

Pesan itu mengandung penegasan bahwa ruang pengabdian santri terbuka luas. Mereka dapat mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan, sepanjang memiliki kompetensi, integritas, dan kemauan untuk terus belajar.

Pesantren dan Investasi Masa Depan Fakfak

Bupati Samaun menempatkan pondok pesantren sebagai salah satu pilar penting dalam pembentukan sumber daya manusia. Pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, serta penghormatan terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting ketika generasi muda berhadapan dengan perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persaingan yang semakin terbuka.

Dalam konteks pembangunan Kabupaten Fakfak, penguatan sumber daya manusia merupakan pekerjaan jangka panjang yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah seorang diri. Pembangunan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari ulama, tokoh agama, pimpinan pondok pesantren, tenaga pendidik, orang tua, hingga generasi muda.

Bupati Samaun pun menyampaikan penghargaan kepada para pimpinan pondok pesantren, ustaz dan ustazah, serta tenaga pendidik yang terus menjalankan peran dalam membimbing generasi penerus.

Di balik proses pendidikan yang berlangsung setiap hari, terdapat pekerjaan penting yang kerap tidak terlihat: membentuk manusia yang bukan hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga memiliki kemauan untuk menjalankannya; bukan sekadar mengejar keberhasilan pribadi, melainkan mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Bagi Fakfak, investasi semacam ini memiliki arti strategis. Kemajuan daerah membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjaga nilai-nilai lokal, terbuka terhadap pengetahuan baru, dan siap berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan.

Doa, Ikhtiar, dan Kepedulian terhadap Lingkungan

Dalam sambutannya, Bupati Samaun juga menyinggung kondisi kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada masyarakat Fakfak. Ia mengajak masyarakat untuk terus memanjatkan doa kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan kondisi lingkungan berangsur membaik.

Namun, menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan harapan. Doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar, kewaspadaan, dan kepedulian bersama untuk melindungi permukiman warga, tempat ibadah, serta fasilitas pendidikan dari ancaman kebakaran.

Ajakan tersebut memperluas makna Istighosah Kubro sebagai momentum spiritual sekaligus penguatan solidaritas sosial. Kepedulian terhadap sesama dan lingkungan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama, terutama ketika masyarakat menghadapi situasi yang membutuhkan kerja sama lintas kelompok.

Di tengah kondisi tersebut, pesan tentang persatuan menemukan relevansinya. Perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk bergandengan tangan menghadapi persoalan bersama.

Menuju Indonesia Emas Dimulai dari Generasi yang Disiapkan Hari Ini

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 membawa pesan yang melampaui satu hari perayaan. Indonesia Emas 2045 bukan semata-mata target waktu, melainkan cita-cita yang menuntut persiapan serius terhadap kualitas generasi penerus.

Santri yang hari ini belajar di pesantren akan menjadi bagian dari masyarakat yang menentukan arah masa depan. Karena itu, penguatan ilmu agama perlu berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan kemampuan membaca perubahan zaman.

Bupati Samaun mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai agama, menjaga persatuan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.

Bagi Kabupaten Fakfak, harapan itu bertumpu pada kerja bersama: pemerintah yang mendorong pembangunan, lembaga pendidikan yang membentuk karakter, keluarga yang menanamkan nilai, serta generasi muda yang berani meningkatkan kapasitas dirinya.

Sebab, masa depan daerah tidak hanya dibangun melalui apa yang dikerjakan hari ini, tetapi juga melalui manusia seperti apa yang dipersiapkan untuk melanjutkannya.

Dari pesantren, harapan itu dirawat. Dari pendidikan, kemampuan itu dibangun. Dan melalui pengabdian, nilai-nilai tersebut menemukan maknanya bagi Fakfak, Indonesia, dan generasi yang akan datang.
 

Writter & Editor: Den