Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Pala Fakfak Menjadi Penyelamat: Transaksi Rp11,3 Miliar dan Retribusi Daerah Terus Melonjak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 01 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Pala Fakfak Menjadi Penyelamat: Transaksi Rp11,3 Miliar dan Retribusi Daerah Terus Melonjak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Ketika berbagai sektor ekonomi menghadapi tantangan dan ketidakpastian, pala kembali membuktikan dirinya sebagai "emas hijau" yang menjaga denyut perekonomian masyarakat Fakfak.

Rempah yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang Tanah Mbaham ini terus menunjukkan daya tahan dan kontribusinya bagi kehidupan ribuan keluarga pekebun. Sepanjang Mei 2026, perdagangan pala mencatat perputaran ekonomi mencapai Rp11,3 miliar, sementara penerimaan retribusi daerah menembus Rp60,22 juta, meningkat 18,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Di balik capaian tersebut tersimpan cerita tentang kerja keras para petani yang setiap hari menjaga kebun-kebun pala, menghadapi cuaca yang tidak menentu, fluktuasi harga pasar, hingga tantangan menjaga kualitas hasil panen. Namun di tengah berbagai keterbatasan itu, komoditas pala tetap berdiri kokoh sebagai salah satu sumber penghidupan utama masyarakat Fakfak.

Data Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menunjukkan hingga akhir Mei 2026, total penerimaan retribusi daerah dari perdagangan pala telah mencapai Rp301.352.650.

Khusus pada Mei, volume perdagangan pala mencapai 146,71 ton, terdiri atas 109,19 ton pala kulit, 15,46 ton pala ketok, dan 22,06 ton fuli pala yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia melalui jalur perdagangan antarpulau.

Aktivitas perdagangan tersebut menghasilkan perputaran ekonomi yang cukup besar di tingkat lokal. Nilai transaksi pala kulit diperkirakan mencapai Rp4,37 miliar, pala ketok Rp1,01 miliar, dan fuli pala mencapai Rp5,96 miliar. Secara keseluruhan, nilai transaksi antara petani dan pelaku usaha selama Mei mencapai sekitar Rp11,328 miliar.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T mengatakan peningkatan nilai perdagangan dan penerimaan retribusi tidak terlepas dari semakin baiknya kualitas pala yang dihasilkan oleh para pekebun.

Menurutnya, kesadaran petani dan pelaku usaha terhadap pentingnya standar mutu kini semakin meningkat. Proses panen yang lebih baik, pengeringan yang sesuai standar, sortasi yang lebih ketat, hingga tata niaga yang semakin tertata menjadi faktor yang ikut mendorong meningkatnya kepercayaan pasar terhadap pala Fakfak.

"Kualitas dan harga adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika mutu produk meningkat, maka kepercayaan pasar juga meningkat. Dampaknya adalah harga yang lebih baik bagi petani dan pelaku usaha," ujar Widhi.

Ia menilai, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pala Fakfak tidak lagi hanya mengandalkan reputasi sejarah sebagai daerah penghasil rempah, tetapi juga mulai membangun kekuatan baru melalui peningkatan kualitas produk yang mampu bersaing di pasar.

Meski demikian, Widhi mengingatkan bahwa keberhasilan perdagangan pala harus dibangun di atas hubungan kemitraan yang sehat antara pekebun dan pelaku usaha.

Menurutnya, petani berkewajiban menghasilkan pala berkualitas sesuai kebutuhan pasar, sementara pelaku usaha harus memberikan penilaian mutu yang objektif dan harga yang adil.

"Mutu yang baik harus dihargai dengan harga yang baik. Ketika petani memperoleh nilai yang layak atas hasil kerjanya, mereka akan semakin terdorong untuk meningkatkan kualitas produksi. Inilah yang akan menciptakan siklus ekonomi yang sehat dan berkelanjutan," katanya.

Widhi juga menyampaikan apresiasi kepada para pedagang grosir antarpulau dan seluruh pelaku usaha yang selama ini menjadi penghubung antara pala Fakfak dengan pasar yang lebih luas.

Menurutnya, kontribusi mereka bukan hanya membuka akses pemasaran bagi petani, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan daerah melalui pembayaran retribusi secara tertib.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah, capaian sektor pala menjadi kabar baik yang memberi harapan. Rempah yang pernah membawa nama Fakfak dikenal dunia sejak masa perdagangan nusantara itu kini kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai penggerak ekonomi rakyat.

Bagi ribuan keluarga petani di kampung-kampung penghasil pala, meningkatnya kualitas hasil panen dan membaiknya harga pasar bukan sekadar statistik ekonomi. Di balik angka transaksi miliaran rupiah itu terdapat harapan akan pendidikan anak yang lebih baik, kebutuhan keluarga yang terpenuhi, serta masa depan yang lebih menjanjikan.

Karena itu, ketika angka retribusi daerah terus bertumbuh dan transaksi perdagangan pala semakin meningkat, yang sesungguhnya sedang tumbuh bukan hanya nilai ekonomi sebuah komoditas, melainkan juga optimisme masyarakat Fakfak bahwa warisan rempah leluhur masih mampu menjadi penopang kesejahteraan generasi hari ini dan masa depan.

 

Writter & Editor : Den