Peluang Kerja Besar, Keterampilan Lokal Jadi Tantangan: Deby Dorong BLK Nasional Hadir di Mimika

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 29 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Peluang Kerja Besar, Keterampilan Lokal Jadi Tantangan: Deby Dorong BLK Nasional Hadir di Mimika

Peluang Kerja Besar, Keterampilan Lokal Jadi Tantangan: Deby Dorong BLK Nasional Hadir di Mimika

TIMIKA Kabarsulselindonesia.web.id  — Besarnya aktivitas ekonomi dan industri di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja lokal. Persoalan tersebut menjadi perhatian aktivis Papua Deby Santoso, yang mendorong pemerintah memperkuat fasilitas dan sistem pelatihan kerja melalui kehadiran BLK berstandar nasional di Mimika.29/08/2026

Menurut Deby, tantangan pembangunan Mimika saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan investasi, tetapi juga bagaimana masyarakat lokal memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia menilai keberadaan perusahaan besar dan berbagai sektor usaha di Mimika seharusnya dapat menjadi momentum untuk mempercepat peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, terutama masyarakat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan dan sertifikasi.

“Pertumbuhan industri harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal. Masyarakat harus dipersiapkan agar memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja,” ujar Deby.

Data Pencari Kerja Harus Menjadi Dasar Kebijakan

Deby menyoroti jumlah pencari kerja lokal yang disebut mencapai sekitar 14 ribu orang. Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut perlu diperbarui dan diverifikasi melalui data resmi pemerintah agar menjadi dasar kebijakan yang akurat.

Menurutnya, persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan membuka lowongan kerja. Pemerintah juga harus memastikan pencari kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan persyaratan perusahaan.

Karena itu, BLK yang memiliki fasilitas pelatihan modern, instruktur kompeten dan program berbasis kebutuhan industri dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menjembatani persoalan tersebut.

Pelatihan Harus Terhubung dengan Industri

Deby mengingatkan agar pembangunan BLK tidak berhenti pada pembangunan gedung.

Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan tersedianya peralatan praktik, instruktur, kurikulum berbasis kompetensi, sertifikasi, kerja sama dengan perusahaan, hingga mekanisme penempatan lulusan.

Bidang pelatihan juga perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata di Mimika, termasuk sektor konstruksi, mekanik, kelistrikan, pengelasan, alat berat, teknologi informasi, jasa, keselamatan kerja dan bidang lainnya sesuai kebutuhan pasar kerja.

Dengan pola tersebut, BLK tidak hanya menjadi tempat kursus, tetapi dapat berfungsi sebagai pusat peningkatan kompetensi yang menghubungkan pencari kerja, pemerintah, lembaga sertifikasi dan dunia usaha.

OAP Perlu Mendapat Ruang yang Adil

Dalam konteks pembangunan Papua, Deby juga menilai peningkatan keterampilan masyarakat Orang Asli Papua (OAP) perlu mendapat perhatian khusus.

Menurutnya, keberpihakan terhadap OAP tidak cukup hanya diwujudkan melalui kebijakan afirmasi, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas sehingga masyarakat memiliki kompetensi dan sertifikasi yang dapat digunakan untuk bersaing dalam dunia kerja.

Hal tersebut sejalan dengan kerangka Otonomi Khusus Papua, termasuk UU Nomor 2 Tahun 2021, serta ketentuan pelaksanaan Otsus dalam PP Nomor 106 Tahun 2021 dan PP Nomor 107 Tahun 2021.

Sementara dari sisi ketenagakerjaan, UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menempatkan pelatihan kerja sebagai instrumen untuk membekali, meningkatkan dan mengembangkan kompetensi tenaga kerja.

Pusat dan Daerah Diminta Duduk Bersama

Deby berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian terkait, lembaga pelatihan, dunia usaha dan pemangku kepentingan di Papua Tengah dapat membangun koordinasi yang lebih konkret.

Ia menilai persoalan fasilitas BLK yang sudah ada di Mimika juga perlu diselesaikan secara menyeluruh, termasuk aspek pengelolaan, sarana-prasarana dan status lahan apabila memang masih menjadi kendala.

“Jangan sampai fasilitas yang sudah ada tidak optimal. Yang diperlukan adalah keputusan dan kerja bersama agar pelatihan tenaga kerja benar-benar menghasilkan lulusan yang siap masuk dunia industri,” katanya.

Deby berharap Mimika ke depan tidak hanya dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan pertambangan dan ekonomi di Papua, tetapi juga sebagai daerah yang mampu mencetak tenaga kerja lokal terampil, bersertifikat dan kompetitif.

Menurutnya, investasi terbesar bagi Mimika bukan hanya pembangunan infrastruktur, melainkan memastikan generasi mudanya memiliki keterampilan untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

Editor: Bruce Elang